Fiction
Cerber: Ayah [7]

16 Dec 2011

<< cerita sebelumnya

Aku mengangguk, lalu mencari-cari halaman tempat bermain. Dulu, ketika liburan sekolah tiba, Ayah sering mengantarku berlibur di sini. Aku senang bermain di halaman yang bermandikan cahaya bulan, bersama sepupu-sepupu yang sebaya denganku. Siang harinya kami mandi di sungai dan berburu telur bebek di sawah. Aku geli teringat Ibu marah-marah karena melihat kulitku gosong terpanggang matahari sekembalinya ke Jakarta.
“Nanti Mbak menginap di mana?”

Aku tersentak dari lamunanku. Benar juga, entah di mana aku bisa menginap. Ketika sedang memutar otak, seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk berlari-lari kecil menghampiri kami. Wajahnya cerah. Senyumnya mengembang. Ia mengenakan daster merah usang. Rambutnya yang sebagian telah beruban digelung.

“Kau Laras, bukan?” tanyanya, sambil memandangku lekat-lekat. Antara ragu dan gembira.

Aku mengangguk dan tersenyum, meski belum mengerti betul, siapa wanita di depanku itu.

“Aku bibimu, Laras. Bi Darti,” katanya, sambil membuka tangannya lebar-lebar dan aku masuk dalam pelukannya yang hangat. Sesaat aku terlena, mengingat hangat pelukan Ibu di masa kecilku dulu.

“Kau sudah besar dan cantik. Aduh, Laras, Bibi tidak menyangka kau akan datang. Pantas, tadi pagi burung prenjak ramai sekali berkicau di pucuk pohon mangga halaman rumah Bibi.” Bi Darti melepaskan pelukannya. “Tentu kau sudah jadi pekerja kantoran? Sudah menikah? Bagaimana kabar ayahmu?”

Aku hanya mendengarkan pertanyaan Bi Darti yang tanpa jeda.

“Rumah Nenek tidak ada yang mengurus. Maklumlah, semua sudah punya rumah sendiri. Akhirnya, rumah ini dirobohkan daripada ditempati makhluk halus. Ayo, ke rumahku saja. Kau juga sudah capek di perjalanan, bukan?”

Aku menoleh pada Pak Zaenal, yang sejak tadi mendengar pembicaraan kami. “Pak Zaenal bisa menjemput saya di sini se­ming­gu lagi, ’kan?”

“Bisa, Mbak. Sabtu depan pukul sembilan pagi?”

Aku mengangguk, menyerahkan amplop berisi uang, dan me­ngucapkan terima kasih.

“Kalau begitu saya pamit dulu. Selamat berlibur, Mbak. Mari, Bi.”

Setelah Pak Zaenal pergi, kami meninggalkan puing-puing rumah Nenek. Rumah Bi Darti tidak jauh, hanya tiga rumah dari rumah Nenek. Sepi menyergap ketika kakiku memasuki lantai ubin rumah Bi Darti. Ke mana Paman Bonari dan kedua anak Bi Darti? Mereka teman bermainku dulu setiap liburan sekolah tiba.

“Bibi tinggal sendirian, Laras,” jelas Bi Darti, seakan mengerti pertanyaan di kepalaku. “Pamanmu meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit ginjal. Munah dan Udin di Surabaya. Mereka bekerja di pabrik dan pulang setahun dua kali. Kau mau minum dan makan apa? Akan Bibi siapkan.” Bi Darti mengalihkan pembicaraan. Seperti ingin melupakan kesepiannya.

“Bibi tidak usah repot-repot. Kita ngobrol saja dulu, melepas kangen. Masalah makan gampanglah nanti.”

“Kamu belum menjawab aku. Bagaimana kabar ayahmu?”

Ada yang merambat perih di dadaku ketika Bi Darti menanyakan kabar Ayah. Terbayang masa laluku yang indah setiap saat Ayah mengantarkan berlibur di kampung ini.

“Ayah meninggal bulan lalu, Bi. Sakit jantung,” jawabku, lirih.

Bi Darti terkejut. Matanya membola. Wajahnya berubah tersaput mendung. “Ayahmu sangat baik. Bibi banyak berutang budi padanya. Maafkan Bibi kalau tidak datang melayat, Laras.”

“Tidak apa-apa, Bi. Semoga Ayah beristirahat dengan tenang sekarang. Kami justru minta maaf tidak mengabari Bibi.”

Bi Darti mengangguk-angguk, menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh berderai mengingat Ayah.

“Karena itulah saya ke sini, Bi. Bibi kenal Ibu sejak muda, ’kan? Ada sesuatu yang ingin kuketahui tentang masa lalu Ibu.”

Bi Darti mengerutkan kening. “Bibi mengenal ibumu setelah Bibi menikah dengan pamanmu. Itu pun setelah ibumu dibawa ayahmu ke Jakarta dan hanya bertemu setiap Lebaran. Kau ingat, bukan? Paman Bonarilah yang saudara kandung ibumu. Bibi kan hanya iparnya.”

“Oh!” Bibirku membulat. Harapanku yang tadi besar ketika Bi Darti datang menghampiriku di puing-puing rumah Nenek, menipis tiba-tiba.

“Memangnya ada apa, Laras?”

“Apa Bibi pernah mendengar cerita tentang Ibu di masa lalu?”

