Food Story
Renyah Pedas Ayam Goreng Korea Yang Naik Daun Karena Drama

10 Mar 2020

Foto: pixabay

Ayam goreng tepung sesungguhnya sudah sangat biasa di Indonesia. Masyarakat pun mudah mendapatkannya di mana saja, dari jaringan resto hingga gerobak. Belakangan, popularitas drama Korea ternyata membuat pasar ayam goreng makin ramai. 

Pasalnya banyak drama Korea menampilkan adegan makan ayam, seperti di drama Crash Landing on You yang memikat jutaan penonton, termasuk di Indonesia. Atau film yang menjadikan resto ayam goreng sebagai tempat penyamaran, Extreme Jobs.  Selesai nonton, tak sedikit yang jadi ingin makan KFC alias Korean-style Fried Chicken

Ayam goreng Korea agak berbeda dengan ayam goreng tepung ala Amerika, yang sudah lebih dulu akrab dengan masyarakat Indonesia. Sama-sama berbalut tepung, ayam goreng Korea biasanya digoreng tidak langsung sampai sangat matang, tapi digoreng dengan minyak banyak (deep fried) dalam dua tahap. Hasilnya, bagian luarnya sangat garing dan renyah, sementara bagian dalamnya tetap empuk.

Biasanya ada dua macam ayam goreng, yang biasa dan yang dibalut lagi dengan saus manis pedas dan ditaburi biji wijen. Disajikan dalam porsi besar, tanpa nasi, sehingga kerap dianggap makanan selingan. Masyarakat Korea biasanya menyantapnya bersama segelas bir dingin bersama teman-teman, sehingga ada istilah chimaek, gabungan kata chicken dan maekju (bir dalam bahasa Korea).

 
Foto: shutterstock

Dikutip dari koreaherald, sebelum tahun 1960 ayam biasanya hanya diolah secara utuh dan direbus bersama beras dan ginseng, hingga kemudian oven listrik digunakan untuk memanggang ayam utuh oleh sebuah resto di Seoul.  Pertumbuhan ekonomi, perternakan ayam, dan minyak goreng pada tahun 1970-an melahirkan ayam goreng jadi menu yang disukai masyarakat.

Resto ayam goreng moden pertama, Lims Chicken, milik Shinsegae Department Store, berdiri tahun 1977. Kedatangan Kentucky Fried Chicken di Korea 1984 membuat popularitas ayam goreng makin meningkat. Sementara itu, sebuah resto, Pelicana Chicken, memperkenalkan ayam goreng berbalut saus manis pedas yang kini dikenal dengan nam yangnyeom. 

Industri ayam goreng terus berkembang. Terutama saat muncul ide layanan antar pesan ayam langsung ke rumah, saat krisis ekonomi melanda dunia, termasuk Korea Selatan, tahun 1997/1998.

Menurut Statistics Korea dan riset KB Financial Group Economic Research Institute, hingga Februari 2019 ada sekitar 87.000 kedai, lebih dari 400 merek yang menyajikan ayam goreng di Korea Selatan. Dengan jumlah populasi masyarakat sekitar 51 juta jiwa, Korea Selatan jadi medan persaingan rasa ayam goreng yang ketat. Berbagai merek pun mencoba memberikan sesuatu yang berbeda, seperti memberi keju atau rasa pedas yang luar biasa. 

Seiring gelombang budaya Korea Selatan di Indonesia, resto Korea pun bermunculan di Jakarta. Kyochon yang menyajikan ayam goreng adalah salah satu merek dari Korea Selatan yang memiliki banyak cabang di pusat perbelanjaan di sini. Ingin coba? Beberapa penggemar ayam goreng Korea di Jakarta merekomendasikan, 88 Korean Kitchen di daerah Senayan, Jakarta Selatan dan Chir Chir Fusion Chicken Factory di PIK Jakarta Utara. Atau Anda ingin mencoba membuat sendiri? Coba resep dari Femina. (f)

Baca Juga:

Gelato dan Sorbet Rasa Baru Untuk Valentine
Invasi Donat Taiwan
Kimchi, Dari Simpanan Jadi Makanan Wajib


Topic

#foodstory, #ayamgoreng, #koreancorner

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?