Keesokan harinya, Nina datang sendiri ke kedai Charles. Dia menempati bangku kedelapan. Nina memain-mainkan gantungan kunci ikan emas di tangannya ketika dia menunggu pesanannya. Tangannya bergerak. Tapi, tatapan matanya kosong. Nina teringat neneknya di Meksiko. Neneknya yang sepanjang waktu duduk di beranda seperti mengamati debu-debu kuning di jalanan.
“KENTANG TUMBUK berlumur saus peterseli hijau segar dipadu daging ikan cod siap disantap,” Charles sudah berdiri di depan Nina dengan membawa pesanan gadis itu. Nina tersenyum. Charles menarik bangku di depan Nina. Berbicara sejenak, lalu tangannya menunjuk iklan pengumuman di dinding kaca depan kedainya. “Jangan lupa dibaca.”
“Bagaimana kabarmu?”
“Ini musim dingin yang berat, Charles. Aku kehilangan pekerjaan lagi. Joe mengacau di tempat kerjaku yang baru dan aku dipecat.”
“Kau tidak melaporkan ke polisi?”
“Apa yang bisa dilakukan imigran sepertiku, Charles?”
“Jangan lupa baca iklan pengumuman itu,” Charles kembali mengingatkan, kemudian meninggalkan Nina. Nina meletakkan gantungan kunci ikan emas di meja, lalu mulai menyantap kentang tumbuknya. Nina mengunyah kentangnya pelan-pelan sembari menghitung bangku-bangku di depannya.
Charles Cooke menempatkan sembilan pasang bangku di kedainya, seolah-olah dia setengah hati menerima keriuhan. Kedainya bercat cokelat kayu dengan bagian depan kaca semua. Di jendela kacanya selalu ada iklan pengumuman yang berganti tiap pekan.
Menurut Charles, iklan-iklan pengumuman itu setidaknya sudah menolong empat imigran bertahan hidup di Colorado. Pertama, seorang wanita paruh baya, baru berpisah dari suaminya yang pecandu. Dia mendapat pekerjaan di toko 24 jam. Kedua, seorang pelanggan murung, mendapatkan pekerjaan di restoran pizza. Ketiga, seorang pelanggan yang selalu membenahi lipstiknya, mendapat pekerjaan di Bar Mark Bersaudara. Keempat, seorang pelanggan tambun yang selalu bercerita tentang merpati peliharaannya, dia mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga pemakaman paruh waktu.
Nina keluar dari kedai Charles. Dia berdiri di depan iklan pengumuman. Di sana, seseorang bernama Stuart tengah mencari wanita yang mau mengurus seseorang bernama Tuan Burroughs. Dicari wanita telaten. Yang bisa mengurus penuh waktu pria stroke 68 tahun. Lokasi mukim di Steamboat Springs. Telepon Stuart di 303678XXX.
Nina menelepon Stuart. Dan, sebagaimana yang disarankan Stuart, Nina menunggu di kedai Charles Cooke dengan satu koper pakaian. Hanya sekoper itu saja hartanya. Joe Nicholson sedang pergi selama empat hari ke Wyoming bersama teman-temannya, sehingga Nina bisa berkemas dengan tenang. Stuart akan datang menjemputnya.
Menjelang pukul tujuh, seorang pria mengenakan jaket musim dingin berwarna biru gelap dengan beanies dan ear muff yang serasi masuk ke dalam kedai. Pria itu melepaskan ear muff-nya, kemudian dia menelepon. Ponsel Nina berdering. Nina melambai. Pria itu menuju meja Nina. Nina berdiri. Mereka bersalaman.
“Nina?”
“Apa kabar, Stuart?”
“Tidak begitu baik. Kita akan berkendara setengah jam lagi. Aku ingin minum kopi dulu. Kau tidak keberatan?”
“Sama sekali tidak. Ada pie lemon enak di kedai ini,” ujar Nina.
“Aku tahu. Charles dan aku sepupu.” Perlahan-lahan kecemasan Nina sirna. Semula dia cemas, iklan pengumuman itu akan mengelabui imigran sepertinya. Nina menilai Stuart lewat Charles. Charles pria baik, kemungkinan Stuart juga baik.
“Aku harap kau tidak keberatan dengan uji coba yang kukatakan. Musim dingin belum selesai, Tuan Burroughs sudah memberhentikan dua pengurus. Jadi, aku memintamu uji coba selama sebulan ini. Jika kau sanggup dan Tuan Burroughs tak lagi berteriak. Ah, Tuhan, kuharap semua bisa lancar.”
“Apa dia sering berteriak?”
“Ya, dia sering berteriak jika pengurusnya kaku dan lamban.”
“Ke mana anak-anaknya?”
“Putra dan istrinya kecelakaan mobil di hari kedua musim dingin. Kecelakaan itu membuat Tuan Burroughs terpukul kemudian stroke. Ini musim dingin yang berat.”
“Sedih sekali.”
Topic
#fiksifemina