Bi Darti mengingat-ingat, lalu menggeleng. “Tidak pernah kudengar. Lagi pula, Bibi bukan asli warga kampung ini. Bibi tinggal di sini setelah menikah dengan pamanmu.”

“Kira-kira, masih adakah teman Ibu di masa mudanya dulu?”

Bi Darti kembali mengingat-ingat. “Oh, ada! Dia teman sekolah ibumu. Namanya Sri, rumahnya di ujung kampung. Kalau kau memang memerlukannya, nanti Bibi antar ke sana. Ada apa sebenarnya, Laras?”

Aku menggeleng, tidak menjawab pertanyaan Bi Darti. Senja beranjak petang ketika Bi Darti menyuruhku beristirahat. Wajah teduh Ibu datang menghampiri pembaringan ketika tubuh letihku terlelap dalam mimpi.

“Anaknya Nunik sudah sebesar ini?” kata Bibi Sri, sambil mengguncang lenganku. “Ah, aku jadi teringat ibumu.”

Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Ia memperlakukanku seperti sedang bertemu sahabatnya. Digandengnya lenganku masuk ke rumahnya yang luas. Berlantai keramik dan berperabot mentereng, rumah Bibi Sri terlihat berbeda dari rumah-rumah yang lain. Menurut cerita Bi Darti, suami Bibi Sri adalah pengusaha yang berhasil di kampung.

Setelah saling menanyakan kabar dan berbasa-basi, aku segera mengatakan tujuanku sebenarnya. “Begini, Bi Sri. Kedatangan saya ke sini ingin bertanya sesuatu. Bibi sahabat ibuku semasa muda dulu, ’kan?”

Bibi Sri mengangguk. Bi Darti mendengarkan dengan saksama. Sepertinya, ia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin kutanyakan pada Bibi Sri.

“Saya sedang diberati kebimbangan tentang keberadaan diri saya.” Aku menghela napas. Rasanya berat untuk membuka diri di depan kedua wanita itu. Tapi, aku harus berani melakukannya. Bukankah aku jauh-jauh ke sini untuk mencari jawaban? Kulirik kedua wanita di depanku, yang masih menunggu kelanjutan kata-kataku.

“Seseorang mengatakan, saya bukan anak kandung Ayah. Apakah benar Ibu hamil dengan pria tak bertanggung jawab, sebelum Ayah menikahinya?”

Kedua pasang bola mata wanita di depanku itu membola. Mungkin, mereka tidak menyangka aku akan menyodorkan per­tanyaan seberat itu.

“Siapa yang mengatakan itu? Itu fitnah! Ibumu tidak mungkin melakukan itu sebelum menikah,” sergah Bi Darti, berang.

“Tidak perlu saya katakan siapa orang yang mengatakannya, Bi. Yang jelas, saya ke sini untuk mencari jawaban. Kalau memang berita itu benar, saya ingin mencari ayah kandung saya. Apakah Ibu mempunyai kekasih semasa sekolah dulu, Bi Sri?”

Bibi Sri terdiam. Keningnya berkerut, mengingat tumpukan masa silam yang telah terkubur oleh waktu yang terus berputar.

“Apa kau ingat sesuatu?” Bi Darti mulai tak sabar.

“Ibumu memang memiliki kekasih semasa sekolah dulu. Dan, dia memang bukan ayahmu yang sekarang.”

“Nah, siapa dia, Bi?”

“Namanya Lukman. Perjaka paling ganteng di sekolah kami. Orangnya kalem, alim, dan memakai kacamata. Kami semua suka padanya karena dia satu-satunya pria yang berkacamata. Ada-ada saja, ya, zaman dulu? Tapi, dia malah jatuh cinta pada ibumu. Padahal, aku dulu juga menyukai Lukman,” kata Bibi Sri melantur, sambil terkekeh-kekeh.

“Tapi, mereka dekat sebelum ibumu sekolah di kota. Aku tidak tahu lagi kisah cinta ibumu selanjutnya. Aku bertemu ibumu lagi setelah menikah dengan ayahmu dan sudah hamil tujuh bulan.”

Aku kurang puas dengan jawaban Bibi Sri.

“Ibu pernah mengeluhkan masalahnya pada Bibi setelah tinggal di kota?”

Bibi Sri menggeleng. Aku dan Bi Darti berpandangan.

“Sudahlah, Laras, tak ada gunanya kau memikirkan kabar seperti itu. Lagi pula, ibumu sudah tiada, tak baik mengungkit masa lalu orang yang sudah meninggal,” kata Bibi Sri.

“Benar, Laras. Untuk apa percaya pada kabar yang tidak jelas?” Bi Darti menyahut.

Aku mengangguk, membenarkan perkataan kedua wanita di depanku. Tapi, tetap saja ada yang mengganjal di hatiku. Membe­bani kakiku untuk melangkah. Akta kelahiranku memang mengatakan bahwa aku anak Ayah, tapi bukankah semua dapat direkayasa dengan gampang?

“Baiklah, Bi Sri. Terima kasih atas informasinya.”

Kedua wanita itu kembali saling memandang. Ketika aku bangkit dan berjalan keluar rumah, Bibi Sri menepuk-nepuk pundakku, seolah memintaku untuk bersabar.


Penulis: Sri Lestari


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?