Food Trend
Di Jakarta, Selamat Datang di Era Speakeasy Bar!

6 Jan 2026

Di sebuah sudut speakeasy bar. Foto ilustrasi: Unsplash, Canva
 

Speakeasy bar bukan sekadar tempat minum. Berbeda dengan night club yang identik dengan musik keras, kerumunan, dan suasana yang terbuka, speakeasy bar (disingkat “speakaeasy”) menawarkan sebaliknya.
 

Gelap, tersembunyi, eksklusif

Kota-kota metropolis seperti New York, London, dan Singapura telah lama merasakan tren ini. 

Di speakeasy, tersimpan sensasi eskapisme dan eksklusivitas di tengah hiruk pikuk metropolitan. Keberadaannya yang ‘rahasia’ menciptakan rasa kepemilikan dan insider knowledge yang sangat dihargai kaum urban.

Di Jakarta, grup F&B sebesar Union Group menempatkan The Bottom Parlour di basement Terra, sebuah restoran sehat di Jalan Suryo, Jakarta Selatan. Sementara, Bar Kotak bersembunyi di balik eksklusivitas klub The Bimasena, The Dharmawangsa Jakarta.

Dalam artikel Bar Design in the Post-Speakeasy Era terbitan media Punch (2015), tertulis, “In New York, you’re in a city of nine million and you knew where the unmarked bar was that has only a few seats. You’re now cooler than the nine million people.”

Sejalan dengan judulnya, penulis menganalisis pergeseran tren setelah fenomena speakeasy ada di sana selama 15 tahun terakhir. Di tahun 1999, Milk & Honey di Lower East Side, NY, begitu memopulerkan konsep ini. Pengunjung diajak menggunakan password sebagai akses masuk yang playful.

Juga layak disinggung adalah Angel’s Share, yang pada tahun 1993 merupakan Japanese bar hits di lantai atas sebuah izakaya di East Village, NY. Signage-nya malu-malu.

Gimmick seperti pintu berkamuflase rak buku atau entrance berkedok phone booth masih ditemui di tengah kedewasaan tren yang makin berkembang di kota-kota besar kita.

Entrance tersembunyi mengingatkan kita pada gerakan hidden bar yang lahir di era Prohibition di AS, buah dari pelarangan peredaran minuman beralkohol di tahun 1919. Konon, kata “speakeasy” berasal dari permintaan bartender agar tamu melakukan pemesanan secara berbisik. “Speak easy....
 

Traveling demi sebuah bar?

Di Nutmeg & Clove, Singapura, Femina menemui buku menunya yang berpanjang-lebar bak storybook. Konseptor minumannya, Shelley Tai, punya Soul Nourishing, campuran Roku Gin dengan bijo lotus, bunga lily, red dates, dan goji berry, mengapresiasi eksistensi toko obat Cina di kota tersebut.

Para pengunjung speakeasy senang menelusuri informasi bahan, proses, dan inspirasi di balik koktail yang terhidang. Nilai-nilai ‘quality over quantity’ menimbulkan kerelaan membayar lebih untuk koktail yang disertai cerita proses.

Di Jakarta, harga rata-rata segelas koktail adalah Rp170.000++ - Rp190.000++

Cita rasa koktail menjadi kunci. Tahun ini, Hong Kong mencatatkan Bar Leone sebagai juara satu di World’s 50 Best Bars 2025. Tak mengherankan menemui penikmat koktail dari Jakarta di sudut bar ini.

Daftar bar-bar bersemat pemenang award adalah bucket list masa kini. Bila belum kesampaian traveling, tak perlu menunggu lama. Pop-up Bee's Knees, bar peraih award sepanjang 2020-2025 yang jauh-jauh datang dari Kyoto dipenuhi penggemar saat digelar di Between The Sips, Jakarta.
 

Evolusi budaya konsumsi kaum urban

Di banyak kesempatan di Jakarta, Femina menemui banyak tamu perempuan yang datang seorang diri, selepas ngantor. TikTok ‘memandu’ mereka ke sini, menikmati minuman, tapi bukan di coffee shop.

Duduk di meja komunal, di ruangan dengan kapasitas terbatas, dengan musik latar yang ramah di telinga, atmosfer speakeasy mendorong percakapan. Tempo musik biasanya baru mengeskalasi jelang larut malam.

Sudut-sudut bar ini lokasi networking bisnis yang lebih santai atau mengobrol mendalam dengan teman, sesuatu yang kian langka di era digital. Inilah alasan mengapa kaum urban, terutama gen-Z dan milenial, memilih speakeasy. Setelah pandemi, ada kerinduan kuat untuk interaksi sosial yang lebih meaningful.

Desiree Jane Silva, misalnya, mendirikan Sago House di Singapura setelah sukses dengan bar kecil-kecilannya di lantai tiga ruko peranakan selama pandemi. Wajah lama di bidang distribusi minuman distilasi ini salah satu dari banyak mixologist perempuan ternama di kota itu.

Kepada Indra Kantono, Co-Founder Jigger and Pony (Singapura) dan Cosmo Pony (Jakarta), Femina pernah bertanya mengenai alasan di balik banyaknya mixologist perempuan di Singapura. Kondusifnya keamanan kota di malam hari dinilainya membuat perempuan merasa nyaman menekuni profesi dunia malam.

Kondisi kota yang relatif aman di malam hari juga membuat anak muda leluasa bar-hopping dengan berjalan kaki di kawasan Braga, Bandung. Mau mencoba?

Rute bisa dimulai dari Pati dan Nyonya Manis Drinking Bar, lalu ditutup dengan RIRI di Hotel Vasaka Maison.

Jakarta di pergantian tahun 2025 diisi dengan berita keseruan bar-hopping tiga speakeasy di kawasan Blok M: Osmo, HATS Bar, dan The Golden Tooth. Harga bundling di aktivasi ini jadi kesempatan memanjakan.

Speakeasy telah menjadi simbol sophisticated drinking culture. Minuman yang diracik saksama, bisa disesap seawal pukul lima sore di tengah Happy Hour, mengikis stereotip bahwa minuman beralkohol identik dengan mabuk-mabukan.

Tren ini sedang melalui fase mekarnya di kota-kota besar di Indonesia, sebuah dinamika yang mengisi ‘bensin’ industri gaya hidup. Sudah punya daftar favorit di kotamu? (f)

Baca juga: 
6 Makanan Viral 2025, Pengaruh Korea Paling Kuat!
Things Taken for Granted, Tema di Season Terbaru HATS Bar
Menikmati Kopi dan Comfort Food di Nebbrs, Hidden Gem Baru di Jakarta Selatan


Trifitria Nuragustina


Topic

#kulinerjaksel, #speakeasyBarJakarta, #speakeasyBarBandung

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?