Calon suamiku bertanya apakah aku mengenal pendeta itu dan kujawab “Ya.” Dia bertanya apakah aku pernah jatuh cinta pada pendeta itu, makanya aku terus-menerus pucat dan gelisah, juga kujawab “Ya.” Dia gusar mendengarku.
“Mengapa kau tidak pernah cerita?” gugatnya.
“Aku tak merasa perlu menceritakan itu.”
“Tapi aku menceritakan semua pacarku padamu.”
“Ya, itu kalau pacar. Dia tak pernah menjadi pacarku.”
Calon suamiku tercengang.
“Kupikir aku cinta pertamamu.”
“Itu jelas tidak mungkin. Aku bertemu denganmu waktu umurku dua puluh delapan tahun. Sudah pasti sebelum itu, aku sudah pernah jatuh cinta pada pria. Dialah pria itu. Bedanya denganmu, aku hanya jatuh cinta, tapi tidak berpacaran dengannya.”
“Lalu kalau kau tidak pernah berpacaran dengannya, mengapa biarpun sebelas tahun sudah berlalu, kau masih mengingat dia?” suaranya jelas penuh cemburu.
Aku menggelengkan kepala. Tak ingin kujelaskan apa-apa tentang itu, sebab itu tentang perasaan yang bagi orang lain, akan terlihat sebagai konyol, aneh atau tolol. Lagi pula, pertemuan kembaliku dengan cinta masa laluku, terasa begitu mengejukan bagiku.
Topic
#fiksifemina


