Career
Respek, Kunci Sukses Komunikasi Kepemimpinan

8 Apr 2021


Foto: Unsplash

Berawal dari Pengendalian Diri

Komunikasi mengandung dua kualitas utama, yaitu kemampuan mengendalikan diri atau self control dan kemampuan untuk membangun hubungan. Self control berarti mengendalikan semua yang ada pada diri kita, termasuk sikap, emosi, pola pikir, cara berkomunikasi, tekanan suara, dan bahasa tubuh. 

Sebelum menerapkan
self control, seseorang harus punya self awareness yang tinggi terlebih dahulu, salah satunya aware tentang perannya sebagai leader dalam organisasi. Seorang CEO harus aware bahwa ia diharapkan oleh anggota timnya untuk mendengarkan, menghargai, mengarahkan, membimbing, memberi stimulus, memberi feedback, dan sebagainya.

Contoh lain, ketika sedang diwawancara oleh media, Erwin sadar betul bahwa secara profesional ia sedang ditanya tentang hal yang berkaitan dengan keahliannya. Namun, pada saat yang bersamaan, melalui wawancara itu media juga bisa menilai kepribadiannya
. “Dua hal ini, yaitu branding secara personal dan profesional, merupakan kombinasi yang saling terkait. Kita menampilkan branding yang mewakili corporate culture, tetapi juga personal branding sebagai pribadi yang hangat,” katanya. 

Erwin menegaskan,
branding ini harus jalan bersama dan selaras. Barangkali banyak orang berpikir, di kantor dia memilih jadi orang yang pendiam, tapi di luar kantor petakilan. Itu berarti dia tidak genuine. Hal ini akan terbaca oleh lawan bicara. 

“Ketika seseorang sudah sampai pada tahap
self awareness, ia akan sadar bahwa komunikasi itu bukan tentang apa yang akan dibicarakan, tapi tentang bagaimana menyampaikan pesan agar pesan itu diterima dengan baik. Karena, komunikasi adalah seni, bukan matematika atau fisika. Sayangnya, tidak semua orang punya kesadaran itu, apalagi jika sudah terbungkus oleh ego soal jabatan mereka,” kata Erwin. 

Pengalaman di kelas memberi Erwin pelajaran bahwa orang mempunyai tiga ekspektasi dari lawan bicaranya, yaitu
warm, reliable, fun. Ketika seseorang punya self awareness yang tinggi karena ia paham pentingnya pengendalian diri dalam membangun hubungan, ia akan bisa tampil menjadi pribadi yang lebih hangat dan menyenangkan demi bisa nyambung dengan orang lain. Dengan begitu, ia bisa menciptakan meaningful engagement

Jujur saja,
deh, siapa, sih, yang mau berdekatan dengan orang yang menyebalkan? Apalagi, kalau dia adalah leader di perusahaan. Begitu melihat sosoknya muncul dari pintu lift yang perlahan terbuka, bawaannya ingin kabur saja. Pahit… pahit… pahit…. Wajar sekali, jika kita hanya ingin berdekatan dengan orang yang menyenangkan.

“Ketika Anda tampil sebagai sosok yang menyenangkan, Anda akan berada di
top of mind lawan bicara. Kalau itu terjadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan Anda akan equivalent dengan organisasi tempat Anda bekerja. Dengan begitu, Anda akan bisa memenangkan hati customer,” kata Erwin.

Di dalam organisasi, jika Anda adalah
leader yang menyenangkan, Anda juga akan berada di top of mind anggota tim. Saat menemui tantangan yang tidak bisa mereka atasi, mereka tidak akan ragu datang pada Anda dan berdiskusi untuk mencari solusi terbaik. Mereka tidak ragu untuk mengetuk pintu ruangan Anda dan mengajukan berbagai usulan yang inovatif, karena mereka tahu bahwa Anda akan mendengarkan dengan baik. Situasinya akan jauh berbeda jika Anda sebagai leader cenderung kaku dan dingin. Anggota tim tidak datang pada Anda ketika terganjal masalah, karena mereka tahu hanya akan dimarahi dan nantinya keluar ruangan atasan tanpa solusi yang jelas.

Seandainya
leader begitu terbebani oleh jabatannya sehingga tidak bisa menjadi orang yang fun, kesalahan terletak pada dirinya. Jika ia keukeuh dengan pendapatnya sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain, itu kesalahannya. Kalau ia tidak mau menjadi leader yang punya empati, itu juga kesalahannya.

“Tidak semua orang mau berubah, meskipun perubahan itu sebetulnya
mandatory. Saat ini teori evolusi Darwin menjadi semakin nyata. Kalau tidak bisa beradaptasi dengan perubahan akibat pandemi ini, perusahaan akan mati. Bisa dibilang, sekarang ada sense of urgency, orang dipaksa untuk keluar dari zona nyaman dan tetap terkoneksi dengan semua stakeholder-nya, termasuk anggota tim,” kata Erwin.

Dan, sukses atau tidaknya komunikasi bisa diukur dari impact. Jika komunikasi itu inspiring dan mampu memotivasi karena di dalamnya ada kisah sukses, kalimat yang dilontarkan jelas dan tersusun rapi, ada emosi sekaligus logika yang dilibatkan, maka lawan bicara akan melakukan sesuatu. Taking action inilah hasil yang diharapkan dari komunikasi yang baik. (f) 

Penulis: Veronica Wahyuningkintarsih (Kontributor - Jakarta) 

Baca Juga: 

5 Hal yang Bisa Dilakukan Perusahaan untuk Mendukung Wanita di Tempat Kerja
5 Prediksi Dunia Kerja 2021
10 Kalimat untuk Mengundang Respon Positif Saat Rapat Virtual


 



Topic

#komunikasi, #skill, #karier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?