Fiction
Cerber: Intan yang Kucari [4] - Tamat

2 Jul 2017


Hujan deras sekali.
Pohon kembang sepatuku mengangguk-angguk pasrah dipermainkan angin. Aku melihat hujan memukul-mukul bunga dan daun-daunnya, seolah-olah cemburu pada warnanya yang semarak.
Sekarang jam lima sore. Hujan baru mulai turun.
Biasanya Tigor datang jam enaman. Apa dia akan datang kalau hujan sederas ini?
Aku gelisah. Meski aku tak tahu, aku gelisah karena dia akan datang, atau karena dia tak akan datang. Sebab, kedua hal tersebut punya sebab yang bisa membuatku gelisah.
Jika dia datang, mungkin kami akan melanjutkan pembicaraan yang terputus beberapa hari lalu. Dan itu akan membuatku gugup. Jika dia tak datang, berarti paling cepat hari Minggu malam baru bisa bertemu dengannya. Padahal, aku benar-benar merindukan dia.
“Aduhh, mondar-mandir di depan TV,” adikku mengomel.
Aku bengong. Aku baru sadar bahwa dari tadi aku sudah beberapa kali bolak-balik di depan TV.
Hujan terus turun. Di depan pagar, sebuah motor berhenti. Tigor memasuki teras berbalut mantel kuning.
Adikku tersenyum dengan wajah ‘tak menyangka’, melihat Tigor datang menembus hujan sederas itu. Aku sendiri bangga luar biasa. Dia rela berhujan-hujan demi menemuiku. Begitu dia membuka helm, senyumnya langsung  mengembang lebar.
Tiga gelas teh panas segera tersaji di meja kecil. Tigor terlihat agak kedinginan. Kuambil selimut tipis dari lemari. Dia menyambut dengan senang.
“Luar biasa, hujan sederas ini ‘diseruduk’ juga. Beruntung sekali kakakku mendapatkan Pak Pendeta,” kata adikku,  sambil tersenyum-senyum.
Mukaku merah bagai kepiting rebus mendengar godaannya. Tigor juga terlihat merah wajahnya, tapi dia segera tersenyum.
“Sudah merasa lebih hangat?” tanyaku.
“Ya. Selimut, teh panas, dan kau di dekatku, membuatku merasa hangat luar dalam.”
Aku tertawa mendengar jawabannya. Dia bisa menggombal juga.
Dia memandangku mesra dengan tatapan matanya yang lembut. Aku membalas tatapannya dengan senang. Dalam hati aku berjanji, tak akan merusak kemesraan ini.
“Apa kau sudah lebih tenang sekarang?” tanyanya lembut, sambil menyentuh pipiku sebentar.
Aku ingin mengangguk. Aku memang mengangguk, tapi setelahnya, mulutku malah menyemburkan kata-katanya sendiri.
“Kemarin dia meneleponku lagi.”
Dia tertegun, menantiku meneruskan bicara.
Ragu-ragu, dengan suara tertahan, kuteruskan kalimatku.
“Katanya dia mau meninggalkan istrinya demi aku.”
Tigor terlihat terperanjat. Wajahnya memucat. Sepertinya dia marah.
“Bagaimana bisa begitu? Apa sebelumnya kalian membicarakan sesuatu? Mungkin waktu kalian bertemu kemarin?” tanyanya pelan, tapi bernada menuntut.
Pandangannya tetap lembut, tapi bagai memakuku. Aku berjuang mengalihkan pandang, tapi dia malah berpindah duduk tepat ke sebelahku, membuatku tak bisa berkelit. Aku merasa sesak napas. Aku mencari cara untuk lepas dari cengkeraman keingintahuannya.
“Aku… kami… berpelukan.” Suaraku lemah dan pasrah. Lagi-lagi, aku menangis.
Kudengar hela napasnya menyentak keras. Kulihat wajahnya geram. Aku ketakutan. Ini pertama kalinya kulihat dia begitu. Aku menggigil. Aku menyesal telah melukai hatinya.
 “Tigor, aku menyesal. Aku  minta maaf.” Suaraku gemetar.
Dia diam saja, tak bersuara, tak bergerak, tapi ada air di sudut matanya.
Aku malu telah membuatnya menangis karena pengkhianatanku.
“Tak kusangka kau sanggup berbuat begitu. Kau kejam sekali padaku,” ujarnya, dengan suara terluka.
Air mataku  makin deras mengalir. Aku mulai tersedu-sedu. Kusandarkan kepalaku di atas kedua tangannya yang bertumpu di paha. Aku menangis untuk menyatakan penyesalanku kepadanya. Sayangnya, dia tetap tak bergerak. Tangannya tetap kaku, mulutnya tetap membisu.
Tiba-tiba kakinya bergerak. Aku kaget dan langsung menegakkan kepala.
“Aku mau pulang.” Dia langsung berdiri, menyambar mantel dan helmnya, tergesa-gesa mengenakan keduanya, lalu berjalan cepat tanpa pamit lagi menuju motornya di bawah hujan.
Aku melihatnya dari teras. Aku yakin, dia tahu aku di situ. Tapi, tak sebentar pun dia berpaling. Begitu motornya hidup, dia langsung berlalu.
Semalaman aku menangis di kamarku.
Sampai berhari-hari setelah itu, tak sekali pun dia menghubungiku.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?