<< cerita sebelumnyaPekan itu berjalan dengan baik. Tenggara menyukai kelompok bermainnya, alias sekolah sementaranya, dan tidak bermasalah dengan teman-teman barunya yang relatif lebih muda usia.
”Tenggara justru bisa menjadi kakak yang baik bagi anak-anak itu,” lapor Jade suatu kali. ”Aku serasa memiliki asisten kecil.”
”Begitukah?” responsku, tak acuh.
”Kurasa dia juga akan menjadi adik yang baik bagimu.”
”Tidak,” tolakku pendek, dan segera kualihkan percakapan kami pada arah yang lain.
Aku bergeming dengan keputusanku. Bagiku, dia tetap pencuri ayahku, tidak lebih.
Konsep Berbagi
Akhirnya kutemukan juga sekolah berasrama itu. Sekolah internasional berfasilitas lengkap. Dari rekomendasi berbagai pihak, kusetujui Tenggara akan mendapatkan pendidikan dan lingkungan sosial serta penjagaan yang baik di sekolah itu. Maka, kulengkapi dengan cepat syarat-syaratnya, sehingga dengan segera Tenggara bisa pindah ke sekolah baru itu.
”Kau yang menentukan keputusan itu, maka kau sendiri yang harus menyampaikan dan menghadapinya,” kata Jade.
”Sekolah itu memiliki kurikulum dan sistem yang bisa dipercaya. Tenggara akan mendapatkan pendidikan terbaik di sana. Sesuatu yang tidak bisa kulakukan untuknya,” kataku, mencoba berdalih.
”Anak tidak hanya memerlukan pendidikan, melainkan juga kasih sayang dari orang-orang yang dekat dengannya.”
”Itu juga tidak kupunya. Tenggara adalah orang asing bagiku, seseorang yang seharusnya tidak kuketahui keberadaannya, apalagi mengenalnya. Kalau kami dianggap dekat, itu hanyalah faktor genetis belaka, karena kami memiliki ayah biologis yang sama. Tetapi, secara emosional, tidak kumiliki ikatan apa pun dengannya!”
”Meski kalian memiliki kehilangan yang sama?”
”Ya!” jawabku, bergeming.
Tibalah hari itu.
Entah mengapa, aku memulai hari itu dengan berdebar. Seperti ada sesuatu yang tidak nyaman mengikutiku, kegelisahan yang entah dari mana datangnya. Padahal, seharusnya ini merupakan hari pembebasan bagiku. Hari pelepasan dari sebuah beban bernama Tenggara. Kebebasan yang seharusnya dirayakan.
Tetapi, mengapa aku justru gelisah? Mungkinkah karena kulakukan sebuah muslihat untuk mengelabui Tenggara?
Muslihat. Sebuah kata yang menjelaskan tentang tipu daya. Sebuah kata yang mengesankan adanya sesuatu yang tersamar, yang tersembunyi dengan maksud untuk mengelabui. Kulakukan strategi tipu daya itu untuk seorang anak berumur 5 tahun.
Tenggara sangat bahagia dan takjub melihat betapa luas dan gagahnya bangunan sekolah barunya. Tetapi, tidak pernah kukatakan bahwa bangunan itu, tidak sekadar terdiri dari kelas-kelas, melainkan juga terdiri dari kamar-kamar untuk para murid menjalani segala aktivitas kesehariannya. Bahwa itu adalah asrama, yang akan menjadi rumahnya. Bahwa dia tidak akan kembali pada rumah yang dihuninya beberapa pekan ini, karena rumah itu bukanlah rumahnya, melainkan rumahku. Kali ini aku hanya mengantar. Satu arah, satu tiket, tanpa arah untuk kembali padaku.
Sekolah itu berada di pinggiran kota. Diperlukan waktu lebih dari satu jam untuk menempuh perjalanan mencapai sekolah itu. Kutempuh perjalanan itu dengan diam. Bukan karena berkonsentrasi penuh pada kemudi di tanganku, melainkan lebih karena tercengkeram oleh kegelisahan yang tidak kupahami.
Pada kursi di sampingku, Tenggara tepekur diam. Entah apa yang berkecamuk di benaknya, aku tak hendak peduli.
”Ini sekolahmu,” kataku, sembari membuka tali pengaman dari kursi mobil. ”Ayo, kuantar ke ruang kelas dan guru barumu.”
Tenggara mengangguk patuh. Lalu menyandang tas sekolahnya. Tangan yang lain menenteng kotak bekal dan termos kecil berisi air minum. Sementara aku sendiri mendorong sebuah koper berisi pakaian dan ’harta benda’ Tenggara.
Tenggara menatap heran koper itu.
”Mengapa Kakak membawa koper? Apa isinya?”
Aku berpaling. Bukan karena hendak mengabaikan pertanyaan itu, melainkan lebih karena tidak kutahu cara menjawabnya. Tidak kutemukan kalimat terbaik sebagai jawaban pertanyaan itu.
Guru baru Tenggara menyambut kami di ambang pintu. Berbincang sesaat dengan Tenggara, sebelum kemudian menerima koper yang kuserahkan padanya.
Kuhela napas panjang, lalu berjongkok di depan Tenggara.
”Kau suka sekolah baru ini?”
Tenggara mengangguk.
”Kau akan rajin belajar?”
Tenggara mengangguk lagi.
