
Foto: 123RF
Beberapa orang pindah kerja dari perusahaan besar ke perusahaan start-up dengan berbagai alasan, mulai dari lebih bebas mencurahkan ide gila, meningkatkan peluang karier, hingga jam kerja yang lebih fleksibel. Terdengar menyenangkan memang. Namun, semua keuntungan yang ditawarkan tentu berbanding lurus dengan tantangan yang dihadapi. Ritme kerja yang sangat cepat, membangun sistem kerja dari nol, banyak trial and error, anggaran kerja yang terbatas, nama yang tidak dikenal, hingga ancaman nyawa perusahaan yang tidak bertahan lama.
Tiara Sugiyono (30), Marketing Manager iFlix
Membangun dari Awal
Belum genap sebulan bergabung di perusahaan televisi internet berbayar, saya sudah harus siap dengan tuntutan pekerjaan yang tidak pernah saya prediksi sebelumnya. Karena sistemnya masih meraba-raba, saya dan tim harus mencari tahu dan menemukan jalan yang tepat untuk membentuk sistem kerja yang cocok bagi perusahaan dan timnya. Inilah konsekuensi yang harus saya hadapi ketika bekerja di perusahaan start-up dengan sistem yang belum tetap.
Karena memang masih perusahaan baru, saat tidak berhasil mempraktikkan suatu sistem, maka kami harus membangun sistem lain lagi dari sudut yang berbeda. Kami harus bisa menemukan aktivasi promosi dan rencana pemasaran yang tepat dan gencar. Jadi, banyak trial and error.
Di bulan pertama kerja, saya benar-benar kewalahan. Semua tugas dikerjakan seorang diri. Bahkan saya yang terbiasa bekerja multitasking di perusahaan saluran televisi kabel pun, tetap kewalahan. Maklum saja, saat itu kami belum menemukan tim yang cukup, karena memang memilih tim yang pas itu cukup tricky. Mereka harus memiliki visi dan misi yang sama, juga passion, kemampuan, dan pemahaman yang cukup di bidang televisi digital.
Ditambah lagi fakta bahwa industri digital dan internet punya ritme kerja yang lima kali lebih cepat dibandingkan saluran televisi konvensional. Awalnya saya sempat kaget, tapi saya merasa harus cepat beradaptasi. Karena, jika kita melewatkan satu hal saja, maka akan melewatkan semuanya. Contohnya, kalau kita tidak mengetahui perkembangan televisi digital, maka pelanggan akan beralih ke produk lain yang lebih sigap dan menawarkan sesuatu yang lebih menarik.
Kendati tempat saya bekerja dulu dan sekarang memiliki benang merah, yaitu saluran televisi, ada beberapa hal dari pengalaman kerja 5 tahun di tempat yang dulu yang tidak terpakai ketika bekerja di tempat yang sekarang. Pasalnya, ada beberapa hal di perusahaan internet atau digital yang harus dilakukan dalam ritme kerja yang sangat cepat. Maka, jika di korporat kita harus membuat rencana pemasaran tahunan, di sini saya harus membuat rencana.
Walau sempat khawatir untuk melepaskan pekerjaan di perusahaan yang bergengsi dengan segala kemewahan fasilitas, tantangan pekerjaan baru di perusahaan start-up justru merupakan hal yang saya perlukan. Karena saya percaya, di balik brand yang bagus ada orang-orang hebat yang membangunnya.
Rieka Handayani (32), Digital PR Manager Blanja.com
Memecut Jiwa Muda
Tidak bisa dipungkiri, ketika menangani pemasaran untuk klien perusahaan tambang raksasa, sehari-harinya saya terbiasa dengan suasana formal dan atmosfer serius. Bagaimana tidak, saya harus bekerja dengan mereka yang berusia di atas 40 tahun, dengan pengalaman kerja yang lebih lama. Suasana kerja terkesan kaku, sangat terstruktur dan serba rapi.
Semua itu sontak berubah ketika akhirnya saya memutuskan untuk menapaki karier lain di perusahaan rintisan e-commerce sejak Januari 2016 lalu. Semua kekakuan dan formalitas yang saya rasakan pada pekerjaan sebelumnya luntur dengan semua suasana kasual yang santai.
Anggota tim saya adalah anak-anak muda berusia 25, 23, bahkan 21 tahun. Semangatnya masih tinggi dan bekerja dengan mereka penuh keceriaan. Namun, bekerja bersama mereka yang muda tidak lantas membuat saya lebih santai. Karena ternyata, ketika menghadapi mereka, tidak semudah yang saya kira.
