
Foto: Fotosearch
Pertengahan Agustus lalu, ketika saya sedang scrolling timeline di Facebook—dan karena teknologi algoritmanya FB sehingga bisa melihat postingan yang hanya dikomentari atau di-like orang—mata saya menangkap berita tentang David Guetta yang membatalkan tur dunia karena flash disk yang berisi set DJ miliknya hilang. FYI, berita ini di-share orang yang bukan teman saya (sebut A), tapi muncul karena teman saya (sebut B) mengomentarinya. Website-nya sendiri belum pernah saya dengar.
Ini menarik perhatian saya sebab, pertama, David Guetta adalah DJ wahid saat ini, kedua, kalau dia bergantung pada flash disk, berarti selama ini dia tidak memainkan apa pun di atas panggung alias—seperti istilah di dunia tarik suara—lip sync. Lah? Yang menarik perhatian saya lagi, orang yang sharing berita ini (A) tertawa seakan-akan mengejek David Guetta, lalu B juga mengomentari seakan-akan DJ tersebut tidak berbakat musik meski populer (mainstream). Saya sadar bahwa ada orang-orang yang justru begitu tidak menyukai atau membenci sesuatu yang superpopuler sebab dianggap sebuah produk massal yang dibuat dangkal. Mereka menyukai sesuatu yang berbeda atau tidak mainstream. Karena itu mungkin A dan B menertawakannya.
Saya bukan penggemar David Guetta, saya juga tidak tahu jadwal turnya, tapi karena David merupakan seorang DJ kondang saat ini, saya penasaran membaca beritanya. Saya klik linknya. Saya ingin tahu gimana kejadiannya sampai David Guetta membatalkan turnya. Hingga saya menemukan bahwa berita tersebut dirilis tahun 2014!
Lalu, muncul lagi pertanyaan saya. Kalau dirilis tahun 2014, mestinya dari dulu sudah heboh, dong? Mestinya David Guetta selalu jadi bahan olok-olokan sampai sekarang. Tapi hal-hal tersebut tidak terjadi… atau saya belum pernah dengar. Saya pun cari tahu tentang situsnya. Jreng! Ternyata situs tersebut hanya situs lucu-lucuan alias parodi. Segala hal yang tertulis dari situs tersebut adalah bohong, rekayasa. Jadi, A, B, dan teman-temannya yang lain yang mengomentari di info tersebut justru yang dibodohi oleh beritanya.
Dari peristiwa simpel ini, saya teringat pentingnya membaca, tepatnya budaya mau membaca, apalagi di era media sosial saat ini. Selain tempat manusia saling terhubung satu sama lain, media sosial juga sudah menjadi sebuah tempat penyebar informasi. Dengan karakternya yang real time, pergerakan informasi di media sosial bisa berlangsung cepat. Hanya saja, media sosial sering memiliki keterbatasan ruang untuk menuliskan informasi. Karena itu, media sosial lebih sering menjadi tempat berbagi artikel. Media sosial adalah pengarah kita ke tempat informasi sesungguhnya.
Di sinilah segala sesuatunya dikembalikan lagi pada individu penerima informasi tadi, yaitu untuk memilah mana yang dia butuhkan, mana yang positif, dan mana yang negatif. Ini bisa jadi sesuatu yang sulit karena informasi semakin banyak tapi waktu tetap 24 jam. Begitu banyak yang ingin kita ketahui, tapi sering merasa begitu sedikit waktu yang kita punya. Akibatnya, sering kita membaca di permukaannya dan membuat justru salah menduga, yang berujung pada menghakimi orang lain.
Sering kita membaca hanya judulnya, tapi malas cek sumbernya atau klik link di info tersebut. Padahal, belum tentu anggapan negatif dari membaca sekilas tadi memang tertera pada artikelnya. Jangan terlalu cepat menyalahkan judul artikel. Judul artikel bersifat singkat tapi harus bisa menginfokan tentang artikelnya secara garis besar. Judul artikel juga lebih berfungsi sebagai penarik perhatian supaya artikelnya dibaca. Nah, jika memang kita malas membaca artikel lengkapnya, ada baiknya kita diam dulu. Tidak perlu main share dan komentar tanpa mengetahui kedalaman infonya.
