Pada 24 Juli 2015 lalu, Regulator Obat-obatan Eropa atau European Medicines Agency's (EMA) akhirnya menyetujui vaksin pertama untuk penyakit malaria yang diklaim aman dan efektif digunakan untuk bayi. Vaksin bernama mosquirix ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi GlaxoSmithKline (GSK) dan The Path Malaria Vaccines Initiative, selama riset 30 tahun. Saat ini mosquirix akan dan dikaji lebih lanjut oleh WHO (World Health Organization) dari segi kualitas keamanan dan khasiatnya. Setidaknya baru di tahun 2017 vaksin ini bisa dirilis.
“Kami akan melihat vaksin ini dari sudut pandang kesehatan masyarakat,” kata juru bicara WHO, Gregory Hartl, kepada Reuters. “Kami harus berpikir cermat bagaimana menambahkan vaksin malaria di daerah endemis malaria,” tambahnya. Malaria adalah pembunuh terbesar bagi anak-anak di dunia, satu anak tiap menit meninggal karenanya. Malaria menginfeksi 200 juta orang per tahun dan membunuh sekitar 584.000 orang di tahun 2013. Kebanyakan adalah bayi di sub-Sahara Afrika. Penemuan ini disambut gembira oleh para ilmuwan dan tokoh kesehatan dunia.
Andrew Witty, Chief Executive GSK, mengatakan, EMA menyambut penemuan ini secara positif dan ke depannya akan mengusahakan vaksin ini tersedia di dunia. Perusahaan obat GSK telah menghabiskan dana sekitar 230 juta pounsterling atau sekitar Rp4,8 triliun untuk meriset mosquirix. (f)