Orang muda memang punya semangat menggebu-gebu, tapi terkadang membutuhkan waktu lama untuk take action. Ini menuntut saya untuk ‘memecut’ mereka supaya lebih proaktif dalam bekerja. Belum lagi mereka cenderung moody, sehingga ketika saya memberi masukan, mereka menganggap saran tersebut terlalu personal. Ini justru menantang saya untuk bisa dekat dengan mereka tanpa melupakan batas profesionalisme.
Tantangan lain adalah ketika saya harus turut membangun sistem baru yang akan dijalankan perusahaan. Awalnya kami tidak tahu sistem seperti apa yang cocok untuk diterapkan, sehingga trial and error menjadi satu-satunya cara untuk menemukan sistem kerja yang tepat.
Misal saja, tahun sebelumnya, kami tidak memiliki divisi aktivasi. Jadi, kami pun mulai membangunnya. Kami harus meraba-raba apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Untungnya, di sini kami memiliki kebebasan untuk mencoba semua cara yang sekiranya cocok dan berhasil dijalankan.
Kendati demikian, di balik semua tantangan itu, saya menikmati tiap langkah dalam perjalanan karier baru saya ini. Sebelumnya saya sudah pernah sukses bekerja di perusahaan besar maupun perusahaan multinasional yang memang sudah terkenal. Namun, jika ternyata saya bisa sukses di perusahaan yang baru, bagi saya itu justru lebih membanggakan, karena saya menjadi bagian dari keberhasilan dan membuat perusahaan ini lebih dikenal orang.
Mira Monika (32), VP Marketing Sociolla
Meningkatkan Brand Awareness
Selama 7 tahun bekerja di perusahaan media raksasa, tentu awalnya berat ketika harus meninggalkannya demi mencari pengalaman baru di tempat lain. Semua orang sudah mengenal saya sebagai editor tempat saya bekerja. Bahkan, ketika saya menyebut nama perusahaan saat menghubungi narasumber atau klien, semua orang sudah mengenali dan langsung menanggapinya dengan manis dan ramah.
Beda halnya ketika saya pindah bekerja di perusahaan start-up e-commerce kecantikan sejak tahun 2015 lalu. Banyak orang yang tidak tahu, atau malah menyebutkan namanya dengan salah. Ditolak ketika mengajukan kerja sama pun beberapa kali terjadi. Memang saya sempat berkecil hati. Namun, lama-kelamaan saya berpikir, inilah seninya bekerja di perusahaan start-up. Jangan pernah takut dengan penolakan dan jangan bosan berhenti untuk menggiatkan brand awareness.
Saya pun tertantang membuat brand ini menjadi lebih besar dan dikenal lebih banyak orang. Saya harus kreatif dalam promosi dan pemasaran. Karena memang, resep bagi siapa pun yang ingin pindah kerja ke perusahaan start-up, jangan terlalu membawa perasaan, karena akan begitu banyak kerikil yang berbeda dibandingkan ketika bekerja di perusahaan mapan.
Kerikil-kerikil itu adalah ketika saya harus berjibaku dengan sistem yang belum tersusun rapi, sehingga menuntut saya untuk turut membangunnya dari awal. Banyak uji coba yang harus saya lakukan. Rasanya saya harus bisa mengerjakan seribu satu pekerjaan seorang diri. Ritme pekerjaan yang berjalan dengan cepat pun menuntut saya untuk meningkatkan keahlian mencari solusi dalam waktu singkat, tapi efektif. Ini tidak mudah, tapi justru mengasah keterampilan saya bekerja. Peluang untuk mencurahkan ide-ide gila yang kreatif terbuka lebar.
Beruntung, akhirnya perusahaan ini sangat cepat berkembang di antara para penikmat produk kecantikan, berkat beberapa program aktivasi yang saya lakukan bersama tim. Contohnya lewat acara berbagi informasi oleh para beauty enthusiast, yaitu program beauty soireé, acara office to office, beauty demo, hingga penerbitan beauty journal.
Go big or go home? Saya tentu memilih untuk menjadi lebih besar. Tapi setidaknya, kalau perusahaan yang dulu ibaratnya cinta pertama, perusahaan yang sekarang ibaratnya anak angkat saya. Saya siap bermimpi dan membesarkannya hingga sukses. (f)
Topic
#pindahkerja


