Food Story
Chef Patrese Vito Siap Berangkat ke Bocuse d'Or, Olimpiadenya Masak di Prancis

9 Aug 2021


Chef Patrese Vito. (dok.Femina)

Sudah membaca Femina edisi Agustus yang memuat resep serba tempe?

Chef Degan Septoadji menampilkannya dalam masakan sehari-hari, sesuai kekuatan dirinya dalam masakan Nusantara. Sementara Chef Patrese Vito menguliknya menjadi menu bergaya lifestyle restaurant.

Semua resep mudah dipraktikkan, menonjolkan kenikmatan tempe yang bercita rasa nutty dan gurih. Bahkan Vito menjadikannya elemen dalam dessert, resep koleksi Botanica Dining, tempatnya kini bekerja.

Vito yang berbakat adalah 'lulusan' resto luks Robuchon au Dôme di Makau dan sempat menjadi Head Chef di The View, Fairmont Jakarta, menggantikan chef hebat Hans Christian

Vito memiliki awalan baik di industri. Ia dulunya asuhan chef Mandif Warokka di resto bergengsi Teatro Gastroteque, Bali. 

Siapa sangka, kini dirinya dipertemukan kembali dengan 'guru dapurnya' dalam kesibukan Indonesia bersiap menuju Bocuse d'Or di Lyon, Prancis.

Kompetisi bertrofi emas ini besutan chef legendaris Paul Bocuse. Di kejuaraan masak yang gengsinya setara Olimpiade, Chef Mandif dan Lutfi Nugraha akan mewakili Indonesia, bersaing dengan 23 negara. Lutfi yang baru berusia 21 tahun memenuhi syarat perlombaan yang mengharuskan seorang commis (asisten) berusia di bawah 22 tahun untuk berduet bersama chef senior. 

"Terlibat di Bocuse d'Or salah satu mimpi besar saya. Saya sangat bersyukur Chef Mandif memberi kesempatan terjun langsung dalam persiapan ini," ujar Vito. 

Bocuse d'Or tak hanya soal memasak. Seberapa solid tim yang mendukung kelancaran dua chef ini menjadi krusial.

"Dari memahami teknis lomba hingga urusan logistik 10 orang yang berangkat," tukas Vito lagi. Sebagai Team Manager, ia 'seksi sibuk' dalam latihan hingga akhir kompetisi.


Dok.Bocuse d'Or Indonesia.

Tema kategori tahun ini tribut untuk segala hal yang perlu menjadi perhatian awak di industri. Tantangannya, memasak dua hidangan di depan lebih dari 20 juri kaliber dunia. 

Pertama, “The Platter”, tantangan meracik daging sapi yang diternak dengan menganut prinsip animal welfare. 

Merefleksi situasi industri di tengah pandemi, “Take Away” menjadi tema hidangan kedua. 

Para chef diuji mewujudkan starter, main course, dan dessert dalam satu paket. Bahan utamanya tomat yang sedang musim di Prancis. Wadah takeaway perlu dibuat dari bahan natural, memanfaatkan reusable materials seperti misalnya sisa bahan memasak. 

Coach tahun ini adalah Chris SalansChef-Owner Mozaic Restaurant GastronomiqueSementara Gilles MarxHead Chef Amuz Gourmet, berperan sebagai President dari Bocuse d’Or - Indonesia Academy. 

Ini momentum istimewa karena sudah 10 tahun lalu Indonesia absen dalam pertandingan. Terakhir, Indonesia diwakili oleh Chef Guruh Nugraha dan Chef Risky Hidayah, di bawah coach Stefu Santoso di 2010. 

Dana menjadi alasan besar tersendatnya keterlibatan Indonesia. Dari bahan baku, alat, SDM pendukung, hingga operasional membutuhkan uang yang tak sedikit.

Menurut Vito, kedua chef perwakilan ini sangat excited. Walau banyak persiapan terhambat karena acara ini belum familier bagi tim, Chef Mandif dan Chef Lutfi yakini Indonesia akan membuat sejarah di Lyon. 

Tim Indonesia kini tengah berupaya menjaring dukungan melalui kitabisa.com. Menyadari bahwa para chef membawa mata dunia ke Indonesia, tak heran Kemenparekraf turut lekas menyertakan dukungan. TIME International, filantropis kuliner Robert Manan, Thermomix Indonesia, hingga Elle & Vire juga bergotong-royong membantu operasional. 

Menyenangkan menanti bagaimana kontingen Indonesia akan menerjemahkan budaya lokal ke dalam fine cuisine sebagai pembeda. 

Di bulan kemerdekaan, yuk satukan dukungan kita untuk pahlawan masa kini ini! (f)

Baca juga: 
Berekplorasi di Dapur Saat Pandemi, Nicholas Saputra Pede Dengan Masakannya
Seberapa Pedasnya Buldak Sauce Varian Extreme? Fans Kfood Perlu Tahu
Perluas Popularitas Daging Asap, RAMUASAP Authentic Smokehouse Dibuka di Kemang


Trifitria Nuragustina


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?