
ENTAH SUDAH BERAPA LAMA Larasati menghindari kembali ke rumah. Ia hanya berusaha menghapus suatu masa di memorinya, meski sangat sulit. Dihapus satu, akan muncul lainnya yang kemudian akan memanggil kembali kenangan yang seharusnya telah terlupakan. Terus demikian, hingga akhirnya Larasati membiarkannya berkerak dan berkarat dalam otaknya. Larasati juga tidak mengerti, mengapa kenangan buruk itu serupa rangkaian yang saling terkait satu sama lain, tidak terpisahkan.
Tapi, pesan singkat dalam ponselnya membuat ia harus mempertimbangkan kembali keputusannya. Mungkin untuk terakhir kalinya ia akan mengunjungi keluarganya.
“Mbak, Ibu sakit parah. Ibu ingin ketemu.”
Tiga tahun lalu, adiknya mengirim pesan yang sama. Ia bergeming dan nyatanya Ibu baik-baik saja. Tetapi, kali ini Larasati benar-benar bimbang, entah mengapa perasaannya sangat tidak enak.
“Ambil cuti saja, Laras. Atau mau kuantar?” tanya Ray, ketika ia melihat kekasihnya bimbang.
“Jangan!” Jawaban Larasati terlalu cepat dan keras, membuat Ray mengernyitkan dahi. “Sorry, maksudku, aku belum tentu bisa cuti Ray, pekerjaanku banyak.”
“Pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, Ras. Kau kan tahu itu? Hari ini selesai, besok akan ada lagi, lalu lusa dan esoknya, dan seterusnya. Dan pernikahan kita juga akan terus tertunda karena pekerjaan.”
Larasati tertawa melihat ekspresi Ray. “Kok, jadi merembet ke situ, sih?”
“Laras, biarkan aku ikut bersamamu, aku akan melamarmu, aku ingin bertemu keluargamu.”
“Jangan sekarang, Ray, aku belum siap … maksudku, aku belum tahu bagaimana kondisi Ibu. Aku janji, setelah semuanya baik, aku akan mengajakmu,” Larasati berdusta. Pembicaraan itu tidak berlanjut. Keduanya sama-sama tahu, bahwa hal itu mungkin akan terjadi bertahun-tahun ke depan atau malah mungkin tidak akan terjadi. Ray bukannya tidak tahu ada yang disembunyikan oleh kekasihnya. Ia hanya berharap suatu saat nanti Larasati akan menceritakannya tanpa diminta. Bahwa Larasati mencintainya itu sudah cukup bagi Ray. Pria itu meyakini, kepercayaan adalah hal yang mutlak untuk mengawali dan membina suatu hubungan.
KETIKA AKHIRNYA memutuskan untuk mudik, Larasati merasa terasing. Yogyakarta menjadi begitu berbeda setelah lebih dari sepuluh tahun ia tinggalkan. Lampu lalu lintas makin banyak dengan lampu hijau yang menyala hanya dalam hitungan detik, sementara lampu merahnya bisa lebih dari satu menit. Kemacetan dalam kota nyaris sama dengan Jakarta yang menjadi tempat pelariannya.
Sesungguhnya, Larasati memang jarang sekali menikmati kota. Dalam sepanjang hidupnya, mungkin hanya dua atau tiga kali mengunjungi sekaten¹), itu pun karena diajak Pakde²). Baginya dan keluarganya, meninggalkan Tepus –desanya-- adalah sebuah kemewahan. Bahkan ketika Pakde membiayai kuliahnya di kota pun tak pernah ia sia-siakan untuk bermewah-mewah. Tujuan hidupnya adalah segera menyelesaikan kuliahnya dan meninggalkan Yogyakarta!
Perjalanan dari Bandara Adi Sucipto menuju Desa Tepus membutuhkan waktu sekitar dua jam lebih. Larasati berusaha duduk senyaman mungkin dalam taksi. Mengatakan pada sopir taksi bahwa ia akan tidur untuk menghindari percakapan yang tak dikehendakinya. Sesungguhnya ia memang memejamkan matanya, meski tidak tidur.
Bertahun-tahun dalam pelariannya ke Jakarta, ia jarang bisa tidur nyenyak. Malam-malam dihabiskannya dengan bekerja sampai dini hari. Ia hanya tidur tidak lebih dari tiga jam. Karier cemerlang dan gaji besar menjadi imbalannya. Namun, hatinya tetap kosong, tak tahu apa yang sesungguhnya diinginkannya.
Lamat-lamat, suara Bapak menembangkan megatruh³) dengan nada berat melangut, yang menghantuinya nyaris tiap malam, membawanya ke masa lalu.
“Pak Lurah sudah menanyakanmu terus, Nduk. Ibu mesti jawab apa?” Suara Ibu terngiang begitu jelas, seolah ia berada pada masa itu.
“Laras ndak mau kawin, Bu.”
“Hush! Ndak boleh bilang gitu! Nanti kalau ada malaikat lewat gimana? Sudah ada yang mau sama kamu, Nduk. Kawin.”
