<< cerita sebelumnya“Aku sudah mengatakan padamu, bahwa kamu bukan….”
“Anak kandung Ayah,” tukasku cepat. Aku kurang suka gaya bicara Tante Erna yang berbelit-belit.
Usai jam kantor sore ini, Tante Erna mengundangku ke rumah. Entah apa yang ingin dibicarakannya denganku, hingga ia merasa perlu membawaku ke ruang kerja Ayah dan menguncinya dari dalam. Rumah sepi. Hanya ada beberapa pembantu tampak mondar-mandir, mengerjakan tugas-tugas harian mereka. Bagas tak kelihatan sejak aku datang tadi.
“Baiklah, kalau begitu, kita mulai saja pembicaraan ini,” lanjut Tante Erna. Ia mengelurkan sebuah map dan menyodorkannya padaku. Aku tidak tertarik untuk membukanya.
“Begini, Laras. Kita harus mendata harta-harta peninggalan Ayah. Bagaimanapun, hal ini perlu dilakukan.”
Aku memandang jemu wanita bertubuh gemuk di depanku. Baru empat hari Ayah meninggal. Tak kulihat lintasan sedih setitik pun di bola matanya. Meski aku sudah menduga ia akan melakukan hal ini secepatnya, aku tetap merasa muak. Sepertinya, ia sangat khawatir aku akan menuntut bagian dari harta warisan Ayah.
“Sejak dulu aku sudah menjelaskan di mana posisimu,” kata Tante Erna penuh tekanan. Ia membuka map dan mengeluarkan isinya. “Kau tidak ada hubungan apa pun dengan Ayah.”
“Berarti, seharusnya, tak ada lagi yang harus dibicarakan,” tegasku.
Tante Erna mengangguk-angguk. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kusadari, Ayah memiliki banyak investasi. Semua usaha yang sekarang maju pesat itu dirintis susah-payah bersama almarhumah Ibu. Bisnis guest house di beberapa kota, lima minimarket, kafe di kawasan Kemang, penerbitan buku, dan terakhir yang sempat kudengar, Ayah mendirikan perusahaan IT Consulting. Semua tentu tidak bernilai sedikit.
“Tapi, harus diperjelas, Laras. Karena itu, kau harus menandatangani surat perjanjian ini.”
Aku mengerutkan kening, lalu memeriksa surat yang disodorkannya padaku. Kubaca sekilas selembar surat perjanjian bermeterai itu. Isinya tentang pernyataanku agar bersedia tidak mengusik semua harta warisan Ayah, karena aku bukan anak kandungnya. Aku meletakkan kembali surat itu dan memandang Tante Erna tak suka.
“Tolong, kau tanda tangani!” Tante Erna memerintah.
“Tidak perlu,” tukasku, sambil bangkit dari duduk. “Aku sudah tanda tangan di hati dan pikiranku mengenai hal ini. Sejak Tante memerintahku tidak pulang lagi ke rumah ini dan menjauhi Ayah.”
Muka Tante Erna memerah. Matanya memandangku garang. Aku menentangnya. Apa dia pikir aku Laras kecil yang bisa dibentak-bentak seenaknya seperti dulu? Sepertinya, kebencian yang kusimpan berpuluh tahun itu akan segera meledak sore ini.
“Buka pintunya, Tante. Aku mau pulang.”
“Tidak bisa. Kau harus tanda tangan dulu, Laras!”
Aku tertawa mendengar dia memaksa. “Jangan ganggu hidupku lagi, Tante. Ambillah harta Ayah semaumu. Aku tidak memerlukannya.”
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Tante Erna tertegun. Ia terlihat bingung. Antara menahan kepergianku atau membukakan pintu. Namun, ia melangkah untuk membuka pintu. Kesempatan ini kugunakan untuk meninggalkan ruang kerja Ayah. Di pintu aku menabrak Bagas. Tak kupedulikan wajahnya yang penuh tanda tanya. Aku bergegas menuju mobilku di halaman. Ingin lekas-lekas kutinggalkan rumah ini, agar luka hatiku tak makin menganga lebar dan kian memerih.
Usai jam kantor aku tidak langsung pulang. Luntang-lantung mengikuti keinginan hati. Mampir ke toko buku, keluar-masuk mal, memilih-milih DVD terbaru, dan akhirnya nongkrong di kafe. Duduk di kursi pojok berteman segelas cappuccino, kunyalakan laptop. Melalui internet kupesan tiket pesawat ke Surabaya untuk penerbangan besok pagi, sebelum pukul 12.
Tayangan program tahun baru yang menyita pikiran telah berakhir. Pak Arman, bos divisi produksi mengabulkan izin cutiku. Awalnya, aku berencana berlibur ke suatu tempat. Waktu seminggu kurasa lebih dari cukup untuk menenangkan pikiranku yang masih berkabung. Aku mempunyai beberapa pilihan tempat menarik. Bali, Lombok atau Bunaken. Tapi, percakapan dengan Rayan kemarin sore membuatku memilih tempat lain untuk kukunjungi.
