
Foto: Pixabay
Sentuhan Ibu hadir setiap hari, dari pagi melalui hidangan di meja makan hingga malam, ketika Anda pulang larut dari beraktivitas. Kamar yang Anda tinggalkan berantakan sudah kembali rapi untuk ditiduri, bukan?
Bukan merupakan ‘pekerjaan’ resmi, memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu rumah tangga menjadi hal yang luput dari penghargaan orang sekitar. Padahal, ucapan sesingkat ‘Terima kasih’ adalah hal terindah yang dapat kita perdengarkan ke telinga Ibu. Ingat kapan terakhir kali Anda mengucapkan terima kasih pada Ibu?
Sebuah penelitian kualitatif diangkat oleh Kecap ABC, menggandeng global research company tiga besar di dunia, IPSOS, untuk memahami kesulitan dan memahami motivasi para ibu di Indonesia. Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam, FGD, observasi aktivitas media sosial, dan pembuatan catatan harian.
Disampaikan oleh Vivi Diani Utomo, selaku Technical Director Ipsos, bahwa ibu memiliki beragam peran dan selalu menempatkan keluarga sebagai yang pertama, namun belum mendapatkan apresiasi yang berimbang.
“Peran ibu semakin besar namun tidak dapat didelegasikan. Bahkan apabila ibu itu adalah wanita bekerja, saat ia pulang ke rumah tetap harus memegang sapu hingga pegang wajan. Peran ibu 24 jam, 7 hari dalam seminggu. Bahkan ketika sang anak sakit, yang pertama dihubungi oleh sekolah adalah ibunya, bukan bapaknya,” ujarnya. Pada saat krisis terjadi, ibu yang memegang peranan.
Pendapat-pendapat masyarakat juga dikemukakan dalam presentasinya dan menjadi hal menarik untuk dibagi. Ini beberapanya:
“Pernah saya curhat sama temen, bukannya dibelain malah saya dibilang ‘Ah, mungkin elo aja yang lebay kali...” – Perempuan bekerja, kelas AB
“Saya juga pernah ngaduin suami saya ke ibu saya, yang ada malah saya dimarahin, dianggap ngelawan suami, dibilang ngga bersyukur.” – Perempuan pekerja, kelas C
“Kalo aku ngga nyapu rumah, mama pasti bilang “Nanti gimana kalo kamu nikah? Masa perempuan ngga bisa ngurus rumah!” Aku bilang aja, please deh Ma, aku ‘kan baru sekolah...” – Pelajar SMP perempuan, kelas C1
“Kalau saya telat bangun dikit aja, baru bangun jam 6 misalnya, semuanya bakal berantakan, keteteran.” – Perempuan pekerja, kelas B
“Kita kan kerja untuk keluarga juga, bukan untuk eksis atau apa. Sama aja sama suami sebetulnya.” – Perempuan pekerja, kelas C1
“Malem-malem jam 11 kayaknya sih dia masih suka suka nyuci piring, kedengeran kan bunyinya.” – Pria menikah, kelas C1
“Tugasnya perempuan memang jadi Inem kok.” – Pria menikah, kelas C1
“(Sebagai suami) idealnya sih emang kita bantu-bantu sedikit lah ya, tapi istri saya pasti ngga akan ijinin deh.” – Pria menikah, kelas AB
Marketing Manager Kecap ABC, Chatrin Christina, menyebutkan bahwa inisiatif menggandeng tim riset independen ini didasari oleh keinginan Kecap ABC untuk menempatkan konsumennya, yakni para ibu, sebagai yang pertama.
“Keluarga Indonesia perlu mengingat kembali ibu yang sudah memberikan segalanya. Kecap ABC hadir untuk para Ibu, karenanya kami bisa melihat isu ini dan mencoba mencari jalan yang terbaik. Mari berikan apresiasi yang layak untuk ibu!” ujarnya, saat ditemui di akhir acara.
Tepat di Hari Ibu yang lalu di 22 Desember 2017, Kecap ABC menggelar “Terima Kasih Ibu – Sajian Spesial dari Kecap ABC”, serentak di tiga kota. Tiga chef dihadirkan untuk memasak sajian untuk Ibu, yakni William Gozali di Jabodetabek, Billy Kalangi di Semarang, dan Ken Sutanto di Surabaya.
Sebagai bentuk aksi, puluhan ribu makanan diracik menggunakan Kecap ABC untuk para ibu yang hadir. (f)
Trifitria Nuragustina


