
Batik yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya adalah salah satu industri yang lekat dengan wanita. Tak hanya disukai wanita, dalam proses pembuatannya batik banyak melibatkan perajin wanita. Bisa dibilang, batik merupakan salah satu penunjang kemandirian ekonomi wanita. Wanita yang bergerak di UMKM pun terus meningkat.
Pada Januari 2020 tercatat peningkatan ekspor batik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pandemi yang terjadi lebih dari satu tahun menjadi tantangan, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku industri, termasuk bagi pelaku usaha batik.
Jika di tahun-tahun sebelumnya batik selalu menarik perhatian masyarakat lewat pameran-pameran yang dilakukan di berbagai tempat dan kesempatan, tahun 2020 dan 2021, karena pandemi jadi tidak dapat digelar. Selain itu, kebijakan untuk bekerja dari rumah dan lesunya perekonomian, membuat sandang, pakaian, termasuk batik, tak lagi menjadi kebutuhan yang utama.
Buntut dari lesunya industri batik, menurut Tumbu Astiani Ramelan, Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia adalah pemutusan hubungan kerja yang membuat perajin batik terpaksa beralih pekerjaan. Padahal jika skill tidak digunakan 6 bulan, kemampuannya bisa menurun, 20%, setahun 30%, untuk memulainya lagi diperlukan waktu yang tidak sebentar. Menurutnya pada saat pandemi ini kita dituntut untuk lebih kreatif dalam menjalankan usaha, terutama usaha batik.
Nita Kenzo, Anggota Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia, desainer Galeri Batik Jawa, pada kesempatan yang sama mengungkap bahwa pandemi justru bisa menjadi sebuah titik balik bagi pelaku usaha batik. “Saat pandemi ini jadi momentum untuk mengajak pelaku usaha batik lebih mengenal pewarna alam yang dibudidayakan di Indonesia untuk mewarnai batik,” ujarnya dalam webinar bertajuk, Kreativitas Pengembangan Usaha Batik, yang digelar atas Kerjasama Wanita Wirausaha Femina, LinkAja, Bank Indonesia Wilayah Solo, dan Yayasan Batik Indonesia, bersamaan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April 2021.
Galeri Batik Jawa yang dimiliki Nita sejak tahun 2007, selalu menggunakan pewarna batik alam, indigo untuk mewarnai batik tulis dengan pola motif langka yang menjadi keistimewaannya. Menurut Nita, pewarna alam ini memiliki prinsip kemandirian sehingga tak tergantung pada pewarna impor.
Sebagai upaya untuk bertahan di masa pandemi seperti sekarang menurut Nita perajin batik harus lebih kreatif dalam membaca tren. “Galeri Batik Jawa tahun ini tetap dominan warna biru, tapi kami melihat anak milenial sekarang suka kain yang bisa langsung dililit baik pria maupun wanita. Ini kesempatan besar saat lebaran ini bagi pelaku usaha batik untuk membuat batik yang ringan, enak dan mudah dililit, serta disosialisasikan lewat media sosial. Momen Lebaran seperti saat ini juga bisa jadi dimansaatkan dengan membuat aksesori seperti masker batik, kalung batik, bandana, dan kerudung, yang bisa dipadankan dan digunakan saat lebaran.”

Sementara itu, menurut Meity Sutandi, Sales & Marketing Direktur PT Dwipakencana Lestari Prima (Parang Kencana), berinovasi dan berkreasi mutlak diperlukan. Pandemi ini membuat usaha batik Parang Kencana yang telah berdiri selama 29 tahun harus beradaptasi, jika dulu banyak di offline kini ke online.
“Saat ini orang jarang pergi ke mal, karena itu dalam toko online kami kini kami memberi lebih banyak pilihan warna. Tahun ini selain warna pastel, kami juga mengikuti warna yang sedang tren seperti merah dan hijau botol.”
Selain kreativitas, digitalisasi jadi keniscayaan saat ini. Seperti dikatakan Fitria Irmi Triswati, Group Head of Retail Payment System / Director Bank Indonesia, kondisi pandemi yang belum berlalu, membuat transformasi digital semakin penting. Transformasi digital oleh pelaku UMKM menurutnya dapat dimulai dari sistem pembayaran digital.
“Meski program vaksinasi telah digulirkan pemerintah, namun kita harus tetap waspada dalam menjaga Kesehatan agar terhindar dari virus COVID-19. Salah satu cara untuk memutus penyebaran virus adalah dengan tidak melakukan kontak fisik dengan orang lain baik langsung atau tidak langsung seperti bertransaksi menggunakan uang tunai. Ini juga sejalan dengan arahan WHO dimana metode pembayaran nirsentuh harus diutamakan karena memiliki risiko penularan yang relatif lebih rendah. Di sini Bank Indonesia masuk dalam aspek sistem pembayaran. Selain sebagai alat pembayaran yang aman dan higienis, transformasi ekonomi digital juga dapat mendorong pemulihan ekonomi. Bank Indonesia bersama asosiasi Bank Indonesia telah meluncurkan QRIS yang menjadi game changer untuk metode pembayaran retail dan mendukung UMKM.”
Untuk membuat wanita pelaku UMKM semakin lihai menggunakan teknologi digital, LinkAja banyak melakukan program pemberdayaan UMKM, seperti acara webinar yang diselenggarakan bersama Femina, Bank Indonesia, dan Yayasan Batik Indonesia kali ini. “Semoga pelatihan hari ini dapat meningkatkan semangat baru bagi pelaku UMKM dan memajukan usaha para pengrajin batik. Serta bisa memberi wawasan baru bagi pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya dan memanfaatkan teknologi agar bisa menjadi usaha yang berkelanjutan, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan,“ ujar Haryati Lawidjaja, Direktur Utama Finarya (Link Aja).
“Pandemi ini mengubah pola pikir orang dari offline ke online. Pembayaran tanpa kontak di Indonesia menjadi meningkat. Kalau sebelumnya pembayaran digital kebanyakan digunakan di e-commerce dan transportasi, kini masuk ke UMKM dan pasar tradisional,” ujar Verdy Hendra Permadi, Head of Ecosystem LinkAja, salah satu penyelenggara pembayaran digital yang menggunakan QRIS. QRIS adalah singkatan dari QR Code Indonesian Standard. QRIS memfasilitasi pelaku usaha untuk pembayaran offline maupun online. Selain itu, penggunaan QRIS tercatat rapi sehingga memudahkan penyaluran kredit saat dibutuhkan UMKM. Karena itu menurutnya transformasi ekonomi digital wajib didorong.
Ia percaya teknologi digital memudahkan bisnis kita, supaya bisa survive. “Manfaat uang elektronik bagi UMKM, praktis tinggal donlot aplikasi, akuntabel karena pencatatannya jelas, aman terhindar kehilangan dan uang palsu, realtime, membuka peluang usaha, dan memiliki akses pembayaran yang luas.” (f)
Baca Juga:
Sudah Saatnya UKM Menggunakan Pembayaran Digital
3 Langkah Membuat Rencana Keuangan yang Kuat Hadapi Krisis
Pembayaran Digital Kian Diminati Konsumen, Ini yang Bisa Dilakukan Para UKM
Topic
#batik, #wanwir, #linkaja


