BERSANTAP DI AREA ROOFTOP
Area rooftop ditujukan sebagai food court 8 rumah makan. Di sini, angin laut menerpa kencang. Mengasyikkan. Matahari di ufuk barat menjadikan langit jingga. Kalau sedang ramai-ramainya kala weekend, food court baru sepi di atas pukul 11 malam. “Waktu bulan Ramadan, pengunjung membeludak. Mereka sampai lesehan,” ujar Hadi.

Pilih hasil laut yang disukai untuk dibawa ke area food court. Jika kurang pandai memilih, berikan bujet yang dimiliki ke pemasak untuk dibelanjakan bahan segar. Jasa masaknya adalah Rp25.000/ kg untuk teknik bakar, dan Rp35.000/ kg untuk masak berbumbu.
Segera udang bakar, cumi bakar, dan ikan kuwe bakar mendarat di meja makan femina, diiringi sambal mangga. Rasa daging ikannya ‘manis’ karena merupakan tangkapan segar. Fillet marlin yang dijual per 1,6 kg seharga Rp55.000 di lantai bawah, enak digoreng tepung. Anda bisa membeli sambal bone, sambal kemiri (Bugis), dan sambal terasi dari penjaja lain. Untuk menu, ada racikan gaya Minang (gulai kepala kakap) atau Palembang (pindang kepala kakap).
Kini, sedang disiapkan antara lain area makan yang lebih premium, laboratorium penguji kualitas ikan, hingga ruang edukasi untuk pembinaan pedagang atau pengunjung umum. Belajar teknik fillet ikan? Mungkin saja!

Pasar Tsukiji bisa melahirkan reputasinya yang mendunia setelah 80 tahun trial-error. Hilda mengakui bahwa mengubah budaya dagang yang berjalan turun-temurun jadi tantangan. “Hijrah mindset jadi hal tersulit di lapangan. Mereka pengen-nya kan yang gampang. KKP dan Perum Perindo terus mencari best practice di pilot project ini,” ujarnya. Warga urban yang senang melihat display ikan yang menarik dan suasana pasar yang bersih, merangsang proses transisi.
Kini, pasar sejenis sedang dibangun di kota-kota wisata kuliner, seperti Bandung dan Palembang. Citra pasar ikan yang nyaman di negeri bahari sudah di depan mata. (f)
Baca juga:
Mencoba Sarapan Unik, Bubur Gudeg
LOKAL, Nasionalisme di Meja Makan
Trifitria Nuragustina
Topic
#pasar, #ikan