Mata bulatnya menatapku polos, tulus tanpa prasangka. Tanpa tahu bahwa telah kususun sebuah muslihat untuknya. Aku tercekat. Ada sesuatu yang menggumpal di dalam diriku dan nyaris tidak kukuasai. Suatu rasa yang tidak ingin kumiliki, khususnya dalam kaitannya dengan Tenggara.
Rasa itu, janganlah mendatangiku. Enyahlah, pergilah, jadikanlah dia tetap sebagai orang asing yang tidak perlu kukenal. Bahwa hanya faktor kebetulan belaka yang membuat kami terkait secara biologis.
Namun, tanpa kukehendaki, begitu saja aku mendekatkan diri, mencium kedua belah pipinya. Kulakukan dengan sentuhan yang sangat sekilas. Tetapi, kemudian tanpa terduga, kedua belah tangan Tenggara bergerak memelukku. Kecil lengan itu, namun merengkuhku dengan sempurna. Erat melingkariku.
Aku tak punya pilihan lain selain membalas pelukan itu. Lalu rasa itu mendatangiku. Rasa tidak asing, yang dulu kala mendatangiku pada masa kanak-kanakku, kala kali terakhir kupeluk Bunda.
Sebuah rasa kehilangan. Sebuah rasa ditinggalkan.
Segera kuhentikan rasa itu. Kulepaskan pelukan anak itu, bangkit berdiri sembari berpaling, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Aku tahu rasanya ditinggalkan. Dulu sekali.
Kini, aku tahu rasanya meninggalkan.
Aku ingin merayakan kebebasanku. Maka, kuajak Jade makan malam. Sudah lama kami tidak melakukannya, setelah begitu banyak peristiwa tak terduga yang menimpaku.
Jade belum selesai merapikan diri, ketika aku menjemputnya petang itu. Seperti biasa, aku menunggunya di ruang belakang. Ada taman kecil di situ, dengan kolam berisi ikan koi aneka warna. Juga kandang burung berisi parkit-parkit berwarna pastel. Di sudut halaman kulihat penghuni baru itu. Seekor anjing kecil, berbulu serupa kapas warna abu-abu. Kecil makhluk itu, seakan bisa dipeluk dengan genggaman jemari.
Aku melangkah mendekat. Makhluk mungil itu sedang asyik menyantap ransum dari mangkuknya.
”Hai, siapa namamu?” tanyaku, menyentuh ujung telinganya yang berwarna semburat. Sesaat makhluk itu berhenti menyantap, menatapku sebentar, lalu mengendus ujung kakiku. Agaknya dia sedang mengenaliku.
”Hus, habiskan dulu makanmu!” seruku, bergerak mundur.
Tetapi, makhluk kecil itu terus saja mengikutiku.
”Sudah kenyang?” tanyaku lagi. Kugerak-gerakkan kaki menggoda makhluk itu, yang ikut bergerak seirama gerak kakiku.
Sesaat kemudian Jade muncul di ambang pintu.
”Hai,” sapanya, melihatku bercanda dengan anjingnya. ”Namanya Grey.”
”Lucu makhluk ini, dapat dari mana?”
”Dari seorang murid. Hadiah Natal yang diberikan sebelum dia liburan.”
”Oh,” aku manggut-manggut. ”Tapi, makanan yang kau berikan terlalu banyak, lihat, tersisa separuh.”
”Bukan begitu. Meski kukurangi ransumnya, akan tetap ia sisakan separuh.”
”Mengapa begitu?” aku tidak mengerti.
”Konsep berbagi,” Jade menjelaskan sembari membersihkan mangkuk makan Grey. ”Umumnya terjadi pada makhluk yang tumbuh bersama dan terbiasa makan dari satu tempat. Induk anjing ini pastilah melahirkan beberapa ekor anak pada saat yang sama. Masa awal mereka terpisahkan, belum disadari bahwa mereka tidak lagi berbagi makanan, sehingga disisakannya sebagian, mengira bahwa saudaranya masih memerlukan bagian makanan itu.”
”Begitu, ya?”
Jade mengangguk. ”Hal semacam ini akan berlangsung beberapa lama. Semacam proses adaptasi, sampai mereka terbiasa dan sadar bahwa saudaranya tidak pernah datang kembali.”
Mendadak aku terdiam. Seakan aku berhadapan dengan sebuah perumpamaan, semacam gambaran yang serupa. Kutinggalkan seorang anak pada suatu tempat, tanpa pamit, ucapan selamat tinggal, apalagi penjelasan. Anak itu, Tenggara, apakah akan mengalami proses adaptasi yang sama seperti Grey? Menjalani masa penantian, mengira bahwa aku akan menjemputnya? Berapa lama dia akan memelihara harapan itu? Apakah dia akhirnya akan sadar suatu hari nanti, bahwa sesungguhnya dia telah ditinggalkan?
Aku tercekat. Gumpalan rasa itu memenuhi diriku. Menyesakkan benak, seakan memberikan tindihan mahaberat yang nyaris tak tertanggungkan.
Konsep berbagi. Bahkan seekor anjing, makhluk yang sering kali dianggap hina, memahami tentang konsep berbagi. Tidak hanya berbagi makanan dari wadah mangkuk yang sama, melainkan lebih dari itu, mereka sesungguhnya saling berbagi kasih sayang.
Mengapa aku tidak?
Penulis: Sanie B. Kuncoro


