Food Story
Petani Ingin Cokelat Lokal Go International

19 Mar 2020


Petani cokelat, I Gede Oka Harta Adinata. (Foto: TN)

Petani cokelat, I Gede Oka Harta Adinata (25), percaya masa depan cokelat lokal turut berada di tangannya. Ia penyedia komoditas cokelat, namun juga penghasil fine cocoa.

Sebagai penyedia komoditas cokelat, hasil kebunnya dicampur dengan berbagai cokelat dari negara lain dan dijual sebagai chocolate blend. Ia tak mengetahui dimana cokelatnya berujung. Ia pun tak mengetahui apakah nama 'BALI' dimuat pada kemasan sang produsen dan posisinya di mata penikmat. 

Di lain sisi, bermitra dengan merek lokal yang membangun branding terhadap cokelat Bali dan berani menampilkan kata 'BALI' pada kemasan cokelat single origin, memberinya kebanggaan tersendiri. 
 
Bersama sang ibu, Ni Wayan Ade Susani (46), alumnus S1 Pertanian dan penggelut pascasarjana Teknologi Pangan ini berhadapan dengan Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima Zorreguieta Cerruti dari Belanda di Pipiltin Cocoa, Jakarta, untuk bercerita tentang perubahan cara pandang petani generasi kedua seperti dirinya.

Di kebun satu hektare milik keluarganya di Tabanan, segala prinsip pertanian yang baik dijalankan.
 
Bagimana perasaan Anda setelah bertemu Raja dan Ratu Belanda?  
I Gede: Ini pencapaian luar biasa dan bikin semangat bertani. Ratu bertanya sejak kapan kami mulai berkebun hingga ke urusan permodalan dalam menjalankan proses fermentasi. 


Saya gugup karena enggak punya banyak persiapan bertemu. Apalagi, Ratu Máxima kasi pertanyaan kritis, seperti pentingnya proses fermentasi cokelat sampai ada atau tidaknya harga beli yang berpihak ke kami.
 
 


Proses fermentasi makan waktu dan biaya. Makanya tak banyak petani melakukannya. Kenapa Anda memperjuangkan proses ini?
I Gede: Saya menyadari, sejak kami mempraktikkan proses yang bikin cokelat naik kelas, permintaan terhadap cokelat grade A meningkat. Proses fermentasi sangat menentukan dan Ratu bertanya perbedaan keuntungan sejak kami melakukan proses yang mengembangkan aroma dan rasa cokelat tersebut. 
 
Kami melakukan proses fermentasi sejak 2008. Saat itu Pipiltin Cocoa pertama kali datang meminta grade A.  

Ni Wayan: Awalnya sih kami enggak ngerti perlunya sortasi grade. 

 
Bagaimana karakter cokelat dari kebun Anda? 
I Gede: Kebun kami berada di Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, dengan rata-rata produksi 70 kg per bulan. Pakar menyebut cokelat Tabanan beraroma fruity dan fresh. Berkat proses fermentasi, karakter kakao masing-masing daerah bisa berbeda.
 
Ni Wayan: Di luar sana, kadang petani cuma asal berkebun saja. Mereka enggak serius karena enggak tahu kalau kebunnya punya arti.

Ratu Máxima, Raja Willem-Alexander, serta Ni Wayan dan I Gede.  (Foto: Dok. PIpiltin Cocoa)
 
 
Ratu Máxima juga bertanya harga jual?
I Gede: Iya. Nyatanya, Pipiltin Cocoa membeli biji cokelat kami di atas harga pasaran. Effort kami dihargai.

Ni Wayan: Kerja keras ini binaan Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, penyuluhan desa, hingga buyer. Kami lakukan peremajaan lahan, benerin mutu pasca panen, packaging yang enggak bikin cokelat lembab, sampai perbaikan organisasi. 


Boleh sebutkan tiga harapan Anda terhadap cokelat Indonesia?
I Gede: Sebenarnya, harapan satu saja, agar cokelat lokal go international! Ini pengubah nilai ekonomi dan memacu petani mengembangkan biji kakao yang lebih bersaing.  
 
Kami memasok ke tiga brand lokal yang bangga menyertakan origin pada kemasannya, antara lain Pipiltin Cocoa. Melalui langkah ekspor brand ini, publik di Jepang sudah bisa menikmati cokelat Tabanan yang asal perkebunannya tertulis dengan jelas pada kemasan. (f)


Baca juga:
Ratu Maxima Belanda Suka Cokelat Indonesia?
Raja dan Ratu Belanda Ngemil Cokelat di Jakarta
Hans Christian Menuju Pelabuhan Baru
Tomasso Mengenang Florence

 
 
 

 

Trifitria Nuragustina


Topic

#Pipiltincococoa, #chocolate, #sustainability

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?