Fiction
Cerita Pendek: Wajah Dalam Cermin

24 Aug 2019


Foto: Dok. Femina

Aku benar-benar tak dapat memahami jalan pikiran Ameera saat itu, walau aku telah menghabiskan hampir sepertiga umurku hidup bersamanya. Sejak kami sama-sama merantau dari Kota Medan ke ibu kota untuk kuliah dan memutuskan berbagi kamar di kos  yang padat penduduk. Hingga akhirnya kami diterima bekerja di perusahaan yang sama, kemudian pindah ke sebuah apartemen di jantung ibu kota.

Aku dan Ameera seperti sepasang cermin yang saling dihadapkan. Menderu dengan semangat yang sama. Saling mendukung dalam  tiap kesempatan. Tanpa pernah saling iri. Membuat kami  berdua melaju dengan cepat menduduki jabatan yang bergengsi di kantor, di bidang kami masing-masing. Hanya satu hal yang membuat kami berbeda pandangan. Anak! Di bagian itu, kami selalu berpisah jalan.

Usai prosesi pernikahan adat Batak yang panjang, Ameera dan Dito telah merancang keinginan untuk secepatnya memiliki keturunan. Aku masih ingat benar saat melepas Ameera dan Dito  untuk berbulan madu ke Pulau Samosir. Dengan wajah tak sabar dan setengah berbisik Ameera menggodaku, untuk bersiap-siap dipanggil ‘Tante’ sepulangnya mereka dari pulau vulkanik di tengah Danau Toba itu. Walau keinginan itu tidak juga terwujud hingga detik ini.

Sementara aku dan Ken, yang menyusul Ameera dan Dito menikah empat tahun kemudian, justru sepakat untuk menunda memiliki keturunan. Dengan alasan, agenda pekerjaan masing-masing yang masih padat. Walau dokter telah memastikan aku dan Ken dalam kondisi sehat untuk memiliki keturunan. Untuk kesamaan visi dan misi berumah tangga itu, mungkin aku dan Ken berjodoh.

Kualihkan pandangan. Menatap  ke luar  jendela. Hujan masih belum lelah juga  mengencani siang.

“Kamu masih menggunakan alat kontrasepsi itu, Nadine?”

Pertanyaan Ameera membawa mataku kembali berpijak pada wajahnya. Kemudian aku mengangguk pelan.

“Sampai kapan?”
 
Aku mengedikkan bahu.  “Sampai aku dan Ken benar-benar siap.”

“Tiga tahun, Nadine!” ucap Ameera, seperti mengingatkan. “Tidak ada waktu yang tepat kalau kamu tidak memulainya! Anak adalah pengikat. Membuat hubungan suami-istri  makin erat.

Huh….” Kuembuskan napas. Ya, tiga tahun sudah kulewati hidup berumah tangga bersama Ken. Lelaki pekerja keras yang tak banyak menuntut. Tak pernah sekali pun Ken ribut, jika aku tidak sempat menyiapkan kopi atau sarapan. Bahkan, jika  terpaksa pulang larut malam karena meeting dengan klien penting yang sulit diberi pengertian. Begitupun aku, tak pernah mengadu kepadanya, jika keran air di rumah bocor, atau mobil yang tiba-tiba ngadat di jalan. Hidup yang kami jalani adalah sebuah rutinitas dalam keteraturan.

Tiap hari, dimulai dengan ucapan selamat pagi, mengecek agenda sambil menikmati menu sarapan, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing. Bertemu kembali di malam hari, merebahkan tubuh di kasur dengan membawa kepenatan masing-masing tanpa banyak bicara. Hanya ucapan selamat tidur yang terdengar, atau sesekali mengakhiri malam dengan bercinta. Ada kalanya aku berpikir, kami seperti dua orang asing yang terperangkap di satu atap. Kemandirian masing-masing membuat kami  makin berjarak. Bahkan, akhir-akhir ini Ken  makin jarang di rumah. Mengurusi proyek-proyeknya di luar kota yang  makin berkembang.

Kuamati penampilan Ameera dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulit mulus Ameera yang biasa menggunakan setelan blazer kini hanya dibalut terusan biru terang. Sementara rambut ikalnya yang biasa tergerai sebahu dijepit ke belakang, sebagian meluruh jatuh menutupi tengkuknya yang berpeluh. Tanpa riasan, apalagi cat kuku.  Tapi... aura itu, kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya, membuat Ameera terlihat begitu cantik dan berkilau.

“Apakah kamu bahagia, Ameera?” kucoba bertanya untuk meyakinkan penglihatanku.

“Sangat…,” tanpa ragu Ameera menjawab.  Mengangkat Celia yang telah rapi dan berganti popok baru, masuk ke dalam dekapannya. “Kamu  sendiri?”

“Apa?” Aku tergeragap. 

“Apa kamu bahagia, Nadine?” Ameera balik bertanya.

“Menurutmu?”

Ameera melangkah ke arahku bersama Celia yang berlabuh dengan tenang di dadanya. Disambarnya sebuah cermin kecil berpigura plastik pink terang dari atas rak pakaian Celia.   Ameera menyodorkan benda itu tepat di hadapanku.

“Nih, tanya sendiri pada wajah yang kamu lihat di cermin!”

Aku tercenung. Menarik cermin itu dari tangan Ameera. Menatap wajah yang kulihat di cermin. Wajahku sendiri. Tak ada cela di wajah itu. Sapuan make-up yang melapisi wajah dalam cermin itu membuatnya terlihat begitu sempurna. Alis yang melengkung dengan rapi. Hidung mancung. Bibir, walau tak sepenuh Angelina Jolie, tapi terlihat seksi. Namun, ada satu yang tak dapat berbohong di wajah itu, sepasang mata yang kesepian… menatap layu di cermin itu. (f)
 

Triana Rahayu – Bogor
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/ 
 


Baca Juga:
Cerita Pendek : Roh-Roh di Dalam Gadih Bungo
Cerita Pendek: Burung-Burung Yang Bersarang di Dalam Kepala
Cerita Pendek: Aroma Selai Nanas
 


Topic

#cerpen, #fiksi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?