Fiction
Cerpen: Sebuah Fragmen di Bioskop

17 Nov 2017


Perempuan itu berdiri di ruang tunggu taksi. Ini sudah ketiga kalinya ia menyilakan penumpang yang mengantri di belakangnya untuk mengambil taksinya. 

"Terima kasih, Mbak. Saya harus segera ke rumah sakit. Istri saya melahirkan," kata laki-laki penumpang ketiga.

Perempuan itu tersenyum, melihat punggung laki-laki itu menghilang di pintu taksi. Langkah yang gegas, khawatir, sekaligus pendar harap menyelimuti si buah hati yang sebentar lagi hadir. Jika ada 10 atau 20 orang yang mengambil taksinya demi alasan menemui orang yang dicintainya, ia akan merelakan antriannya. Bahkan hingga pagi. Sesungguhnya ia tidak ingin pergi dari tempat itu. Ia tidak ingin pertemuan barusan menjadi setumpuk kenangan yang tak segera menjadi usang.

Laki-laki pualam itu tak pernah tahu, jika dalam diamnya, dalam ketidakpeduliannya, ia menyimpan setiap moment perjumpaannya. Bahkan ia masih menyimpan, kertas tisu berlogo sebuah kafe yang menghadap hujan. Tempat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Saat lelaki itu bercerita tentang Soekarno dan kekagumannya. Lalu tentang kisah Nusantara lama yang membuatnya jatuh cinta pada negeri beraroma kekejaman, intrik, sekaligus pesona rempah yang memikatnya.
Sementara puluham meter dari perempuan itu berdiri, di ruang tunggu bandara, nama laki-laki itu menggema.

Sudah ketiga kalinya dipanggil untuk masuk pesawat. Pemilik mata kebiruan itu hanya memandang papan yang menyala oleh LED menuliskan nama negaranya. Betapa kisah hidup hanya ditentukan oleh satuan jarak yang didefinisikan pijar atom iridium yang disimpan di Sevres. Teori yang dulu sebatas ingatan menjelang ujian, kini beda sekali maknanya. Ia masih berdiri di sana. Tangan kanannya meraba dadanya. Karcis film yang filmnya tidak menarik itu, masih di sana. Di detak yang lirih teraba.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina

 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?