Food Trend
Cerita Kue Kering yang Renyah

21 Jun 2016


Foto: Dok. Femina Group

Jelang Lebaran, jajaran stoples berisi cookies aneka warna dan rasa mulai menghiasi sejumlah toko kue dan swalayan. Hari raya seolah memang identik dengan cookies. Selain memburu ketupat dan teman-temannya, kue kering yang disuguhkan di ruang tamu selalu jadi incaran. Kaastengel, putri salju, nastar, choco chip cookies, hmmm… semuanya enak! (Baca juga: 10 Tip Sukses Membuat Kue Kering)

Cookies punya banyak penggemar, dari anak-anak hingga dewasa, tak peduli pria atau wanita. Di pasaran, cookies punya banyak tipe. Masing-masing punya keunikan tersendiri, baik dalam penampilan, cita rasa, maupun proses pembuatan. Bahkan, ada juga cookies yang sengaja dibuat untuk konsumen dengan tipe tertentu, misalnya cookies untuk diet.
 
KISAH COOKIES
Konon, cookies sudah dibuat sejak zaman Romawi kuno. Pada masa itu bangsa Romawi mencari cara  lain untuk menikmati gandum. Alhasil, gandum diolah bersama air menjadi adonan padat, yang dipanggang hingga kering dan dinikmati bersama madu. Itulah cikal bakal terbentuknya cookies.

Di abad ke-7 M, gula mulai menjadi bagian dari adonan cookies. Konon, bangsa Persia yang memproduksi cookies pertama kali dengan campuran gula, tepung gandum, dan air. Saat Perang Salib, resep dasar cookies beserta gula dan rempah-rempah khas Timur Tengah, dibawa oleh bangsa Persia, Arab, dan Timur Tengah lainnya ke wilayah Eropa, terutama Spanyol.

Di sini, bahan dasar cookies tidak lagi hanya gula, tepung gandum, dan air, tapi dimodifikasi dengan bahan lain, yaitu telur, mentega, dan beragam rempah, misalnya kayu manis dan cokelat. Bahkan, tepung terigu dan bahan pengembang (soda kue) mulai digunakan.

Perkembangan industri bakery yang pesat di Eropa, tak urung membuat kawasan ini punya banyak cara untuk membuat cookies lebih modern. Jika sebelumnya cookies hanya menjadi penganan kecil bangsawan, sejak abad ke-14, cookies mulai dinikmati berbagai kalangan.

Koekje (bolu kering berukuran kecil) di Belanda, menjadi cookies papan atas kala itu. Karena karakteristik cookies yang dibuat dari adonan bolu ini tahan berbulan-bulan, maka camilan ini pun menjadi favorit para pelaut Eropa pada saat mereka melaut mencari ‘dunia baru’, sekitar abad ke-17 dan ke-18.

Cookies yang dibawa pelaut ini cukup menginspirasi negara-negara di belahan dunia lainnya, untuk membuat berbagai jenis cookies dengan keunikan masing-masing. Termasuk di antaranya classic chocolate chip cookies, yang diklaim sebagai cookies pertama yang dibuat bukan dari adonan cake, oleh seorang baker asal Massachusetts, Amerika, tahun 1937. Seiring dengan berjalannya waktu dan migrasi penduduk dari satu tempat ke tempat lain, saat ini cookies bisa dinikmati oleh jutaan orang di dunia.
 
COOKIES VS BISKUIT
Apa, sih, bedanya cookies dengan biskuit? Di balik kemiripannya, ternyata keduanya punya ciri tersendiri. Kalau mau dirunut, Inggris menjadi negara pertama yang memproduksi biskuit secara massal, yaitu pada masa Revolusi Industri di awal abad ke-19.

Berbeda dari cookies yang lebih sering dibuat secara manual dan rumahan, biskuit lebih sering diproduksi secara massal. Cookies juga bisa dikatakan lebih membutuhkan kreativitas tangan dibandingkan biskuit. Tampilan biskuit yang cenderung flat dan seragam membuatnya lebih mudah diaplikasikan dengan mesin di pabrik secara besar-besaran.

Walau sama-sama dibuat dari campuran tepung terigu, gula, telur, dan mentega, adonan biskuit mengandung gula dan lemak (mentega) yang lebih sedikit dibandingkan dengan cookies. Makanya, tekstur biskuit cenderung lebih keras dibandingkan cookies, dan jika dirasakan cookies  jauh lebih lembut, gurih, dan manis dibandingkan biskuit.

Tengok sejenak ke pasaran, biskuit biasanya dikemas dalam  kaleng atau plastik kedap udara. Contohnya biscotti, biskuit terkenal asal Italia yang dibuat dari potongan bolu yang dikeringkan. Menurut cerita, biscotti inilah yang menjadi cikal bakal munculnya beragam biskuit lainnya, seperti biskuit keping marrie, lady fingers, hingga wafer dan crackers. (f)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?