Semua orang pasti punya preferensi gaya masing-masing; untuk pria, saat ini pilihan gaya begitu beragam, dan tak jarang banyak busana pria gender-fluid alias bisa juga dikenakan wanita.
Bagi pria yang lebih suka bergaya klasik, sentuhan maskulin pastinya masih mereka utamakan. Beda cerita bagi pria yang berani bereksperimen gaya, meski lingkungannya bukan dunia fashion maupun industri kreatif.
Merancang busana pria yang fashionable kini jadi tantangan tersendiri.
Koleksi Amotsyamsurimuda dan Danjyo Hiyoji dari Indonesia; koleksi Behati dan Kit Woo dari Malaysia. Foto: Dok. PIFW, Dok. KLFW/Saufi Nadzri
“Desainer menswear harus bisa ada di tengah-tengah; mengakomodasi keinginan pria yang mau mengikuti tren tapi juga tidak terlalu fashion-dorward,” ujar Temma Prasetio, Pemenang II Lomba Perancang Mode Menswear 2018, yang beberapa waktu lalu menggelar koleksi terbaru di Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) 2025.
Karena itu, dalam merancang Temma berprinsip merancang fashion untuk non-fashion people, agar koleksi busana prianya bisa dipakai pria dengan beragam preferensi gaya.
Temma tidak sendiri; berbagai jenama fashion kini mencoba menafsirkan ulang busana pria masa kini, yang tak hanya dipakai fashion enthusiasts, tapi juga pria konservatif yang tetap ingin tampil fashionable.
Koleksi busana pria yang ditampilkan di PIFW 2025 dan Kuala Lumpur Fashion Week 2025 Agustus silam bisa jadi contoh bagaimana busana pria telah berevolusi dalam siluet, tekstur dan warna, namun terlihat maskulin.
Di runway, pria tak melulu memakai celana (seperti para pria di masa lampau), siluetnya begitu lentur; longgar, ketat, mengikuti gerak.... Gaya personal tiap invididulah yang akan membuat total look tetap maskulin, atau gender-fluid.
Baca juga:
Inspirasi Gaya dari Pergelaran IN2MOTIONFEST 2025
Renungan SAPTO DJOJOKARTIKO di Koleksi Spring/Summer 2026
Luncurkan Program Inkubasi, Mel Ahyar Archipelago Mengembangkan Potensi Wastra di Tanah Laut
Zornia Harisantoso


