Career
Pentingnya Menyimak untuk Perkembangan Karier

22 Jun 2016


Foto: 123RF

Perkembangan teknologi digital dan tuntutan bekerja secara multitasking juga  makin membuat mendengar jadi ‘kemampuan’ yang langka di kalangan generasi millennial. Bahkan, sebuah riset yang dilakukan oleh perusahaan jasa konsultasi global, PricewaterhouseCoopers, menyatakan bahwa 41% tenaga kerja yang berasal dari golongan millennial lebih memilih untuk berkomunikasi lewat teknologi, seperti aplikasi pesan singkat dan e-mail, daripada bertatap muka langsung dengan lawan bicara.
 
Sisi praktis dan efektif dari metode komunikasi tersebut dianggap sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja generasi millennial. Komunikasi tulisan memfasilitasi mereka untuk melakukan beberapa hal dalam satu waktu.
 
Pada saat yang sama, metode komunikasi itu juga menurunkan risiko salah paham dengan lawan bicara. Berbeda dengan komunikasi lisan, komunikasi lewat tulisan memudahkan mereka untuk membaca pesan secara berulang-ulang.
 
Meski begitu, komunikasi tatap muka tetap tidak terhindarkan dalam dunia kerja. Seperti yang dialami Airin Nadira (28). “Saya pernah gagal mendapatkan klien gara-gara tidak terlalu menyimak keinginan calon klien saat briefing,” ungkap wanita yang berprofesi sebagai social media specialist itu. Akibatnya, presentasi Airin saat pitching pun tidak sesuai dengan harapan klien. 
 
Airin tidak sendiri. Menurut riset yang dilakukan oleh University of Missouri di Amerika Serikat, rata-rata manusia memang bukan seorang pendengar yang efektif. Riset tersebut menggunakan presentasi oral selama 10 menit sebagai alat ukur. Hasilnya, rata-rata orang hanya bisa menangkap, memahami, dan menyimpan sekitar 50 persen kata-kata yang dipaparkan dalam presentasi tersebut. Setelah lebih dari 48 jam, persentase tersebut menurun hingga 25 persen.
 
Jika mempunyai pengalaman seperti Airin, jangan buru-buru menyalahkan kualitas indra pendengaran Anda. Bisa jadi, pada saat itu Anda memang tidak fokus pada pembicaraan yang sedang terjadi.
 
Melalui riset yang sama, profesor ilmu retorika dari University of Minnesota, Ralph G. Nichols, menegaskan bahwa keterbatasan seseorang untuk mendengarkan orang lain secara efektif disebabkan oleh perbedaan kecepatan berpikir otak dengan kecepatan bicara manusia.
 
Otak manusia mempunyai kapasitas untuk mengolah 400 kata per menit. Sedangkan kecepatan bicara rata-rata manusia hanya mencapai 125 kata per menit. Perbedaan itulah yang membuat seseorang mampu  multitasking, sebab sepertiga otak manusia mempunyai ‘waktu luang’ untuk memikirkan atau melakukan hal lain pada saat proses mendengar sedang berlangsung. Akibatnya, banyak pesan dan makna yang disampaikan lawan bicara tidak bisa ditangkap serta diolah dengan sempurna. (f)
 


Topic

#perkembangankarier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?