“Ndak mau! Laras masih mau membantu Bapak di laut!”
“Kowe⁴) mau jadi perawan tua? Umurmu sudah delapan belas, Nduk. Kawin dengan Mas Agus akan membuat hidupmu senang, ndak perlu susah-susah ikut Bapak! Lagi pula, itu pekerjaan lelaki. Jadi menantu Pak Lurah akan membuatmu kaya dan keluarga kita terangkat derajat dan martabatnya!”
“Tidak mau! Tidak akan!”
Tangan Ibu sudah melayang akan menamparnya ketika Bapak datang bersama Pakde.
“Sri!” tegur Bapak, melihat wajah Ibu yang murka dengan tangan melayang. Ibu menurunkan tangannya, lalu mengisak. Larasati berlari meninggalkan rumah dengan air mata berlinang-linang. Entah apa yang kemudian dibicarakan para orang tua itu. Larasati hanya tahu bahwa ia akan ikut Pakde ke Yogya untuk melanjutkan sekolah. Setelah itu, ia harus tetap menikah dengan Agus. Bukan pilihan yang diharapkannya, tetapi setidaknya ia bisa mengulur waktu.
Setahun kemudian ia pulang ke rumah. Berlinangan air mata mengatakan hendak berhenti kuliah.
“Sudah gila kowe, Nduk? Kamu sendiri yang mau waktu ditawari Pakde. Jangan mencla-mencle⁵), selesaikan kuliahmu segera.”
“Tapi, Bu, Pakde ….”
“Pakde-mu ndak pernah keberatan. Bapakmu sudah berkali-kali berniat mengirim uang seadanya, tapi pakde-mu juga yang menolak.”
“Bu ….”
“Sudah. Pokoknya kamu jangan kembali kalau belum selesai. Memalukan saja. Sudah dikasih kesempatan, kamu juga yang mau mundur. Pokoknya kamu cepat selesaikan sekolahmu. Pak Lurah sudah menanyakan terus.”
Larasati terisak tanpa henti. Malamnya ia kembali menangis di kaki Bapak tanpa bisa mengatakan apa-apa. Bapak hanya mengelus rambutnya dengan tangannya yang kasar dan kaku.
“Selesaikan apa yang sudah kamu mulai, Nduk. Ndak usah kamu pikirkan soal kawin dengan Mas Agus. Biar itu menjadi urusan Bapak.”
“Bukan itu, Pak …,” bisik Larasati di antara sedannya. Ia mendongak menatap wajah keriput Bapak. Kulitnya yang legam terpanggang matahari membuatnya terlihat jauh lebih tua. Namun matanya begitu teduh, serupa bintang di pekat malam. Larasati takluk melihat mata Bapak. Segala kata-kata yang ingin tercurah ditelannya kembali. Ia hanya bisa menundukkan wajah, menggigit bibir hingga berdarah, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan lelaki tua yang sangat dikasihinya.
Selepas subuh, Larasati mendengar Bapak menembangkan megatruh penuh perasaan sebelum berangkat ke laut.
“Pak, kok, nembang lagu melangut begitu, to?” Suara Ibu terdengar di antara kemeretak kayu yang terbakar demi menyediakan kopi panas untuk suaminya. Bapak hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Kemudian Larasati merasakan elusan tangan Bapak yang kasar pada dahinya. Dan itu adalah terakhir kali ia merasakannya. Bapak tidak pernah pulang ke rumah. Gondola sederhana yang dibuatnya untuk menangkap lobster, terputus. Karang-karang menyambutnya, lalu melarungnya ke laut. Larasati kehilangan mata teduh itu.
Pada kepulangannya di tahun kedua kuliah, Larasati mendapati Ningrum, adik semata wayangnya, bersimbah air mata. Mas Agus sudah tak sabar menunggu Larasati, karenanya ia meminta Ningrum.
“Maafkan aku, Mbak. Ini bukan mauku,” tangis Ningrum.
“Ssst, Mbak tidak apa-apa, Ning. Justru Mbak yang minta maaf, kamu jadi berkorban untuk Mbak.”
Kedua kakak beradik itu berpelukan dalam tangis. Adiknya jauh lebih sederhana, gambaran perempuan desa pada umumnya. Ia tidak ingin sekolah tinggi-tinggi. Ia hanya ingin menikah dengan Juned, kekasihnya, lalu mempunyai anak yang lucu-lucu. Tetapi, ambisi Ibu tak ada yang bisa mengalahkan.
“Terlalu lama menunggu kamu, Laras. Ini sudah menjadi rezeki adikmu. Ia anak yang nrimo dan akhirnya dialah yang akan mengangkat derajat dan martabat keluarga kita. Ah, andai Bapak bisa menyaksikan semua ini,” keluh Ibu.