“Menikahlah denganku, Laras. Agar aku bisa melindungimu setiap saat. Aku tidak bisa melihatmu bersedih terus seperti ini.”
Setiap kali Rayan mengulangi ajakannya, setiap kali pula perasaan bersalah menyerangku. Terlalu lama aku membuat Rayan menunggu.
“Semalam Mama kembali memintaku untuk segera menikah. Lucunya, beliau mengajukan calon lain, kalau kau memang tidak bersedia menikah denganku,” kata Rayan, diiringi tawa kecil. Meski sedikit kaget oleh kata-katanya itu, aku berusaha bersikap biasa-biasa saja.
“Maklumlah, Laras. Aku anak tunggal dan Mama sudah mulai tua. Ia ingin segera menimang cucu, sebelum benar-benar tua.”
“Kau sendiri bagaimana?”
“Aku?” Rayan kembali tertawa.
Aku menghela napas. Dulu, aku berharap akan memiliki keberanian untuk menanyakan hal yang sebenarnya pada Ayah sepulang dari Boston. Tapi, ternyata aku memang berjiwa kerdil. Bahkan, sampai Ayah pergi, aku belum mencoba bertanya. Hanya tenggelam dalam kegamanganku sendiri. Dan sekarang? Aku merasa jalan untuk menyingkap masa laluku telah tertutup. Rapat. Dan, aku tak tahu bagaimana membukanya lagi.
“Maafkan aku, Rayan, karena telah membuatmu menunggu begitu lama. Kalau kau memutuskan untuk pergi dariku, aku akan terima. Karena, aku tidak bisa mengawali kehidupan yang baru, sebelum jelas keberadaanku.”
Rayan menatapku lekat-lekat. Mataku mulai basah. Diam-diam, aku sangat takut kehilangannya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Laras. Aku mencintaimu. Sampai kapan pun.”
Ada perasaan tenteram, setelah Rayan mengucapkan kata-kata itu. Dan, aku berjanji dalam hati untuk segera mencari jalan keluar. Maka, aku membatalkan berlibur ke tempat wisata dan memutuskan pergi ke kampung halaman Ibu. Sebelum hijrah bersama Ayah ke Jakarta, Ibu tinggal di kampung. Tentu aku akan mendapat banyak informasi tentang masa lalu Ibu.
Ah, hidup ini seperti pertunjukan film. Manusia hanya sebagai pelaku cerita atas kuasa sang sutradara. Aku berharap, cerita hidupku akan berakhir bahagia. Yah, semoga begitu. Aku kembali meneguk cappuccino dan meneruskan browsing internet. Mencari-cari berita menarik.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Rayan masuk. Aku mencintaimu, Laras. Aku akan menunggu. Lewat jendela kafe, kulihat langit Jakarta senja hari kemerahan. Tersenyum, menghangatkan perasaanku.
TRENGGALEK, JAWA TIMUR, JANUARI 2006
Aku sengaja melakukan perjalanan secara backpacker. Dari Bandara Juanda Surabaya, aku masih memerlukan waktu lima jam untuk sampai Trenggalek. Kota kecil di ujung selatan Jawa Timur. Kampung kelahiran Ibu, sebuah kota kecamatan, satu jam dari Kabupaten Trenggalek. Aku mencarter sebuah mobil dari terminal, untuk mempercepat perjalanan. Lagi pula, aku tidak terlalu ingat letak kampung halaman ibuku.
Mobil yang kutumpangi meluncur di jalanan beraspal kasar. Meliuk di punggung pegunungan, di antara jurang dan tebing yang curam. Aku memandang ke luar jendela. Deretan gunung hijau mengepung. Monyet-monyet berkeliaran di tepi hutan-hutan yang masih perawan. Burung-burung terbang rendah, berkicau riang. Sesekali kabut tipis melayang. Membuat perjalanan ini seperti berada di antara awan-awan.
Aku teringat Nepal. Liburan musim semi setahun lalu, aku mengunjungi Kathmandu, menikmati gugusan Pegunungan Himalaya di kota Darjeeling, yang berbatasan dengan Tibet. Pemandangan di sini tak kalah indahnya.
“Kampung apa yang dituju, Mbak?” tanya sopir yang tadi memperkenalkan dirinya bernama Zaenal.
“Kecamatannya Munjungan, Pak. Tepatnya, kita ke Desa Karangturi.”
“Mbak asli sini atau berlibur saja?”
“Berlibur, Pak. Ibu saya asli daerah sini, tapi sudah sejak lahir saya tinggal di Jakarta.”
Pak Zaenal mengangguk-angguk. Matanya kembali menatap lurus jalanan yang meliuk di depannya. Air mataku mengambang, teringat kunjungan terakhirku ke kampung ini, untuk mengantar jenazah Ibu.
Tiba di tempat, hari menjelang sore. Aku terperangah. Rumah Nenek yang berada di tepi jalan utama kampung sudah menjadi puing-puing, di antara rumah-rumah lain yang berjajar rapi dengan bangunan batu bata.
Penulis: Sri Lestari


