Health & Diet
4 Informasi Hoax Seputar Kesehatan

8 Mar 2017


Foto: 123RF

Seperti tak terbendung, berbagai informasi seputar kesehatan, mulai dari berita tentang virus berbahaya, hingga cara pengobatan tersebar lewat chat group dan media sosial. Gawatnya, tak sedikit dari berita tersebut adalah hoax dan justru merugikan. Karenanya, jangan telan bulat-bulat info yang Anda baca sebelum mencari tahu kebenarannya, seperti dijelaskan oleh para ahli  berikut ini.
 
Hoax 1:
Pemberian vaksin HPV pada anak usia SD menyebabkan menopause dini.
 
Faktanya:
Isu tentang kanker serviks (leher rahim) menghangat setelah Pemda DKI Jakarta membuat gerakan vaksin HPV untuk anak-anak sekolah dasar. Vaksin ini sebenarnya sudah ada sekitar 15 tahun lalu, bahkan di beberapa negara sudah diberikan secara gratis. Menurut para peneliti  di dunia, penemuan vaksin ini sebagai anugerah terindah untuk para wanita. Karena, kanker serviks menjadi satu-satunya kanker di dunia yang dapat dicegah lewat vaksin. Sayangnya, kanker serviks masih menduduki peringkat kedua sebagai kanker paling mematikan bagi wanita setelah kanker payudara.

Menurut dr. Yusfa Rasjid dari RSIA YPK Mandiri, pemberian vaksin serviks kepada anak usia sekolah dasar  tidak akan berdampak buruk, apalagi menyebabkan menapouse dini, seperti berita yang banyak beredar. Vaksin serviks dinilai aman karena yang disuntikkan ke dalam tubuh adalah protein yang terbentuk dari virus macromolecular yang menyebabkan antigen dalam tubuh. “Jadi, sebenarnya sangat aman,” jelas dr. Yusfa.

Pemberian vaksin serviks pun dapat dilakukan sejak dini, yaitu pada usia 9 tahun. Tujuannya, agar kekebalan tubuh terhadap virus HPV yang menjadi penyebab kanker serviks terbentuk sejak dini. Virus HPV hanya bisa ditularkan lewat hubungan seksual. Namun, untuk memberikan vaksin serviks, menurut dr. Yusfa, tidak perlu menunggu seorang wanita aktif secara seksual. “Waktu kapan pertama kali diberikan vaksin HPV, tidak masalah. Sejak usia dini lebih baik agar tubuh segera terlindungi. Cukup sekali vaksin serviks, tubuh akan terlindungi dan seumur hidup tidak perlu vaksin ulang karena antibodi tubuh terhadap virus sudah terbentuk,” katanya.

Pemberian vaksin ini dilakukan 3 tahap dalam kurun waktu 6-7 bulan. Vaksin ini tidak memengaruhi hormon wanita sehingga tidak berhubungan dengan menopause dini. Menopause terjadi karena faktor usia. Vaksin serviks bisa diberikan kepada wanita hingga usia 45 tahun.
 
Hoax 2:
Penyebaran HIV lewat makanan kemasan kaleng impor, karena para pekerja yang menderita HIV memasukkan darah mereka ke dalam kemasan makanan tersebut.
 
Faktanya:
Selain tidak masuk akal, menurut dr. Adityo Susilo, SpPD-KPTI, FINASIM, Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, FKUI-RSCM, cara tersebut diklaim tidak bisa menularkan virus HIV kepada orang lain. “HIV itu virus yang fragile. Penularannya hanya bisa dilakukan lewat direct contact blood to blood atau lewat cairan seksual,” jelas dr. Adit.

Sebagai virus yang rentan, HIV tidak mampu bertahan hidup begitu keluar dari tubuh manusia (host). Di luar udara bebas atau udara kering, HIV hanya bisa bertahan dalam hitungan menit. Jadi logikanya, jika virus tersebut dimasukkan ke dalam kaleng makanan, virus tersebut akan segera mati. Selain itu, makanan kalengan akan mengalami proses sterilisasi, baik lewat pemanasan atau penambahan zat kimia tertentu. Dalam kondisi tersebut, bisa dipastikan HIV akan mati.

