Mudakir sadar. Tubuhnya kurus sejak beberapa bulan lalu setelah digosok setrika oleh Ayah. Dia bilang enakan main game
di warnet, karena kalau keluar bareng Ibu, malah merepotkan. Luka bakar di lehernya kadang-kadang kumat jadi sangat gatal dan Mudakir akan mengacaukan acara Ibu. Biasanya Ibu pulang jam sepuluh malam atau pernah jam sebelas malam dan kami sudah tidur. Besoknya, pagi-pagi, di depan meja televisi, ada lelaki yang Ibu bilang pernah jadi teman dekatnya.
Lelaki itu terkadang menyapa kami dengan cara yang kami sukai, walau kelihatannya lebih suka bicara dengan Ibu saja. Paling tidak teman Ibu itu membuat kami bergumam membayangkan mainan baru, es krim, burger, ayam goreng, dan lain-lain tanpa cemas disiksa. Ia memang angin, tapi bukan angin kemarau yang kering dan panas. Lalu antara aku dan Mudakir berbagi keseruan berkhayal soal liburan ke tempat wisata sebagaimana di awal musim. Itu akan sangat hebat, kalau terwujud, paling tidak sebulan sekali.
Tapi, yah, kau tahu, angin makhluk tolol yang kerjaannya ke sana kemari dan kalau salah jalan jadi kambing hitam. Ia cuma
membelai rambut atau mencolek pipi kami dan lebih banyak bicara pada Ibu soal hal-hal yang tidak kami tahu, soal Ayah
yang katanya punya rumah lain di kota lain, dengan sumber air beraroma surgawi. Juga, sesekali soal pelangi di mata Ibu yang dianggap kebodohan. “Padahal,” ia bilang, “musim terkutuk bisa kau akhiri sekarang.”
Tapi, Ibu bilang, pohon-pohon harus tetap ia jaga agar kuat dan tegar, meski angin kemarau kembali tahun depan sehingga
daun-daun di tubuh kami rontok semua. (f)
Topic
#FiksiFemina


