
Dok. Kedutaan Besar Australia
Menurut penelitian Forbes terhadap 500 perusahaan di dunia tahun 2018, wanita yang menduduki posisi puncak kepemimpinan perusahaan kurang dari 5 persen. Padahal menurut laporan McKinsey Global Institute 2018, turut berperan serta memajukan kesetaraan di lingkungan kerja di negara-negara Asia Pasifik dapat menambah pendapatan nasional tahunan sebesar 4.5 triliun dollar Amerika Serikat pada tahun 2025 dan peningkatan bisnis hingga 12 persen.
Belajar tentang bagaimana peran wanita dalam mengembangkan sebuah perusahaan menjadi lebih sukses, Kedutaan Besar Australia mengadakan seminar bertajuk Women in Business bersama CEO Sintesa Group, Shinta Kamdani dan Noni Purnomo, Presiden Direktur Blue Bird Group. Dua wanita hebat ini berbagi cerita dan tip kekuatan mereka hingga bisa sampai ke posisi puncak.
Konsep ‘glass ceiling’ kadang memang kerap jadi hambatan bagi wanita karier untuk bisa sampai ke puncak. Namun menurut Noni, kadang langit-langit kaca itu justru dibuat oleh wanita itu sendiri.
“Hambatan itu kadang justru datang dari wanitanya itu sendiri. Mereka merasa bersalah karena harus meninggalkan keluarga di rumah saat bekerja atau wanita merasa bahwa mereka tidak perlu jabatan yang tinggi. Untuk menjadi pemimpin, suka atau tidak suka kita harus mendobrak hal ini,” ujar Noni yang pernah masuk dalam daftar Power Women in Asia versi Forbes 2015 dan 99 Most Powerful Women versi Global Asia 2017.
“Breaking the glass ceiling menjadi hambatan wanita manapun. Namun yang perlu kita tunjukkan adalah bahwa ktia sebagai wanita mampu mencapai satu tahap kepemimpinan tanpa harus mendapatkan ‘privilege’. Namun banyak aspek penting yang harus kita lakukan untuk bisa menggaungkan peran wanita dalam berkiprah hingga ke puncak kepemimpinan,” tutur Shinta yang melalui organisasi Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) turut membantu menggaungkan kesetaraan gender di dunia kerja.
Bekerja di industri yang kental dengan dunianya para pria tak lantas membuat Noni merasa harus bekerja ‘maskulin’. Menurutnya, setiap orang dibekali dengan sisi feminin dan maskulinnya sendiri-sendiri. Tinggal menyiasatinya dengan cara memanfaatkan masing-masing sisi tersebut di saat yang tepat.
“Sering saya menjadi satu-satunya wanita dalam sebuah rapat dengan para pria yang emosional dalam menyelesaikan masalah. Apakah saya terintimidasi? Ya. Tapi saya kan tidak boleh menyerah. Sebagai seorang wanita kita punya naluri keibuan yang ingin memberikan solusi terbaik tanpa harus saling adu emosi. Jadi kita datang dengan senyum, bukan dengan muka geram sehingga akhirnya mereka melunak. Intinya, kita harus tahu kapan menjadi feminin dan maskulin di saat yang tepat,” saran Noni.
Selama puluhan tahun berkiprah di dunia bisnis, Shinta kadang merasa heran mengapa wanita kerap takut dianggap ‘terlalu ambisius’. Sementara pekerja pria justru dianggap perlu memiliki ambisi.
“Ini yang kadang membuat kita menjadi tidak bisa mencapai tahap karier yang kita mau, karena kita malu dianggap ‘terlalu ambisius’,” cerita Shinta. Padahal menurutnya, ambisi bisa menjadi bahan bakar untuk bisa sampai ke puncak. Diakui Shinta, kita perlu mengubah mindset bahwa wanita juga bisa menjadi ambisius dan mengejar karier setinggi yang mereka inginkan. (f)
BACA JUGA :
Jabatan CEO Tak Selalu Bisa Diturunkan
Era Kesetaraan Dan Inovasi
Industri 4.0 dan Kesetaraan Gender
Topic
#wanitawirausaha, #wanitakarier


