Siang itu Anggun menyambut hangat femina di suite-nya di salah satu hotel bintang lima di bilangan Thamrin, Jakarta. Cocktail dress putih yang membalut tubuhnya terlihat minimalis, namun elegan, serasi dengan kulitnya yang seksi kecokelatan. Dan, seperti biasa, rambut hitamnya yang lurus panjang hanya digerai, penampilan khas yang ia pertahankan sejak memulai karier di dunia musik internasional tahun 1997. Dilihat dari tutur kata dan gerak-geriknya, Anggun memang bukan wanita yang ‘keberatan’ nama. Wewangian Timur/Barat
Beberapa tahun belakangan ini, hidup Anggun terbagi antara kota kelahirannya, Jakarta, dan kota tempat tinggalnya bersama suami, Cyril Montana (44), dan putrinya, Kirana (7), Paris. Ia juga terbang ke sana kemari untuk berbagai proyek menyanyi, baik undangan untuk tampil ataupun undangan untuk berkolaborasi dengan musikus dan penyanyi dari bermacam kebangsaan.
Saat ini Anggun juga sedang bekerja sama dengan penyanyi new wave, Enigma. Terakhir, Anggun merekam ulang Snow on the Sahara versi bahasa Prancis untuk album penyanyi Prancis-Portugis, Tony Carrera. Keduanya membawakan lagu La Neige au Sahara (Faço Chover No Deserto) ini di Monte Carlo, Monaco, di mana Anggun mendapat penghargaan World’s Best Selling Indonesian Artist di World Music Awards 2014.
Belum lama ini ia juga menyanyikan lagu grup Queen yang berjudul Who Wants to Live Forever bersama Il Divo untuk versi Prancis dari album baru mereka, A Musical Affair.
Di sela-sela persiapan album barunya yang direncanakan rilis tahun depan, Anggun masih sempat meluncurkan merek eau de parfum yang diberi nama Grace. Di sini, pelantun soundtrack film Pendekar Tongkat Emas yang berjudul Fly My Eagle ini tidak sekadar meminjamkan nama atau wajahnya. Ia mengaku terlibat dari awal proses pembuatan parfum tersebut di Grasse, di daerah selatan Prancis. “Di Grasse iklimnya begitu bagus. Semua jenis bunga dan buah-buahan yang dipakai untuk ekstrak parfum tumbuh di sana,” katanya.
Dengan antusias Anggun bercerita bahwa pembuatan parfum ini memakan waktu hampir 2 tahun. Awalnya, ia diminta untuk mengisi kuesioner berisi macam-macam pertanyaan yang bisa menggambarkan kepribadian dan kesukaannya. Setelah dianalisis, le nez (the nose) --istilah untuk pembuat parfumnya-- meracik berbagai tumbuhan yang paling sesuai dengan kepribadian Anggun, seperti melati, musk, dan jeruk nipis.
“Tadinya saya ingin memasukkan cengkih karena wanginya mengingatkan saya pada bapak saya. Tapi, wangi cengkih cukup tajam seperti mint dan cenderung mendominasi aroma lainnya. Jadi diganti dengan jahe,” ujar Anggun, yang ingin membuat parfum dengan aroma east meets west.
Primarita S. Smita


