Begitu pula ketika Sapto Djojokartiko menggelar fashion show koleksi Spring/Summer 2026 pada 14 Oktober lalu. Lokasi The Penthouse di Sentral Senayan II, Jakarta, boleh sama dengan presentasi fashion tahun lalu, namun presentasi kali ini menghadirkan pengalaman berbeda.
Atmosfer raw dan industrialis langsung terasa begitu para tamu memasuki ruangan dan mencari tempat duduk mereka di tengah cahaya temaram kemerahan. Sebuah kondisi yang sesuai konsep koleksi Spring/Summer 2026, merupakan renungan dan eskapisme, tempat untuk bernapas.
Koleksi Spring/Summer 2026, bentuk protes akan kondisi dunia saat ini. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko
Para tamu, yang bertabur selebritas, hadir dalam koleksi Sapto Djojokartiko favorit mereka, bagaikan pameran keragaman portofolio sang desainer.
Narasi dari aktor senior Rukman Rosadi tentang eskapisme mengantarkan penonton menyaksikan koleksi ini. Music score orisinal dari duo elektronik Mantra Vultura menggema dan memperkuat atmosfer ruang.
Sejak model internasional Jaycee Philana tampil sebagai First Face, Sapto Djojokartiko hanya sedikit memberi jeda kepada penonton untuk mengagumi busana yang melintasi runway, sebelum penonton kembali terpukau pada tampilan selanjutnya.
Ada 50 tampilan yang lahir dari pengamatan terhadap dunia pasca pandemi yang belum sepenuhnya pulih, konflik global yang tampak tidak berkesudahan, perekonomian dunia yang limbung, hingga kehidupan sosial yang dipenuhi kegaduhan opini tanpa jeda.
Inilah bentuk protes Sapto Djojokartiko akan kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja, namun juga sebuah upaya halus untuk menenangkan diri dan menyalakan percikan harapan yang sempat redup.
Sapto Djojokartiko dan interior ruang presentasi show di The Penthouse, Sentral Senayan II. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko, IG @geofannytambunan
Eskapisme di sini bukan berarti pelarian, melainkan menciptakan ruang imaji di mana jiwa mendapat jeda dari tekanan hidup, yang diterjemahkan koleksi ini melalui lapisan kain, tekstur, dan warna.
Sapto Djojokartiko membuka kembali arsip rancangannya dan menafsirkan ulang gaya yang lebih berlapis, presisi, sekaligus kompleks. Motif kotak-kotak yang pernah hadir sebagai kain jadi kini ditransformasikan menjadi bordir buatan tangan menyerupai anyaman, dengan efek 3D yang imajinatif.
Motif buah noni atau mengkudu (tanaman tropis simbol penyembuhan dalam tradisi Nusantara) muncul bersama bordir yayi-turangan berupa kuda dengan garis-garis stensil ombak.
Elemen khas Sapto Djojokartiko seperti organza transparan, bahan sifon melayang, dan bordir kali ini diolah dengan cara berbeda. Lapis demi lapis kain dipotong, disusun, lalu ditindis seperti pelindung, merefleksikan kebutuhan akan kenyamanan dan kehangatan.
Para tamu dalam koleksi favorit mereka: Sheila Dara, Wulan Guritno dan putrinya, Tissa Biani dan Ayushita. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko, IG @tissabiani
Siluet koleksi ini lugas dan lebih sadar bentuk. Jaket berpotongan jam pasir menegaskan garis tubuh tanpa kehilangan femininitas, sementara gaun pendek menunjukkan keseimbangan antara seni dan fungsi. Celana hadir dalam berbagai variasi, termasuk dari bahan denim dan leather.
Detail seperti rumbai, sulam manik-manik, dan bordir mengaksentuasi tekstur, menghadirkan permainan dimensi termasuk dalam aksesori seperti tas tangan, sepatu, dan syal segi empat.
Harmoni antara ketenangan dan energi mendasari palet warna yang dipilih. Nuansa bumi seperti Sahara (krem), Plum, Lava (cokelat tua) berpadu dengan rona cemerlang Capri (biru langit), Herb (hijau tua), Bonbon (pink), hingga Sriracha (merah cabe), simbol kehangatan dan optimisme.
Pasangan Rangga & Cinta, Leya Princy-El Putra Sarira, Alyssa Daguise-Al Ghazali, Angga Yunanda-Shenina Cinnamon. Foto: Dok. Sapto Djojokartiko
Sentuhan tradisi sebagai ciri rumah mode ini hadir dalam sulam halus kerancang dan corak batik kawung yang diukir pada material kulit. Ada pula ikat cemplong Bali yang direinterpretasi dengan detail appliqué dan jaket sulam bulu, terinspirasi seni kolonial baroque.
Setiap detail dikerjakan dengan tangan oleh para perajin, menghadirkan kompleksitas visual yang nyaris tak bisa disalin mesin produksi massal. Proses yang memakan waktu ini bukan sekadar pilihan estetis, melainkan pernyataan bahwa keindahan memang menuntut kesabaran, dedikasi, serta waktu lebih panjang.
Baca juga:
Eksplorasi Wastra Nusantara dalam Saptojo Heritage, Koleksi Terbaru Sapto Djojokartiko
Ini Dia Desainer Lokal di Balik Baju Alyssa Daguisé, dari Pengajian Sampai Acara Ngunduh Mantu!
L'Art Botanique du Paradis di Museum Nasional Indonesia, Selebrasi 75 Tahun Persahabatan Indonesia-Prancis
Zornia Harisantoso


