Fiction
Cerber: Intan yang Kucari [4] - Tamat

2 Jul 2017


Senja di tempat ini, sama saja dengan di tempat lain.
Kadang-kadang berwarna merah jingga, tapi lebih sering berwarna kuning saja. Bersinar berkilau-kilau, menimpa petak-petak tanah yang ditanami sawi, bayam, dan daun singkong.
Ketika baru datang ke sini, aku tak berani memakan sayur itu. Sebab, yang menanamnya para pengidap kusta. Meski kukatakan aku hendak membaktikan diri di tengah mereka,   tak berarti aku berani terkena kusta. Kawan yang mengajakku ke sini memang berkata bahwa kusta tak menular dengan cara segampang itu. Tapi, aku susah percaya, sampai kemudian aku membaca sendiri buku-buku tentang penyakit itu. Perlahan-lahan aku mulai berani.

Lagi pula, sayur-sayuran itu memang enak dan segar. Menolak memakannya berarti jarang memakan sayur, sebab sayuran dibeli dari luar, hanya kalau hasil panen sendiri tidak ada. 


Tak terasa, sudah lebih setahun aku di sini.

Seorang pelarian. Seorang yang tak mengerti cara bertanggung jawab, untuk memadamkan api yang dikobarkannya sendiri.
Malam itu, setelah Tigor menerobos hujan untuk meninggalkanku, aku merasa sangat tertolak dan tak berharga. Dua hari kemudian, kuputuskan untuk bertemu dengan Parulian. Mengatakan lagi kepadanya, aku merindukannya.
Namun, hatiku tetap merasa hampa dan kesepian. Aku bahkan mulai merasa berdosa dan ketakutan setengah mati, membayangkan bahwa bisa jadi Parulian mulai bersiap-siap untuk meninggalkan istrinya. Dan aku tak mau itu, sebab aku sadar, aku mencarinya untuk melampiaskan kesedihanku  karena ditinggal Tigor.   

Tiba-tiba seorang kawan lamaku  menelepon dan bercerita tentang pekerjaannya. Aku yang putus asa, merasa menemukan tempat untuk melarikan diri dari semua masalahku. Tanpa jauh berpikir, aku langsung memohon agar aku bisa bekerja bersamanya. Aku tak peduli pada gaji yang sangat kecil, atau risiko bahwa aku bisa saja tertular penyakit.

Meski adikku mati-matian merayuku agar tidak pergi, aku tetap mengabaikannya. Ibuku juga turut membujuk melalui telepon, tetapi aku tetap teguh memilih untuk pergi.  Sehari sebelum meninggalkan Jakarta, kuberanikan diri menelepon Tigor. Siapa tahu jika aku yang menelepon lebih dahulu, hatinya akan luluh. Tapi, sampai tiga kali kutelepon, dia tak mengangkat panggilanku. Aku menangis putus asa. Ternyata, bagi dirinya, hubungan kami selesai sudah.

Di tempat kerjaku yang baru, tak ada yang tahu masalahku. Meskipun pada bulan-bulan pertama aku masih sering menangis karena merindukan Tigor, akhirnya aku mulai pulih dari patah hatiku. Bekerja di antara penderita kusta membuatku malu jika harus terus-menerus meratapi masalahku yang tak ada nilainya, dibandingkan dengan penderitaan yang dialami mereka.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?