
Foto: Dok. GCM Group
Di malam harinya, presentasi untuk para pria digelar. Bekerjasama dengan sebuah majalah untuk pria di Indonesia, Ai Syarief dengan labelnya Ai Syarif 1965, Salvi Arzharael dengan label Swank, Wilsen Willim, dan Mel ahyar XY, keempatnya menampilkan rangkaian busana pria untuk tahun mendatang.
Ai Syarif 1965 mengambil inspirasi dari bintang Hollywood legendaris, Charlie Chaplin. Nuansa monokromatik berhiaskan grafis wajah karakter khas Charlie Chaplin, The Tramp, dalam gaya yang eklektik dan muda. Aksen topi pun muncul di berbagai tampilan, sayangnya topi yang dipilih bukanlah bowler hat yang menjadi ciri khas Chaplin.
Setelah 8 tahun berkarya, untuk pertama kalinya, Swank yang didirikan oleh Salvi Arzharael menjajal panggung Jakarta Fashion Week untuk pertama kalinya, masih mengusung konsep premium streetwear, berbagai tampilan dihiasi bordir ilustrasi dalam permainan komposisi siluet yang tergolong unik. Dengan desain yang tergolong aman untuk debut koleksinya di Jakarta Fashion Week, finishing dan keseluruhan tampilan seharusnya dapat lebih ditingkatkan lagi untuk presentasi selanjutnya.
Walau baru mulai mempresentasikan koleksinya beberapa tahun lalu di berbagai panggung mode ternama Ibukota, Wilsen Willim tampil memukau dengan koleksi busana prianya. Nuansa warna perak dan monokromatik yang wearable namun tetap tampil posh. Tampilan riasan mata dengan lampu LED pada kelopak mata dan glitter yang menghiasi tatanan rambut model tampak menyempurnakan presentasi yang dihiasi tatanan lampu yang misterius dan futuristik.
Presentasi malam hari itu ditutup oleh presentasi dari Mel Ahyar XY. Busana pria yang didesain untuk ‘lelaki sejati’ tampak cukup playful dengan permainan corat-coret dan ilustrasi aneka warna di berbagai potong busana yang ditampilkan. Nampak ada sedikit diskoneksi antara inspirasi dan hasil desain yang dituangkan oleh tim Mel ahyar XY malam hari itu.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
Topic
#ReportaseModeFemina, #JakartaFashionWeek, #JFW2020


