Fashion Trend
Reinventing Tenun: Journey to Algorithm, Surat Cinta Wilsen Willim untuk Wastra Nusantara

28 Aug 2026

Wilsen Willim dan penenun di Halaban, Sumatra Barat. Foto: Dok. Wilsen Willim


Romansa desainer fashion Wilsen Willim dengan wastra Nusantara, baik batik maupun tenun, seperti drama penuh plot twist.

Dianggap tidak bakal bisa mengangkat wastra Nusantara lewat desainnya oleh orang terdekat hingga bertemu dengan sosok yang terus menyemangatinya untuk eksplorasi, Wilsen Willim kini tak henti mengolah serta mencintai tenun dan batik to the moon and back, dari hulu ke hilir.

Rasa cinta itu ia wujudkan menjadi sebuah serial dokumenter bertajuk Reinventing Tenun: Journey to Algorithm, yang diputar perdana tepat di hari ulang tahunnya pada 21 Agustus 2026 di XXI Plaza Indonesia, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian selebrasi 10 tahunnya berkarya.

Kejutan tiup lilin saat pemutaran di XXI Plaza Indonesia; bersama para sahabat di Flix Ashta District 8. Foto: Dok. Wilsen Willim

The birthday boy justru memberikan kado yang menjadi sebentuk cintanya pada wastra Nusantara, baik sebagai desainer maupun orang Indonesia yang peduli akan lestarinya tenun.

Enam episode Reinventing Tenun: Journey to Algorithm merekam kisah di balik pembuatan koleksi adibusana pertama Wilsen Willim, Algorithm: Universal Language, yang dipresentasikan 8 Juli silam.

Docuseries ini mengikuti perjalanan Wilsen Willim berkelana ke empat daerah di Indonesia, menampilkan Tenun Songket dari Jembrana Bali, Tenun Sutra Garut dari Bandung Selatan, Jawa Barat, Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Putussibau, Kalimantan Barat, serta Songket Minang dari Halaban, Sumatra Barat. 

Berdiskusi dengan penenun muda, calon pelestari wastra Nusantara. Foto: Dok. Wilsen Willim

Lewat dokumenter yang disutradarai oleh sineas dan fotografer muda Jibril Erlangga ini, serta didukung oleh para kolaborator antara lain Yayasan Kawan Lama dan Cita Tenun Indonesia, Wilsen Willim mengajak penonton untuk mengintip kisah di balik sehelai tenun. 

Hasil tenun itu bukan saja indah dari visual, tapi juga indah karena bisa menghidupi keluarga para penenun, sekaligus menjadikan penenun perempuan berdaya.

“Setiap daerah harus tailored, disesuaikan dengan masalahnya,” kata Wilsen Willim tentang pelestarian tenun, berdasarkan perjalanannya ini, saat Re-See koleksi Algorithm: Universal Language bulan lalu. 

Generasi penerus para penenun dengan gedogan, bukan dengan ATBM. Foto: Dok. Wilsen Willim

Dokumenter ini ikut menghadirkan proses tenun yang diolah dari benang daur ulang ini terealisasi menjadi adibusana.

“Menjadi misiku 10 tahun ke depan untuk memajukan tenun Indonesia, dan docuseries ini adalah storytelling-ku agar tenun itu dikenal dan memberi benefit bagi penenun,” kata Wilsen Willim. 

Reinventing Tenun: Journey to Algorithm juga diputar terbatas untuk siswa fashion di Flix Ashta District 8, Jakarta, pada 24 Agustus 2026. (f)

Baca juga:
Wilsen Willim x Dian Sastrowardoyo, Kolaborasi Dua Pencinta Warisan Budaya
Algoritma Tenun di Semesta Paralel Wilsen Willim
Palet Warna Khas Hari Raya dan Siluet Bervolume di Koleksi Terbaru Wilsen Willim

 

Zornia Harisantoso


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?