
Dok: Microsoft Indonesia
Studi Mastercard menunjukkan ada ketidakseimbangan gender dalam bidang lmu Pengetahuan, Teknologi, Teknik dan Matematika (STEM). Saat ini, jumlah perempuan yang mengejar pendidikan dan karier di bidang STEM masih tergolong rendah meskipun teknologi telah berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir.
Hal tersebut terjadi karena wanita merasa tidak cukup mampu berkompetisi dan tidak akan sukses jika menekuni industri STEM ini. Padahal, kenyataannya banyak wanita yang terjun ke dunia ini justru bisa berkompetisi dan sukses.
Menurut Nina Wirahadikusumah, Enterprise Commercial Director Microsoft Indonesia, stereotip bahwa industri teknologi dan teknik yang hanya bisa dikuasai oleh kaum pria adalah salah. Wanita yang sudah menjadi pemimpin di perusahaan teknologi besar ini selama 20 tahun ini justru melihat di era digital ini, peluang karier masa depan akan berada pada STEM.
“Dengan memilih karier di STEM, wanita maupun pria muda akan mencapai potensi sejati mereka dan membantu mengubah dunia,” tutur Nina.
Salah satu cara mendorong wanita muda untuk berkarier di bidang STEM adalah dengan menampilkan tokoh wanita panutan di bidang ini, serta menciptakan peluang kerja bagi wanita yang berminat terjun ke STEM.
Sayangnya, eksposur terhadap wanita yang sukses di bidang STEM saat ini terbilang kecil. Terbukti, hanya 1 dari 4 anak perempuan berusia 12 sampai 19 tahun di kawasan Asia yang mengetahui sosok wanita di bidang STEM.
Dalam diskusi di Jakarta, Rabu (18/4) lalu, dua wanita praktisi STEM mengajak wanita muda untuk berkembang di industri STEM.
Hanifa Ambadar, founder & CEO jaringan media digital, Female Daily Network berpendapat, sekolah seharusnya menjadi lembaga yang memiliki peranan penting untuk mengubah persepsi anak perempuan terhadap bidang STEM. Caranya, bisa dengan memberikan eksposur terhadap role model bagi siswa perempuan seperti sharing dari alumni yang sukses menekuni bidang STEM.
Namun, punya role model saja tidak cukup. Alamanda Shantika, engineer startup dan pendiri sekolah teknologi gratis Binar Academy menganggap siswa juga harus terbiasa menggunakan perangkat teknologi seperti tablet dan PC. Keahlian dari pengalaman langsung akan membantu membentuk pemikiran kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan komunikasi.
Upaya ini antara lain ditunjukkan lewat beberapa program Microsoft. Sejak tahun 2015, Microsoft telah mengajak perempuan muda Indonesia untuk terjun dalam industri STEM melalui program #MakeWhatsNext. Di Indonesia, Microsoft berkolaborasi dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) mengadakan sesi Hour of Code untuk 50 siswi di Rumah Belajar Duri Kepa pada akhir Maret lalu.
Hour of Code (HoC) diselenggarakan untuk memperkenalkan keterampilan coding dan ilmu komputer dan mengubah persepsi bahwa coding merupakan sebuah hal yang rumit melalui game Minecraft. Kegiatan serupa juga telah diadakan di Jambi dan Kupang. (f)
Baca Juga:
3 Sosok Wanita Tangguh di Balik Google Indonesia
Ini Hambatan Wanita dalam Melejitkan Karier
Akses Kesempatan Wanita di Dunia Kerja Indonesia Masih Payah
Faunda Liswijayanti
Topic
#wanitadanstem