Setelah itu, Larasati hanya pulang setelah wisuda dan merantau ke Jakarta tanpa pernah berniat kembali lagi. Ningrum sudah mempunyai empat anak dalam kurun waktu sebelas tahun. Ibu tidak lagi meladang, melainkan tinggal di rumah besar dan mengasuh cucu-cucunya penuh bahagia.
Sementara Larasati menyandang status perawan tua yang gemilang dalam karier dengan deretan gelar di belakang namanya. Untuk apa? Hatinya tetaplah hampa dan kosong. Ray hanya bisa mengisi setengah hatinya saja. Keindahan pernikahan dan cinta sama sekali tidak ada dalam bayangannya.
Jalanan menuju Tepus makin berliku. Hamparan hutan di kanan kiri jalan menunjukkan makin dekat ia pada masa lalunya. Kerinduan pada Bapak yang bermata teduh dan pendiam memuncak hingga menyisakan perih dalam dadanya. Kemarahannya pada Ibu yang suka memaksakan kehendaknya dan tak mengizinkannya berhenti kuliah tiba-tiba menguap, seperti embun yang terpanggang mentari pagi. Hanya ada rasa rindu dan kasih yang membuat matanya memanas. Lalu membayangkan adiknya yang ternyata bahagia bersama Mas Agus, membuat hatinya perih karena sesal dan iri hati. Kemudian, selintas wajah Pakde yang membiayai kuliahnya ….
“Belok kiri atau kanan, Bu?” Sopir taksi mengejutkannya.
“Ke kiri, Pak.”
Dan rumah penuh kenangan itu terpampang di hadapannya. Larasati nyaris tak mengenalinya. Dulu, rumah itu lebih pantas disebut gubuk, berdinding anyaman bambu yang tak mampu menghalau dingin dan beratap daun kelapa pada beberapa bagian. Kini berdiri kokoh rumah bertembok bata dan berdaun jendela bercat putih. Hanya pohon duras besar di pekarangan depan yang membuat Larasati yakin itulah rumahnya.
Ia turun dari taksi, menyapa dua bocah yang sedang bermain di bawah pohon itu. Salah satu bocah memandanginya, lalu berlarian memanggil ibunya. Mata Larasati memanas, itukah keponakanku?
Seorang perempuan bertubuh montok tergopoh-gopoh keluar. Teriakannya membuat burung-burung beterbangan.
“Mbak Laras!”
“Ningrum!”
Tidak ada cakap, tidak ada tanya, hanya air mata yang tumpah.
“Bagaimana Ibu?” tanya Larasati pada akhirnya. Ningrum menggandeng kakaknya masuk ke dalam rumah, menuju sebuah kamar yang jauh lebih layak daripada kamar yang dikenalnya dulu. Ibu terbaring di tempat tidur, matanya kosong memandang langit-langit. Larasati menghambur ke pelukan perempuan ringkih itu, ia ciumi tangannya berkali-kali.
“Maafkan Laras, Bu.” Perasaan kosong dan hampa itu tiba-tiba terasa sesak ketika tangan Ibu mengusap kepalanya. Setengah mati ia menekan rasa rindu pada Ibu selama bertahun-tahun. Menyebabkan jiwanya mati, lalu mengering hingga tak mampu lagi merasakan kehangatan. Ia kini tahu, memelihara kemarahan hanya membuat jiwanya mati.
Sejak itu, megatruh yang ditembangkan Bapak, yang menghantuinya pada malam-malam sepi, tak pernah terdengar lagi.
“ITU SUDAH BERLALU, LARAS. Aku tahu, kau tidak berdaya saat itu. Aku bahkan salut kau bisa sampai sejauh ini, menjadi perempuan cerdas idaman tiap laki-laki. Aku mencintaimu, Laras.” Ray menggenggam tangannya hangat. Larasati tidak berani memandang matanya.
“Aku tidak berharap kau mau menerimaku, Ray. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku,” bisiknya perih.
“Nyaman? Bagaimana kau merasa nyaman tanpaku, sementara kalau mobilmu ngadat atau sekering listrik putus, selalu aku yang kau cari?” goda Ray.
Larasati tertawa dan menangis bersamaan. “Lamar aku, Ray.”
“Larasati, maukah kau menikah denganku?”
Kerak dan karat dalam labirin otak Larasati mengikis, larut bersama air mata. Lalu hatinya berbisik, untuk memaafkan Pakde yang telah menjadikannya seorang sarjana, sekaligus mencuri keperawanannya.
Catatan:
¹) Sekaten: Acara peringatan ulang tahun Nabi Muhammad yang diperingati dengan mengadakan pasar malam selama sebulan penuh di alun-alun Kota Yogyakarta
²) Pakde: Paman atau kakak dari pihak ayah/ibu
³) Megatruh: Tembang Jawa untuk melukiskan kesedihan yang mendalam, biasanya didendangkan tatkala manusia menjelang ajal dan melepaskan jasad atau wadag atau tubuh fananya.
⁴) Kowe: Kamu.
⁵) Mencla-mencle: Pendirian yang berubah-ubah.
***
Auxentina Puspita Dewi


