Legasi ini terlihat pada show tahunan Iwan Tirta Private Collection bertajuk Mahitala yang berlangsung beberapa waktu lalu di St. Regis, Jakarta. Mahitala yang berarti "bumi agung" dalam Bahasa Sanskerta dituangkan ke dalam koleksi batik yang menampilkan keindahan lanskap Indonesia, sang bumi agung.
Pemandangan hutan hujan tropis di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, serta lanskap Papua, hadir dalam palet warna hangat seperti merah tua, kuning kunyit, biru turquoise hingga hijau lumut, cokelat dan abu-abu.
Keindahan motif batik yang menonjol dalam siluet modern. Foto: Dok. Iwan Tirta Private Collection
Flora dan fauna Nusantara jadi primadona pada motif batinya; burung endemik seperti cenderawasih dan maleo, serta flora khas seperti anggrek hitam, cempaka, dan kenanga, juga harimau Sumatra dan anoa Sulawesi yang digambar dengan apik oleh para pembatik ahli.
Siluet modern dipilih agar batik menjadi fokus utama dari 50 looks yang tampil dalam show ini. Dari relaxed shirt, coat, puffer sleeves style, ruffle dress, oversized jacket, gaya layering yang tetap ringan dan elegan, hingga dress simpel serta palazzo pria yang stylish, semuanya menonjolkan keindahan sang batik.
Material yang dipilih pun beragam; katun, sutra tenun tangan, herringbone, Tencel linen, katun 100-double, sutra satin, sutra dan sifon jacquard menyempurnakan narasi memikat tiap motif batik.
"Visi kami adalah memastikan bahwa batik tetap relevan dan dicintai oleh generasi mendatang, baik di Indonesia maupun dunia global," ujar Rindu Melati Pradnyasmita, Head of Marketing Iwan Tirta Private Collection.
Zornia Harisantoso


