Segala histeria yang terjadi di sekitarnya ditanggapi pria yang bernama lengkap Thomas William Hiddleston ini dengan rendah hati. Malah, dianggap sebagai sex symbol membuat Tom jadi bahan lelucon kakak dan adik perempuannya. “Hal ini bukan sesuatu yang saya pikirkan ketika bangun pagi. Saya tidak berkaca dan bilang, ‘Hey, sex symbol!’ Saya biasanya lebih memikirkan, ‘Kenapa telat banget?’ atau ‘Tanggung jawab apa yang harus saya lakukan hari ini?’” ujarnya, tertawa.
Meski ia telah bertahun-tahun bekerja keras sebagai aktor di Inggris, Tom juga masih merasa tidak pantas menerima popularitas dan antusiasme penggemar yang begitu besarnya. “Ketika saya masih sekolah akting, saya pergi ke London bersama teman-teman dan nonton acara-acara premier film dari pinggir. Sampai saat ini saya masih tidak percaya sekarang saya berjalan di karpet merah,” ujar Tom, yang kini memiliki ‘pasukan’ penggemar bernama Hiddlestoners.
Sepertinya sulit untuk tidak ‘meleleh’ pada aktor-aktor Inggris, dengan aksen British mereka yang seksi dan pembawaan yang umumnya seperti bangsawan. Lebih sulit lagi untuk menghindar dari karisma Tom, yang sering kali berbicara dengan puitis. Bukan karena sok, tapi karena aktor lulusan Royal Academy of Dramatic Art tahun 2005 ini memang pencinta Shakespeare dan telah mementaskan karya-karyanya sejak mulai berkarier sebagai aktor, 8 tahun lalu.
“Saya jatuh cinta pada karya Shakespeare sejak diajak ibu saya menonton drama ketika saya remaja. Saya terpukau melihat para aktor memberikan penampilan yang luar biasa,” ujar Tom, yang akhir tahun ini akan mementaskan Coriolanus, drama Shakespeare tentang bangsa Romawi, di London.
Mendalami karya sastra Inggris selama sekolah, ia mengaku jadi terlalu banyak omong. “Saya mencintai kata-kata. Saya senang berbicara dan mendeskripsikan sesuatu dengan indah,” ujar Tom, yang sering menyelipkan istilah Latin dalam percakapan sehari-hari.
Tak heran jika pembawaan dan tutur kata Tom seperti gentleman. Ini berkat pendidikannya di Eton College (sekolah Pangeran William) dan Cambridge, universitas prestise yang melahirkan banyak perdana menteri Inggris. Ditambah kemampuannya berbahasa Eropa seperti Prancis, Yunani, Italia, dan Spanyol, makin membedakan kelas Tom dari kebanyakan aktor Hollywood.
Latar belakang pendidikan yang mewah membuat pria kelahiran Westminster, 9 Februari 1981, ini terkadang merasa jengah, tapi juga beruntung. Sebab, ia memang bukan berasal dari keluarga bangsawan, meski ibunya lahir di keluarga yang cukup berada. Ayahnya berasal dari kelas pekerja yang membangun hidup dari nol. “Ayah saya bekerja keras dan berusaha untuk memberikan anak-anaknya pendidikan yang terbaik. Sekarang saya menikmati kehidupan yang nyaman berkat beliau,” ujar Tom, yang menjabat sebagai salah satu duta UNICEF UK.
Pria penggila olahraga tenis ini bercerita, sejak kecil ia selalu menjadi sang entertainer dalam keluarganya. Menirukan aksen atau gaya berbicara orang lain adalah bakat alami. “Di tiap kesempatan, saya dan saudara-saudara saya selalu bermain drama. Entah kenapa saya selalu jadi yang jahat,” kenangnya. Beranjak remaja, akting menjadi pelariannya dari perceraian orang tuanya. “Saya berusaha menghabiskan waktu seminimal mungkin di rumah dengan mengikuti ekskul drama,” ungkapnya.
Namun, Tom mengaku tak begitu nyaman membicarakan masa lalu. “Saya lebih suka melihat ke depan. Mengapa saya harus berkutat dengan hal-hal yang negatif?” katanya. Ia juga mengikuti sebuah filosofi yang mungkin patut dicontoh. “Ada ungkapan dalam bahasa Prancis: ‘Kita memiliki dua hidup. Hidup yang kedua baru dimulai ketika kita menyadari bahwa kita hanya memiliki satu hidup’,” tuturnya, bijak.(PSS)


