Family
Ingin Anak Jadi Atlet? Simak Dulu Cerita Orang Tua Atlet Nasional BMX Ini

20 Sep 2018

Foto: Dok. Pribadi

Tak ada yang lebih mengharukan bagi Gilang Gumilang, saat melihat putrinya Shahnaz Gunantika Mumtaz (12) menjadi Juara Nasional BMX Cross Kategor Challenge Girl U11 - 13, dua tahun berturut-turut, 2017 dan 2018. Naz, begitu ia dipanggil, juga tercatat sebagai Juara Seri Nasional Roadbike 2017 dan 2018 Tugu Muda Semarang Kategori Kadet Putri. Di balik putri yang kuat, ada tekad orang tua yang mendukungnya, tanpa ragu.
 
“Kebetulan saya dan ibunya suka olahraga sepeda. Naz itu hiperaktif. Bersepeda yang membuatnya capek kemudian jadi cara untuk membuatnya tenang terkendali.”
 
Naz begitu mengidolakan Risa Suseanty (atlet sepeda downhill). “Ingin ketemu Risa di Ragunan, dia maksa naik sepeda ban 16, single speed, dari Depok ke Ragunan. Sampai sana dia digendong Risa dan seneeeeng banget. Saat itu usianya baru 4 tahun.”
 
Usia 5,5 tahun ia sudah menjajal lomba uphill 12,5 km di Sentul, Bogor. Bikiin heboh karena ia berhasil finis tanpa dibantu. Tidak ada yang nyangka, apalagi itu lomba yang diikuti atlet-atlet. Ia pun mendapat penghargaan The Most Inspiring Uphiller. Inilah yang menyadarkan Gilang, bahwa putrinya memiliki bakat dan minat pada olahraga sepeda.
 
Kecintaanya menekuni olahraga sepeda sama sekali tidak mengganggu pendidikan formal Naz. Karena tenaga tersalur, ia malah jadi lebih konsentrasi saat belajar. Ia masuk kelas unggulan dari kelas 3 hingga kelas 6. Bukan hanya itu, Naz lolos jalur prestasi dan juga jalur resmi (online) di SMP idamannya.
 
Memang untuk membagi waktu lebih repot. Ia latihan 5 kali seminggu. Biasanya ia latihan sore hari, karena sekolah pagi hingga siang. Akhir minggu ia latihan. Seminggu sekali biasanya ada latihan malam, antara jam 7 - 9 malam. “Tapi Naz tidak bisa ikut kursus ini atau itu di luar jam sekolah dan latihan. Tidak masalah, karena nilainya tetap bagus.”
 
Prestasi Naz saat ini membuat Gilang sudah bangga. Tak sia-sia ia mengantarkannya berlatih dari rumah mereka di Depok ke Rawamangun untuk dilatih manta atlet sepeda, dan mencari sponsor. Dari pengamatan Gilang, menjadi atlet saat ini bisa menghidupi, terutama di saat jaya. Gaji atlet sepeda berprestasi belasan juta -jika masuk tim beken. Sekitar 20-an jika masuk tim Asia (termasuk Asia Tenggara). Itu belum sponsorship dan bonus. Bahkan kalau masuk tim kontinental yang mengikuti lomba di classic tour, gaji per tahun miliaran rupiah karena sponsorship.
 
Naz saat ini sudah mendapat sponsor sepeda dan apparel, serta sebagian dana dana lomba tapi itu belum sepenuhnya menutupi kebutuhan dana untuk biaya lomba yang mengharuskannya pergi ke luar kota dan luar negeri. Gilang mengaku harus mengeluarkan minimal Rp60 juta per tahun persiapan dan biaya lomba saja. Biaya makin tinggi jika ia bertanding di luar negeri, seperti saat ia meraih emas di Malaysia. Gilang merelakan enam sepeda kesayangannya untuk memenuhi biaya itu.
 
“Sebetulnya ada yang mau mengikat Naz, dengan memberi uang perbulan, misalnya, tapi saya belum mau. Naz masih kecil. Di sisi lain, saya enggak mau ia terbebani oleh kewajiban harus menang dari sponsor.”
 
Gilang yakin masa depan Naz di sepeda akan cemerlang. Saat ini beberapa daerah sudah memintanya untuk mewakili daerah mereka, keputusan akan diambil tahun depan. Bagaimana dengan masa depan setelah karier atlet? Naz ternyata sudah merancang hidupnya: jadi atlet dan TNI angkatan darat.
 
Ingin mendorong anak untuk jadi atlet seperti Naz? Berikut beberapa tip terpenting dari atlet nasional di halaman berikut.
 


Topic

#atlet, #family

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?