Usiaku dua puluh sembilan tahun lewat beberapa bulan. Selama masa hidupku ini, tempat terjauh yang pernah kudatangi adalah Banyuwangi. Itu pun karena aku diajak teman sekelasku waktu kuliah dulu, untuk berlibur di rumahnya di sana. Kami pergi mendaki Gunung Raung, lalu melihat-lihat pembuatan ikan kaleng di Muncar.
Abang calon suamiku tinggal di Banyuwangi dan bekerja di salah satu perkebunan di sana. Dua setengah tahun yang lalu, dia menyunting perempuan dari sana. Aku belum pernah bertemu dengannya. Sebab setahun terakhir ini, dia belum pernah pulang. Jadi, aku hanya mengenal orang tua calon suamiku dan ketiga adiknya. Sedangkan wajah Abang dan iparnya kukenal melalui foto keluarga mereka yang dipajang di ruang tamu.
“Nanti kalau kita jadi bulan madu ke Bali, kita singgah di Banyuwangi. Tiap hari kita berangkat ke Bali dari situ, jadi tidak perlu sewa hotel. Biar hemat,” calon suamiku pernah berkata begitu untuk menggodaku.
Suatu pagi di hari Minggu, calon suamiku meneleponku. Abangnya sakit, entah sakit apa. Rumah sakit di sana tak bisa mengenali penyakitnya dan dia kemudian meminta agar dirawat di rumah sakit di Jakarta.
Pulang gereja, aku bergegas menuju rumah sakit. Di tengah jalan, di atas bus yang sedang berhenti karena lampu merah, calon suamiku kembali menelepon. Abangnya sudah meninggal lima belas menit yang lalu.
Ketika aku tiba di teras ruangan ICU rumah sakit itu, kudapati seluruh keluarga mereka sedang menangis. Aku melihat seorang perempuan yang kukenali sebagai ipar calon suamiku, menangis menjerit-jerit dalam pelukan calon ibu mertuaku. Air mataku turut menetes ketika melihat kesedihannya.
Dalam seluruh teriakannya, aku mendengar kesengsaraan dan keputusasaan. Aku tak mengerti, mengapa perempuan secantik dan semuda itu, harus menjadi janda. Apa masalahnya, kalau dia dan suaminya, bisa hidup bahagia sampai tua?
Calon suamiku juga terus-menerus menangis. Tapi, dia harus mengurus administrasi rumah sakit. Kutemani dia mengurus segala sesuatunya. Dan setelah satu jam lewat, akhirnya semua urusan itu selesai. (Bersambung)
***
Baca juga:
Cerber: Intan yang Kucari [2]
Cerber: Intan yang Kucari [4]
Cerber: Intan yang Kucari [3]
Cerber: Intan yang Kucari [2]
Cerber: Intan yang Kucari [4]
Cerber: Intan yang Kucari [3]
Rewinta Tampubolon
Topic
#fiksifemina


