Health & Diet
Cegah Bunuh Diri Pada Ibu Baru

10 Oct 2019

Foto: unspalash

Ramainya bahasan tentang kesehatan jiwa terkait film Joker yang baru diputar di bioskop, terasa tepat sebagai pengantar Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2019. Tahun ini tema yang diangkat oleh badan kesehatan dunia WHO adalah Promoting Mental Health & Suicide Prevention. Karena seperti penyakit fisik, penyakit mental/jiwa pun bisa berujung kematian.
 
Menurut sebuah penelitian yang dimuat di Journal of the American Medical Association, bunuh diri menjadi penyebab kedua terbesar kematian ibu setelah melahirkan. Dua puluh persen kematian setelah melahirkan adalah karena bunuh diri. 

Sekitar setengah dari wanita yang mengalami postpartum depression adalah pengalaman pertama mereka mengalami depresi. Disebutkan, satu dari tujuh wanita di Amerika Serikat mengalami postpartum depression, tapi perawatan depresi pada ibu baru masih sangat rendah.

Salah satu kendala ibu mendapat perawatan yang tepat adalah ketidaktahuan, baik sang ibu maupun orang di sekitarnya tidak menyadari jika mereka mengalami postpartum depression. Karena itu sangat penting bagi orang sekitarnya untuk mengetahui gejala. "Perhatikan 3 P selalu, pikiran, perasaan, dan perilaku. Pikiran yang negatif pesimis atau tidak seperti biasa, merasa gagal sebagai ibu, merasa tidak pantas jadi ibu, takut salah mendidik, pikiran-pikiran automatis yang salah dan tidak terbukti," jelas Dr. dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, spesialis kedokteran jiwa.

Sementara menilik dari perasaan, bisa jadi sang ibu merasa sedih, kesal, dan lain sebagainya. Melihat dari perilaku,  ada kecenderungan malas merawat diri, tidak mau memegang bayi, dan lain-lain. 

Jika di Amerika saja masih rendah penanganannya, di Indonesia sama saja. Tak heran jika kita kerap mendengar atau membaca berita tentang seorang ibu yang melakukan bunuh diri bersama atau tanpa bayi yang baru ia lahirkan. Miris.

Untuk mencegah bunuh diri akibat postpartum depression, diperlukan usaha bersama dari sang ibu dan orang sekitarnya, terutama pasangan. Menurut dr. Nova, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sang ibu. Akan sangat besar pengaruhnya jika suami menempatkan diri diri untuk memahami kondisi ibu baru dan ikut meringankan beban, berbagi tugas. Serta selalu menggunakan kata-kata yang suportif dan positif.  

Mengikuti group-group ibu baru, dimana kita bisa saling berbagi dan belajar tentang mengurus bayi menurut nya juga sebuah usaha yang baik.  Namun, saat Anda juga tidak paham pada apa yang Anda rasakan, mencari pertolongan dari ahli, psikolog dan psikiater adalah langkah yang bijak.

"Konseling adalah langkah yang sangat bagus. Dengan begitu kita bisa membahas dengan profesional tentang berbagai ketidaknyamanan, dari perubahan bentuk tubuh, mood yang tidak nyaman, keraguan sebagai ibu baru, dan lain-lain," ujar dr. Nova sambil berharap tersedianya layanan telepon darurat bagi mereka yang membutuhkan konseling.

Dengan begitu, diharapkan kasus bunuh diri ibu baru tak  perlu terjadi. (f)

Baca Juga:

Latar Belakang Joker Yang Menimbulkan Kontroversi
Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Tingkat Depresi pada Anak
Trauma Korban Pelecehan Seksual


Topic

#harikesehatanjiwa, #bunuhdiri, #postpartumdepression

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?