Perlu diingat, HIV hanya bisa bertahan hidup saat berada di dalam tubuh atau host. Jadi, yang perlu dihindari agar tidak tertular virus HIV adalah perilaku-perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV, seperti berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan alat pelindung, seperti kondom, dan penggunaan narkotika suntik yang bisa menularkan HIV ketika berganti-ganti jarum suntik dengan orang yang terkena HIV. 
 
Hoax 3:
Virus berbahaya yang menyerang anak-anak yang bermain di tempat mandi bola. Virus ini menyerang tulang belakang hingga ke otak, sehingga menyebabkan kelumpuhan.
 
Faktanya:
Orang tua memang harus memperhatikan kondisi tempat anak-anaknya bermain. Logikanya, menurut dr. Adit, tempat permainan anak seperti mandi bola memang perlu diperhatikan kebersihannya. Tempat tersebut dikunjungi banyak anak dengan berbagai kondisi, dan belum tentu dibersihkan  tiap hari.

Pada tempat yang tidak mendapatkan perawatan dengan baik, kuman dan bakteri tentu akan lebih mudah berkembang, sehingga anak-anak yang bermain di tempat tersebut berisiko tinggi terpapar penyakit. “Memang ada risiko  terjadinya infeksi karena faktor kebersihan yang tidak baik. Virus dan bakterinya bisa apa saja, tapi yang lebih rentan itu berhubungan dengan pencernaan, seperti   diare atau muntah-muntah,” jelas dr. Adit.

Namun, terkait dengan virus meningitis, dr. Adit melihat hal ini mungkin terjadi jika anak tersebut memang sedang dalam masa inkubasi meningitis. Jadi, ketika ia dinyatakan menderita meningitis, lalu dikaitkan dengan tempatnya bermain, walaupun  sebenarnya itu adalah dua kasus yang berbeda.
Penyakit meningitis yang disebabkan oleh virus meningitis memang bisa menyebabkan kelumpuhan. Meningitis juga bisa disebabkan oleh bakteri, dan ini jauh lebih berbahaya. Virus ini bisa menular dari udara atau kontak langsung dengan penderita meningitis dan bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di kolam bola.
 
Hoax 4:
Menusuk jari dengan jarum adalah cara pertolongan pertama pada penderita stroke.
 
Faktanya:
Tusuk jarum dianggap efektif untuk pertolongan pertama pada penderita stroke, karena dengan membuat tusukan pada jari tangan seakan membuka sumbatan yang dianggap menjadi masalah pada penderita stroke. Padahal, menurut dr. Adit, tindakan ini salah besar dan justru bisa berbahaya bagi penderita.

Stroke biasanya disebabkan oleh adanya penyumbatan di pembuluh darah otak. Padahal, pembuluh darah di otak dengan pembuluh darah di tangan letaknya berjauhan. “Dengan kondisi tersebut, rasanya membuat tusukan pada jari tangan tidak akan menyelesaikan masalah. Justru yang ditakutkan adalah kondisi pasien yang  makin berisiko,” jelas dr. Adit.

Sementara itu, menurut dr. Adit, seseorang yang mendapat serangan stroke memiliki golden period, masa krisis bagi pasien untuk segera mendapat penanganan tepat yang dilakukan oleh profesional dengan standar protokol untuk memperbesar peluang kesembuhan. Dengan tindakan tusuk jarum di tangan dikhawatirkan pasien tidak segera dibawa  ke rumah sakit dan justru melewati golden period-nya.

Selain itu, melakukan penusukan jari pada pasien stroke hanya akan menambah masalah baru, seperti membuat luka yang menyebabkan infeksi akibat penggunaan jarum yang tidak steril. Ingat, tiap detik yang dilalui penderita stroke sangat penting. Jadi, langkah terbaik untuk penanganannya adalah dengan membawa pasien langsung ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat. (f)
 
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#hoax, #hoaxkesehatan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?