Dua bulan terakhir, wanita yang didaulat sebagai brand ambassador Maybelline New York, Velove Vexia (25), seakan berada pada titik terendah. Di tengah kariernya yang kian bersinar, ia harus menghadapi kasus hukum yang menimpa ayahnya, pengacara OC Kaligis (73), yang kini tengah ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan dugaan telah melakukan penyuapan. “Saya dipisahkan dengan Papa secara paksa dan tiba-tiba,” ujarnya, sedih. Sebagai anak yang sangat dekat dengan ayahnya, ia begitu bersemangat memberi dukungan untuk ayahnya. Velove berkali-kali mendatangi kantor KPK. Ia menjadi orang terdepan mewakili keluarga untuk menghadapi dan menjawab pertanyaan media.
Suasana di studio foto femina pada siang hari itu ramai dengan kegiatan pemotretan. Di salah satu ruang studio, terlihat Velove sedang menjalani pemotretan cover.
Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti arahan fotografer dan stylist. Bahkan sekali-sekali, dengan inisiatif sendiri, ia berpose tanpa diarahkan. Seperti model profesional, ia cukup lihai di depan kamera. Hal ini menjadi bukti bahwa ia memang sudah sangat matang di depan layar. Dengan sabar, ia menjalani jadwal pemotretan yang berlangsung sekitar 3 jam itu, walau harus beberapa kali ganti kostum.
Ia pun bercerita tentang perkembangan terkini kariernya di dunia hiburan. “Saya sedang mempersiapkan diri untuk menjalani syuting film dan sinetron terbaru. Saya juga menjalankan tugas sebagai brand ambassador beberapa produk,” ungkapnya, sembari tersenyum manis dengan menampakkan raut wajah berseri, tak sedikit pun terlihat kesedihan.
Selama berkarier di dunia peran sejak tahun 2007 lalu, selain FTV serta sinetron yang telah membesarkan namanya, ia juga sudah berperan di 2 judul film, Cewek Gokil (2011) dan Mika (2013). Ia masih memiliki keinginan untuk bermain di beberapa film. Namun, ia tidak memaksakan diri untuk mewujudkan itu. “Biarlah sutradara yang melihat dan menentukan film yang cocok untuk saya perankan,” katanya.
Walau tanpa pendidikan khusus di bidang akting, di semua sinetron, FTV, dan film, Velove sukses memainkan perannya. Baginya, akting adalah tantangan yang ia berikan untuk dirinya sendiri. “Ada kepuasan tersendiri ketika sukses memerankan sebuah karakter,” katanya, tersenyum.
Tiap karakter yang ia perankan, ia jadikan pelajaran baru yang digunakan pada film lain di kemudian hari. Velove percaya, pengalaman adalah guru terbaik.
Menurut wanita yang memiliki tinggi badan 171 cm ini, akting antara sinetron dengan film tidak terlalu jauh berbeda. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa akting di sinetron harus lebay dan mengada-ada. Namun, Velove mengakui bahwa ia tidak pernah berekspresi lebay, sekalipun dalam sinetron. Tiap karakter yang ia perankan, selalu dijiwainya.
“Perbedaannya terletak pada persiapan. Kalau pada film, persiapan lebih detail dan matang, sedangkan pada sinetron justru sering mendadak, apalagi sinetron stripping,” ujar wanita yang senang mengoleksi sepatu ini.
Agar dapat menjalankan pekerjaan dengan lancar, ia pun tidak malu untuk bertanya sesering mungkin kepada sutradara. Ia menjadikan tiap orang yang terlibat dalam produksi film sebagai penyemangat. Velove mengajak siapa pun, seperti teman-teman sesama pemain dan para kru, untuk mengobrol dan bercerita. “Dengan banyak berinteraksi dengan siapa pun, akan membuat pekerjaan lebih menyenangkan. Rasa capek pun tidak terlalu dirasakan,” tutur wanita kelahiran 13 Maret 1990 ini.
Alumnus SMU Global Jaya Tangerang ini telah mengambil tekad untuk tetap fokus berkarya di dunia peran sebagai aktivitas utamanya. Namun, tidak hanya di depan layar, ia justru menjadi penggerak produksi sebuah film. Di film Mika, Velove menjadi executive producer. Dari sana, ia belajar tentang proses pembuatan film hingga distribusi.
Seperti halnya executive producer pada umumnya, ia bertanggung jawab sejak film tersebut hanya berupa sebuah gagasan. Bersama dengan sutradara Lasja Fauzia Susatyo, Velove mengembangkan gagasan yang diadapatasi dari novel Waktu Aku sama Mika, karya Indi Taufik. “Saya bekerja keras dalam pembuatan film tersebut, salah satunya mencari dana dari pemodal,” kata wanita berzodiak Pisces ini.
Hasilnya cukup menggembirakan. Selain sukses diputar di bioskop Indonesia, film berdurasi 100 menit itu juga diputar pada ajang Indonesia Film Festival, Melbourne, Australia, pada April 2013 lalu.


