
Petikan gitar, tabuhan drum dan betotan bass saling bersahutan di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, awal Maret lalu. Suara-suara merdu para penyanyi dan band-band lintas genre memuaskan para penikmat jazz yang hadir meramaikan acara International Java Jazz Festival 2016. Setidaknya ada 40 musikus dalam negeri dan 36 penampil dari mencanegara yang tampil di 11 panggung.
Kehadiran Patti Austin bersama Jazzorchestra of Concergebouw dan permainan instrumen jazz saksofon oleh Candy Dulfer menjadi magnet tersendiri untuk menguatkan rasa ‘jazz’ yang sesungguhnya. Sementara, perpaduan alunan trompet oleh Chris Botti dengan petikan gitar khas Sting terdengar garang di hari kedua dan ketiga. Keduanya menjadi salah satu ‘bom’ yang dicari para pengunjung, selain David Foster dengan lagu-lagu romantis andalannya dan Robin Thicke yang terdengar energik pada penampilannya di hari pertama.
Walau para penampil hadir dari berbagai genre yang mereka usung, tak lantas menghilangkan DNA jazz yang menjadi akar dari festival jazz terbesar di Asia ini. Seperti Naif yang untuk pertama kalinya tampil di Java Jazz Festival, merombak habis gaya bermusiknya. Band tahun ‘90-an itu memboyong pemain trombon, trompet, dan saksofon untuk menguatkan sentuhan jazz yang mereka bawakan.
Begitu juga dengan Raisa yang mengaransemen ulang lagu-lagunya menjadi lebih jazzy. “Sekarang penikmat jazz lebih banyak dan interpretasi jazz pun jadi lebih beragam. Jadi kita menyesuaikan lagunya dengan apa yang diinginkan para penikmat jazz,” ceritanya, sesaat setelah ia tampil di BNI Hall membawakan lagu-lagu soundtrack film. Sementara beberapa penampil lain tetap digandrungi para pengunjung walau tak sepenuhnya menyuguhkan genre khas festival tahunan ini, seperti Endah & Rhessa + Dialog Dini Hari yang mengalun santai ala indie folk, atau Float yang kental dengan esensi musik pop folk-nya. (f)


