BizNews
Kembali Dipentaskan, Bunga Penutup Abad Hadir dengan Naskah Segar dan Panggung Putar

4 Sep 2025

Surat demi surat membuka kembali cerita di antara Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh. Foto: Dok. Titimangsa


Pementasan teater Bunga Penutup Abad sukses menyapa pencinta sastra dan teater Tanah Air pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Pementasan teater produksi Titimangsa yang dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini menjadi bagian dari rangkaian program satu tahun peringatan Seabad Pram yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation. Momentum ini menjadi pengingat bahwa karya-karya Pram tidak hanya abadi, tetapi juga terus relevan dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan hari ini.

“Pementasan kali ini menjadi reuni yang menyenangkan dengan pihak-pihak yang pernah bekerja sama sebelumnya, sekaligus pertemuan dengan pihak-pihak yang baru kali ini terlibat,” ujar Happy Salma sebagai produser pementasan ini.

Happy juga terharu ekosistem seni pertunjukan semakin bertumbuh, dan pementasan ini jadi bukti bahwa kebudayaan jadi kekuatan kita.

“Budaya adalah sebuah jalan perjuangan untuk kita menjadi manusia yang manusiakan diri,” kata Happy lagi.

Pementasan teater Bunga Penutup Abad sebagai produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan alih wahana dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Pementasan tahun ini menjadi pementasan Bunga Penutup Abad keempat setelah sukses diselenggarakan pada 2016, 2017 dan 2018.

“Menjadi bagian dari pementasan Bunga Penutup Abad sejak awal hingga saat ini merupakan salah satu wujud komitmen kami untuk menghadirkan seni pertunjukan yang bermutu dan membumi. Kami bangga menjadi bagian dari perjalanan ini, dan berharap teater Indonesia terus bertumbuh menjadi tuan rumah yang sejati di negeri sendiri,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Bunga Penutup Abad tahun ini hadir dengan berbagai kebaruan untuk memberikan kesegaran baru bagi penonton. Dari segi naskah, cerita mengalami sedikit penyesuaian dan dipadatkan sehingga penonton akan mendapatkan sajian karya yang terasa segar.

Skenografi panggung juga mengalami perkembangan dengan panggung putar yang belum pernah diaplikasikan pada tiga pementasan sebelumnya. Konsep ini memungkinkan perpindahan adegan yang lebih dinamis, menciptakan pengalaman menonton yang lebih seru.

Pementasan kembali yang lebih segar. Foto: Titimangsa

“Ketika kembali dipercaya untuk menyutradarai Bunga Penutup Abad, saya ingin memberikan pembaruan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan semangat perjuangan yang hadir pada karya-karya Pram. Kami memperkuat struktur dramatik, terutama perkembangan psikologis Annelies, sehingga cerita ini tidak hanya relevan untuk generasi muda, tetapi juga segar bagi mereka yang sudah pernah menonton sebelumnya,” ujar Wawan Sofwan, sutradara Bunga Penutup Abad.

Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies mengutus seorang pegawainya untuk menemani ke mana pun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman.

Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan kepada Minke dan Nyai Ontosoroh.

Minke selalu membacakan surat-surat itu kepada Nyai Ontosoroh, yang membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya, sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda.

Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Karakter-karakter Bunga Penutup Abad diperankan oleh Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Andrew Trigg sebagai Jean Marais, dan Sajani Arifin sebagai May Marais

“Semoga pertunjukan-pertunjukan alih wahana dari karya sastra terus menjadi pilihan untuk mengenal karakter kita dalam kebangsaan, menghargai dan mencintai bahasa yang indah serta simbol-simbol dan metafora yang disampaikan melalui karya sastra dan teater. Semangat terus untuk seni pertunjukan Tanah Air,” kata Happy Salma. (f)

Baca juga:
Seabad Pramoedya Ananta Toer, Pentas Teater Bunga Penutup Abad Hadir Kembali
Happy Salma Bercerita tentang Chairil Anwar Lewat Teater Perempuan Perempuan Chairil
Pementasan Bunga Penutup Abad, Mengenang 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya Ananta Toer


Topic

#feminaindonesia, #feminapartnership, #bungapenutupabad

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?