Ketika Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil maju ke final, banyak media memasang berita tentang peluang mereka meraih emas. Tapi saya menemukan—lagi-lagi hasil share orang di FB—satu portal berita yang memasang judul “Selamat! Pebulu Tangkis Ganda Campuran Republik Indonesia Rebut Medali Emas.” Dan, lagi-lagi, orang yang share serta yang ikut komentar langsung mengucapkan selamat juga. Lah? Saat itu mereka baru maju ke final, belum mendapat emasnya. Saya pun klik link beritanya untuk benarkah mereka sudah tahu duluan bahwa Tontowi dan Liliyana dapat emas. Ternyata pada artikelnya, tidak disebutkan mereka sudah meraih medali emas. Laaah? Judulnya memang memelintir fakta.
Terlepas dari itu, tetap saja, ketahuan orang yang sharing dan ikutan mengucapkan selamat malas membaca beritanya atau mencari tahu beritanya. Saya yakin mereka sudah mendengar tentang berita majunya Tontowi-Liliyana. Bukankah sebaiknya mereka mencari tahu dulu berita sebenarnya seperti apa.
Bukan hanya artikel, kadang status di media sosial sekalipun perlu dipahami. Pahami dari mana asalnya, apa penyebabnya, apa maksudnya, ditujukan pada siapa. Jika tidak, kita akan termakan isu sampai terprovokasi. Contohnya saja, baru-baru ini menyebar berita bahwa harga rokok akan jadi mahal banget. Beritanya menyebar sampai seakan-akan memang pemerintah akan menetapkan hal tersebut, menimbulkan keresahan di mana-mana hingga membahas masalah ekonomi dan sebagainya. Padahal belum ada penetapan tersebut oleh pemerintah, melainkan hanya hasil penelitian dari sebuah lembaga riset.
Ah, saya kasih contoh hal sepele harian saja, deh, yang menyangkut hobi, yaitu kegemaran pada K-pop. Suka pada artis k-pop lama-lama bisa membuat kita masuk fandomnya. Dan, bila sudah terlibat, fandom tersebut sering jadi sebuah dunia sendiri. Dari membahas album si artis sampai, pastinya, gosip-gosip yang justru sering bermula dari obrolan fans. Berhubung tidak semua fans k-pop bisa berbahasa Korea, kita sering menerima berita dari fans lain yang mau menerjemahkan omongan si artis atau fans dari Korea (mereka, kan, pasti tahu lebih dulu daripada fans selebritas nonkorea).
Nah, kadang, begitu sebuah info muncul, info tersebut langsung disebarkan, padahal, yang namanya omongan orang ketiga, belum tentu benar, toh? Kalau saya pribadi, saya akan telusuri dulu info atau gosip tersebut. Telusuri dari mana asalnya, bagaimana kalimat aslinya, cari atau tanyakan juga dari sumber-sumber yang berbeda. Lagipula, namanya media sosial, pasti saling terhubung satu orang dengan yang lainnya. Repot sedikit tidak mengapa, daripada termakan isu yang membuat kita pusing kepala, kan? Pernah saya membaca dua terjemahan berbeda dalam waktu bersamaan. Nah, kan! Kadang orang-orang hanya membaca, mendengar atau melihat apa yang INGIN mereka dengar, bukan yang nyatanya. Jadi, harus pandai-pandai mencerna info yang kita terima.
