Career
Latih Kemampuan Menyimak Agar Karier Meningkat

23 Jun 2016


Foto: Fotosearch

Era mendengar sudah lewat. Profesor ilmu retorika dari University of Minnesota, Ralph G. Nichols menyatakan, seseorang harus mulai menyimak dengan empati. Dengan begitu, bukan hanya bisa menangkap pesan secara utuh, tetapi  juga bisa lebih produktif bekerja sekaligus menjalin komunikasi dan relasi yang lebih bermakna. Untuk melakukannya, ternyata tidak sulit. Simak saran Ralph:

•    Hindari prasangka
Jika perusahaan atau klien meminta Anda menyelesaikan proyek yang ‘bukan Anda banget’, lakukan saja. Lepaskan kacamata kuda. Buka pikiran Anda untuk menghadapi berbagai macam isu untuk dikerjakan. Ini akan membuat seluruh indra Anda optimal dalam menangkap ucapan lawan bicara.

•    Jangan menilai ‘kulit’-nya
Tanpa disadari, Anda mungkin pernah melakukan ini: menghakimi lawan bicara dari tampilannya. Sikap ini, menurut Ralph, ternyata menghambat proses menyimak. Konsentrasi Anda akan terpecah antara pesan yang disampaikan dan penampilan pembicara.

•    Terlalu bersemangat
Pada saat berdiskusi, tidak jarang lawan bicara menyampaikan hal-hal yang tidak sesuai dengan yang Anda yakini. Tahan emosi Anda untuk menyelak kata-katanya. Sebaliknya, dengarkan ucapannya sampai selesai. Cara ini memberikan waktu pada otak dan hati Anda untuk mencerna makna yang tersirat dari lawan bicara.  

•    Dari A sampai Z
Riset Ralph menemukan bahwa manusia cenderung menyaring informasi yang relevan dengan fakta dalam kehidupan. Meski terkesan efektif, sikap ini sebaiknya Anda hindari. Sebab, otak dan hati Anda akan ikut tertahan untuk menangkap inti pembicaraan.

•    Catat dan tanyakan saja
Tidak semua orang dilahirkan dengan bakat berbicara yang baik. Bisa saja lawan bicara Anda sangat cerdas, tapi tidak mampu menyampaikan pemikirannya secara runtun. Selalu bekali diri Anda dengan notes untuk mencatat. Jika masih tidak jelas, verifikasi ucapannya setelah ia selesai bicara.

•    Perkaya wawasan
Ternyata, manusia cenderung menghindari fakta dan informasi yang terdengar sulit. Akibatnya, Anda bisa saja salah paham karena melewatkan poin penting dari lawan bicara. Hindari sikap ini dengan cara berusaha mengenal lawan bicara Anda sebelum berdiskusi. Dengan begitu, otak dan hati Anda bisa lebih antusias dalam mengantisipasi pesan-pesan yang dilontarkan lawan bicara.

•    Renungkan sejenak
Setelah diskusi selesai, jangan paksa diri Anda untuk mengomentari lawan bicara. Jika tanggapan Anda terkesan seadanya, itu akan membuat Anda terlihat tidak kompeten. Minta waktu sebentar untuk mencerna dan meringkas fakta serta informasi yang Anda terima. Setelah itu, baru ungkapkan. Dengan bekal ini, Anda bisa mengantisipasi risiko pekerjaan sesuai ekspektasi klien. (f)

 


Topic

#perkembangankarier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?