
Foto: Fotosearch
Kita memang perlu produktif di usia muda. Maklum, selain pikiran masih fresh setelah lulus kuliah, semangat pun sedang tinggi-tingginya sehingga tubuh terasa berenergi. Sayang banget, deh, jika kita menyia-nyiakannya untuk bermalas-malasan.
Tapi… produktif di sini bukan berarti kita boleh memforsir tubuh kita untuk bekerja terus menerus, ya! Bagaimana pun, kan, kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita, baik secara materi maupun kepuasan batin. Kalau kebanyakan kerja, bisa-bisa salah satu kebutuhan ini—bahkan dua-duanya—malah nggak tercapai, tuh!
Yuk, cari tahu apakah kita termasuk orang yang overworked. Setelah itu, coba, deh, bikin hidup lebih seimbang dan menyenangkan!
Overworked = overtime?
Menurut Wesmira Parastuti (Mia), konsultan karier dari Wesmira Psychological & Recruitment Services, pembagian waktu bagi manusia dewasa pada umumnya adalah untuk bekerja, istirahat, dan melakukan kebutuhan khusus seperti makan maupun hobi—masing-masing delapan jam per hari. Artinya, nih, berada di kantor lebih dari delapan jam menunjukkan kalau kita bekerja overtime!
Meski begitu, nggak selamanya overtime identik dengan overworked. Jika overtime ditentukan berdasarkan perhitungan waktu, maka overworked lebih bersifat relatif pada tiap orang.
“Misalnya, ada orang yang bekerja hanya enam jam sehari. Tapi karena pekerjaannya menuntut stamina fisik dan daya pikir yang berat, dia pun bisa dibilang bekerja berlebihan,” kata Mia.
Beda dengan seseorang yang bekerja 11 jam sehari, tapi memiliki tuntutan fisik dan mental yang minim. Dari sisi psikologis, dia nggak terlalu merasakan beban berat akibat pekerjaan dan overworked. Tapi, ibaratnya mobil yang terlalu sering dipakai, kita juga berpeluang ‘aus’, tuh, alias kelelahan!
Minim kesadaran
Ada beberapa alasan mengapa seseorang bekerja berlebihan. Dia bisa jadi menyukai tantangan, kurang bisa mengatur waktu, atau memiliki beban pekerjaan yang terlalu banyak. Namun sebenarnya, sih, ini terjadi karena dia nggak menyadari hal-hal yang dilakukan dan diperlukannya.
Buktinya, ada saja orang yang tetap mempertahankan posisinya walau dia selalu overworked. Sudah bekerja overtime, nggak ada uang lembur maupun penyediaan transportasi pula.
“Jika kondisinya seperti ini, dia sebenarnya sudah memahami kalau dia overworked, tapi belum menyadarinya secara penuh. Jadi, dia tahu apa yang dihadapinya, namun belum menemukan jalan untuk memperbaikinya,” jelas Mia.
Nah, penyebabnya beragam. Misalnya, dia belum memiliki kesempatan, keberanian—karena takut mengambil risiko terhadap hal yang ditemui, atau belum tahu apa yang diinginkan, khususnya dalam mengaktualisasikan diri dalam dunia kerja. Hasilnya, dia tenggelam dalam pekerjaan, deh.
Emosi & fisik terganggu
Kalau nggak waspada, bekerja berlebihan dapat mengganggu kesehatan emosional kita, tuh. Tiap harinya kita jadi merasa cemas kalau nggak menyelesaikan tugas dengan cepat. Hasilnya, kita memilih untuk makan siang di depan komputer daripada di luar kantor.
Contoh lainnya: kita mudah terpancing emosi. Saat pacar mengajak nonton bioskop di malam hari, kita tersinggung dan menganggapnya nggak pengertian terhadap kesibukan kita. Saat ada sesuatu yang nggak berjalan sesuai rencana, kita juga jadi mudah kesal.
“Bisa dibilang hati kita merasakan gelisah, nggak nyaman, kosong dan nggak puas. Apalagi jika reward yang kita dapat nggak sepadan dengan usaha kita,” tambah Mia.
Hati lelah, kesehatan fisik pun berisiko terpengaruh. Seseorang yang sebelumnya jarang sakit, misalnya, bisa jadi sekarang mudah terkena flu atau sakit kepala. Maklum, daya tahan tubuh menurun akibat terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat. Waspadai juga gejala seperti leher kaku, punggung nyeri, berkurangnya nafsu makan hingga depresi.
Manajemen waktu!
Nggak mau, dong, kebanyakan kerja selamanya. Bisa-bisa kita makin cepat keriput, tuh, karena nggak bahagia. Jadi, hal pertama yang mesti kita lakukan adalah mencari tahu apakah profesi yang kita jalani saat ini sudah sesuai panggilan jiwa atau minat.
Jika ya, tentulah lebih mudah bagi kita untuk tetap bergelut di bidang tersebut. Selanjutnya, kita tinggal membenahi manajemen waktu, deh. Cobalah bekerja secara efisien agar dapat memberikan hasil yang maksimal dan memuaskan. Misalnya, hindari browsing facebook atau twitter saat menyelesaikan laporan rapat.
“Usahakan juga untuk menunda membalas bbm atau pesan yang masuk ke ponsel. Kesannya mungkin sepele, tapi hal inilah yang membuat waktu kita berkurang banyak. Padahal, masih ada pekerjaan lain yang seharusnya lebih diprioritaskan,” kata Mia.
Yang nggak kalah pentingnya: hematlah waktu dengan mengadakan meeting efektif. Daripada bertemu klien di mal mewah yang terletak jauh dari kantor, mendingan pilih resto yang di tengah kota. Siapkan juga materi dengan matang agar meeting bisa segera menghasilkan kesepakatan. Jadi, kita nggak buang-buang waktu, deh. (f)
Topic
#manajemenkerja