Dunia maya dan media sosial sangat luas, bahkan menurut saya lebih luas dari dunia (bumi)kita sendiri. Arus informasi di dunia digital tidak akan berhenti begitu saja ketika kita pribadi salah paham. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap info yang kita terima. Kita tidak perlu menyetujui semua yang ada/terjadi, tidak perlu pula mengambil tindakan macam-macam, tapi setidaknya kita mengetahui apa yang ada/terjadi untuk mempertimbangkan baik-buruknya. Salah satunya dengan tidak malas membaca apa yang memang perlu dibaca, termasuk klik link yang diberikan. (f)
Ini menarik perhatian saya sebab, pertama, David Guetta adalah DJ wahid saat ini, kedua, kalau dia bergantung pada flash disk, berarti selama ini dia tidak memainkan apa pun di atas panggung alias—seperti istilah di dunia tarik suara—lip sync. Lah? Yang menarik perhatian saya lagi, orang yang sharing berita ini (A) tertawa seakan-akan mengejek David Guetta, lalu B juga mengomentari seakan-akan DJ tersebut tidak berbakat musik meski populer (mainstream). Saya sadar bahwa ada orang-orang yang justru begitu tidak menyukai atau membenci sesuatu yang superpopuler sebab dianggap sebuah produk massal yang dibuat dangkal. Mereka menyukai sesuatu yang berbeda atau tidak mainstream. Karena itu mungkin A dan B menertawakannya.
Saya bukan penggemar David Guetta, saya juga tidak tahu jadwal turnya, tapi karena David merupakan seorang DJ kondang saat ini, saya penasaran membaca beritanya. Saya klik linknya. Saya ingin tahu gimana kejadiannya sampai David Guetta membatalkan turnya. Hingga saya menemukan bahwa berita tersebut dirilis tahun 2014!
Lalu, muncul lagi pertanyaan saya. Kalau dirilis tahun 2014, mestinya dari dulu sudah heboh, dong? Mestinya David Guetta selalu jadi bahan olok-olokan sampai sekarang. Tapi hal-hal tersebut tidak terjadi… atau saya belum pernah dengar. Saya pun cari tahu tentang situsnya. Jreng! Ternyata situs tersebut hanya situs lucu-lucuan alias parodi. Segala hal yang tertulis dari situs tersebut adalah bohong, rekayasa. Jadi, A, B, dan teman-temannya yang lain yang mengomentari di info tersebut justru yang dibodohi oleh beritanya.
Dari peristiwa simpel ini, saya teringat pentingnya membaca, tepatnya budaya mau membaca, apalagi di era media sosial saat ini. Selain tempat manusia saling terhubung satu sama lain, media sosial juga sudah menjadi sebuah tempat penyebar informasi. Dengan karakternya yang real time, pergerakan informasi di media sosial bisa berlangsung cepat. Hanya saja, media sosial sering memiliki keterbatasan ruang untuk menuliskan informasi. Karena itu, media sosial lebih sering menjadi tempat berbagi artikel. Media sosial adalah pengarah kita ke tempat informasi sesungguhnya.
Di sinilah segala sesuatunya dikembalikan lagi pada individu penerima informasi tadi, yaitu untuk memilah mana yang dia butuhkan, mana yang positif, dan mana yang negatif. Ini bisa jadi sesuatu yang sulit karena informasi semakin banyak tapi waktu tetap 24 jam. Begitu banyak yang ingin kita ketahui, tapi sering merasa begitu sedikit waktu yang kita punya. Akibatnya, sering kita membaca di permukaannya dan membuat justru salah menduga, yang berujung pada menghakimi orang lain.
Sering kita membaca hanya judulnya, tapi malas cek sumbernya atau klik link di info tersebut. Padahal, belum tentu anggapan negatif dari membaca sekilas tadi memang tertera pada artikelnya. Jangan terlalu cepat menyalahkan judul artikel. Judul artikel bersifat singkat tapi harus bisa menginfokan tentang artikelnya secara garis besar. Judul artikel juga lebih berfungsi sebagai penarik perhatian supaya artikelnya dibaca. Nah, jika memang kita malas membaca artikel lengkapnya, ada baiknya kita diam dulu. Tidak perlu main share dan komentar tanpa mengetahui kedalaman infonya.
