
Foto: Dok. Samsung
Menurut pernyataan resmi Samsung, ada kesalahan produksi yang terjadi pada baterai Galaxy Note 7 yang membuat katoda dan anoda terhubung satu sama lain. Hal itu menyebabkan terjadinya hubungan pendek yang membuat baterai menjadi kelebihan panas dan bisa meledak.
Sehari-hari, kita kerap menggunakan pengisi ulang daya dengan fitur fast charging yang bisa mengisi daya baterai hingga 60% dalam waktu 30 menit. Siapa tak senang jika bisa mengisi ulang daya ponsel lebih cepat, kan? Apalagi, sekarang nyaris semua orang tidak bisa lepas dari gawainya. Namun, kita melupakan sesuatu. Di balik semua yang instan, ada bahaya.
Regulator pengisi ulang daya baterai akan mendorong aliran daya lebih cepat hingga mencapai persen tertentu, baru setelah itu aliran daya akan berkurang untuk mencegah baterai rusak. Mendorong aliran daya lebih banyak juga berarti menghasilkan panas lebih banyak dan berpotensi membahayakan dan mengurangi umur baterai. Meski para produsen baterai telah mengantisipasinya dengan memakai bahan yang lebih tebal dan kuat.
Paten baterai lithium-ion diperkenalkan oleh Sony sejak 1991 dan telah menjadi pilihan utama untuk daya gawai portable, seperti ponsel, tablet, hingga drone. Dua dekade berlalu, dan para teknisi terus berusaha meningkatkan fitur keamanan baterai ini. Yang patut direnungkan, sudah sejauh mana upaya pengembangan produk untuk sumber daya alternatif?
Kasus Galaxy Note 7 dan sejumlah kasus serupa yang menimpa gawai lainnya di dunia mengingatkan kita. Dengan terbatasnya kemampuan baterai lithium-ion dan kemungkinan bahaya jika ada salah produksi, apakah jenis baterai—yang diselewengkan dalam meme yang beredar di dunia maya sebagai granat mini itu-- akan mampu bertahan dan terus dipakai di masa depan? (f)
Baca juga:
Trik Cerdas Mengisi Baterai Smartphone Agar Tetap Optimal
Topic
#samsung




