
Mary & Freddie Mercury
Mary Austin - Love of My Life, Freddie Mercury/Queen
Freddie Mercury memang seorang homo seksual, namun justru Mary Austin yang ia angap sebagai cinta sejatinya. Mary terlahir dari kelas pekerja yang tinggal di London Barat. Pada usia 15 tahun, ia berhenti sekolah dan mulai bekerja untuk menyambung hidup.
Mary kemudian berpacaran dengan Brian May, musisi muda yang saat itu sedang merintis band-nya. Namun, hubungan cinta mereka tidka bertahan lama, dan meski putus, Brian mengenalkan Mary kepda teman-teman anggota band-nya, yang diduga merupakan cikal bakal Queen. Mary pun tertarik pada Freddie.
Mereka mulai berpacaran pada awal tahun 1970-an, dan Mary menjadi pendamping Freddie ketika Queen mulai menjadi begitu popular dan sukses. Meski kepribadian mereka digambarkan sangat bertolak belakang, Freddie sangat gemar perhatian publik, sementara Mary pemalu, mereka merasa cocok dan hidup bersama.
Setelah hidup bersama selama 7 tahun, Mary merasa popularitas Queen yang menempatkan Freddie dan kawan-kawannya pada kehidupan selebritas, memebuat Freddie tidak lagi tertarik padanya. Suatu hari, ia memutuskan untuk meninggalkan Freedie, namun Freedie tidak mau melepasnya.
Pada masa-masa inilah, Freddie menulis beberapa lagu untuknya, dan yang terkenal adalah “Love of My Life”. Tak lama kemudian, Freddie mengaku kalau dirinya gay, sehingga membuat Mary meninggalkannya.
Meski begitu, Mary tetap menjadi teman terbaik bagi Freddie. Bahkan, Freddie mengaku bahwa Mary lah satu-satunya orang yang ia cintai sungguh-sungguh dan pernah ia ajak bertemu orang tuanya.
Ketika pada tahun 1987 Freddie mengaku mengidap HIV, Mary sangat patah hati dan merawat Freddie dengan sungguh-sungguh. Freddie yang akhirnya meninggal di usia 45 tahun mewariskan kekayaannya kepada Mary untuk memastikan kekasih sejatinya ini hidup berkecukupan. Selain menadapatkan 10 juta USD (sekitar Rp 140 milyar), Mary juga mendapatkan mansion yang menjadi tempat tinggal Freddie yang masih ia tinggali hingga saat ini.
Mary kemudian berpacaran dengan Brian May, musisi muda yang saat itu sedang merintis band-nya. Namun, hubungan cinta mereka tidka bertahan lama, dan meski putus, Brian mengenalkan Mary kepda teman-teman anggota band-nya, yang diduga merupakan cikal bakal Queen. Mary pun tertarik pada Freddie.
Mereka mulai berpacaran pada awal tahun 1970-an, dan Mary menjadi pendamping Freddie ketika Queen mulai menjadi begitu popular dan sukses. Meski kepribadian mereka digambarkan sangat bertolak belakang, Freddie sangat gemar perhatian publik, sementara Mary pemalu, mereka merasa cocok dan hidup bersama.
Setelah hidup bersama selama 7 tahun, Mary merasa popularitas Queen yang menempatkan Freddie dan kawan-kawannya pada kehidupan selebritas, memebuat Freddie tidak lagi tertarik padanya. Suatu hari, ia memutuskan untuk meninggalkan Freedie, namun Freedie tidak mau melepasnya.
Pada masa-masa inilah, Freddie menulis beberapa lagu untuknya, dan yang terkenal adalah “Love of My Life”. Tak lama kemudian, Freddie mengaku kalau dirinya gay, sehingga membuat Mary meninggalkannya.
Meski begitu, Mary tetap menjadi teman terbaik bagi Freddie. Bahkan, Freddie mengaku bahwa Mary lah satu-satunya orang yang ia cintai sungguh-sungguh dan pernah ia ajak bertemu orang tuanya.
Ketika pada tahun 1987 Freddie mengaku mengidap HIV, Mary sangat patah hati dan merawat Freddie dengan sungguh-sungguh. Freddie yang akhirnya meninggal di usia 45 tahun mewariskan kekayaannya kepada Mary untuk memastikan kekasih sejatinya ini hidup berkecukupan. Selain menadapatkan 10 juta USD (sekitar Rp 140 milyar), Mary juga mendapatkan mansion yang menjadi tempat tinggal Freddie yang masih ia tinggali hingga saat ini.
Topic
#queen, #freddiemercury