Ketika Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil maju ke final, banyak media memasang berita tentang peluang mereka meraih emas. Tapi saya menemukan—lagi-lagi hasil share orang di FB—satu portal berita yang memasang judul “Selamat! Pebulu Tangkis Ganda Campuran Republik Indonesia Rebut Medali Emas.” Dan, lagi-lagi, orang yang share serta yang ikut komentar langsung mengucapkan selamat juga. Lah? Saat itu mereka baru maju ke final, belum mendapat emasnya. Saya pun klik link beritanya untuk benarkah mereka sudah tahu duluan bahwa Tontowi dan Liliyana dapat emas. Ternyata pada artikelnya, tidak disebutkan mereka sudah meraih medali emas. Laaah? Judulnya memang memelintir fakta.
Terlepas dari itu, tetap saja, ketahuan orang yang sharing dan ikutan mengucapkan selamat malas membaca beritanya atau mencari tahu beritanya. Saya yakin mereka sudah mendengar tentang berita majunya Tontowi-Liliyana. Bukankah sebaiknya mereka mencari tahu dulu berita sebenarnya seperti apa.
Bukan hanya artikel, kadang status di media sosial sekalipun perlu dipahami. Pahami dari mana asalnya, apa penyebabnya, apa maksudnya, ditujukan pada siapa. Jika tidak, kita akan termakan isu sampai terprovokasi. Contohnya saja, baru-baru ini menyebar berita bahwa harga rokok akan jadi mahal banget. Beritanya menyebar sampai seakan-akan memang pemerintah akan menetapkan hal tersebut, menimbulkan keresahan di mana-mana hingga membahas masalah ekonomi dan sebagainya. Padahal belum ada penetapan tersebut oleh pemerintah, melainkan hanya hasil penelitian dari sebuah lembaga riset.
Ah, saya kasih contoh hal sepele harian saja, deh, yang menyangkut hobi, yaitu kegemaran pada K-pop. Suka pada artis k-pop lama-lama bisa membuat kita masuk fandomnya. Dan, bila sudah terlibat, fandom tersebut sering jadi sebuah dunia sendiri. Dari membahas album si artis sampai, pastinya, gosip-gosip yang justru sering bermula dari obrolan fans. Berhubung tidak semua fans k-pop bisa berbahasa Korea, kita sering menerima berita dari fans lain yang mau menerjemahkan omongan si artis atau fans dari Korea (mereka, kan, pasti tahu lebih dulu daripada fans selebritas nonkorea).
Nah, kadang, begitu sebuah info muncul, info tersebut langsung disebarkan, padahal, yang namanya omongan orang ketiga, belum tentu benar, toh? Kalau saya pribadi, saya akan telusuri dulu info atau gosip tersebut. Telusuri dari mana asalnya, bagaimana kalimat aslinya, cari atau tanyakan juga dari sumber-sumber yang berbeda. Lagipula, namanya media sosial, pasti saling terhubung satu orang dengan yang lainnya. Repot sedikit tidak mengapa, daripada termakan isu yang membuat kita pusing kepala, kan? Pernah saya membaca dua terjemahan berbeda dalam waktu bersamaan. Nah, kan! Kadang orang-orang hanya membaca, mendengar atau melihat apa yang INGIN mereka dengar, bukan yang nyatanya. Jadi, harus pandai-pandai mencerna info yang kita terima.
Dunia maya dan media sosial sangat luas, bahkan menurut saya lebih luas dari dunia (bumi)kita sendiri. Arus informasi di dunia digital tidak akan berhenti begitu saja ketika kita pribadi salah paham. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap info yang kita terima. Kita tidak perlu menyetujui semua yang ada/terjadi, tidak perlu pula mengambil tindakan macam-macam, tapi setidaknya kita mengetahui apa yang ada/terjadi untuk mempertimbangkan baik-buruknya. Salah satunya dengan tidak malas membaca apa yang memang perlu dibaca, termasuk klik link yang diberikan. (f)
Topic
#blogeditor


