Fiction
Titi Wangsa [1]

29 Mar 2012

Sudah lebih dari setengah jam Alexandra menunggu di stasiun kereta monorail ini. Namun, sosok yang ditunggunya belum juga muncul. Dalam kesunyian, tanpa gemuruh roda kereta dan suara langkah kaki penumpang, detak jarum jam yang tergantung di dekat peron pembelian karcis, terdengar jelas seperti detak jantungnya, yang terdengar mengentak.

Menit-menit telah berlalu dan ia tetap saja membeku dalam ketidakpastian. Begitupun ketika kereta-kereta telah datang-pergi, dan ia tetap sendiri mendekap hampa hati yang kian tak terperi.

Mungkin aku sudah gila mengharapkan pria seperti Nicholas akan datang dan menepati janjinya, pikir Alex. Nicholas pasti sama seperti pria-pria yang dikenalnya selama ini, yang tak pernah punya nyali untuk kembali. Padahal, cinta sudah di depan mata.

Dihelanya napas panjang, berusaha mengusir pengap yang datang menyergap. Pikirannya sebagai wanita muda yang kerap menemui kegagalan, melayang-layang tak keruan. Mungkinkah ia selamanya tak akan menikmati cinta sejati? Mungkinkah, entah untuk kali keberapa, lagi-lagi dia kalah di medan pertempuran cinta? Dia se-lalu mengibaratkan cinta sebagai sebuah medan pertempuran. Dan, di medan pertempuran itu, ia selalu berada di pihak yang kalah. Ia selalu gagal mempertahankan pria-pria yang dicintainya. Apakah sekarang juga akan berakhir seperti itu lagi?

Ia sudah berusaha melupakan sakit hatinya dan menganggap bahwa akhir seluruh kisah itu tak selalu sama. Namun, bila nyatanya dia selalu menjumpai akhir yang sama, maka masih mungkinkah mempertahankan setitik asa di dalam dada sana?

Namun, entah bagaimana, jauh di lubuk hatinya ada sejumput keyakinan bahwa Nicholas akan menepati janjinya. Pikiran dan hatinya saling bertolak belakang, seperti dua pemain anggar yang saling berusaha menjatuhkan satu sama lain.

Wahai hati, tidurlah dari pikiran! Sebab pikiran adalah perangkap hati! Ia seperti mendengar Jalaluddin Rumi berteriak memberi peringat­an. Maka, dipejamkannya mata untuk mengistirahatkan pikirannya yang mengembara ke mana-mana.

Gemuruh kereta kembali memecah kesunyian stasiun. Alexandra membuka mata dan menatap nanar ular besi di depannya. Sebentar lagi, pintu-pintu akan terbuka secara otomatis dan memuntahkan para penumpang di dalamnya. Sekali ini, jika ia tak menemukan Nicholas, maka ia akan pulang ke hotel dan melupakan seluruh omong kosong di antara mereka berdua. Matanya terasa panas saat ia menatap penuh asa ke pintu kereta. Mereka telah berjanji untuk bertemu di tempat ini untuk satu alasan yang sama: cinta.

Enam Bulan Yang Lalu
Samar-samar dering telepon menyeruak masuk ke mimpinya, seperti bau harum masakan Ibu, yang selalu membangunkannya di pagi hari. Ia selalu terbangun dari mimpi yang sama. Mimpi tentang kontak tembak antara pasukan militer dan gerombolan pemberontak. Dia terjebak di tengah-tengah kontak tembak antara pihak militer dengan beberapa orang pemberontak bersenjata AK-47. Ia berusaha keras melepaskan diri dari bayang-bayang mengerikan itu. Ia terbangun, berkeringat, dan linglung sesaat.

Oh, pukul berapa ini? Tetapi, bukankah dia tak mengenal waktu? Yang dia tahu hanyalah satu episode telah berlalu. Dia hidup dari hari ke hari tanpa sempat memikirkan pukul berapa dan tanggal berapa sekarang. Hidup hanya dari satu tugas ke tugas lain. Begitu selesai satu tugas, maka sudah menunggu tugas berikutnya. Bukan dia yang berkuasa atas hidupnya, melainkan sang komandan yang selalu menelepon setiap saat, mirip yang dilakukan ibunya.

Diraihnya telepon yang masih berdering. “Halo?” sapanya.

“Nicholas!” suara sang komandan terdengar menggelegar bak ledakan bom berbahan dasar C4 di seberang sana. Di kegelapan, dari deretan stereo set miliknya, samar terlihat pantulan angka digital berwarna merah, menunjukkan angka 06.00 WIB. Angka-angka yang tak lagi penting untuk seorang abdi negara seperti dirinya. Karena, angka yang harus diingat hanyalah deretan pasal-pasal di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

“Siap, Ndan!”

Ia baru sempat tidur dua jam, karena menyelesaikan laporan sebuah peristiwa kriminal. Sungguh melelahkan.

“Oh, syukurlah! Bangun dan laksanakan tugas, Nak! Jangan bercinta terus dengan sembarang wanita! Tubuhmu bisa membusuk!”

Ya, ia memang telah lama membusuk oleh berbagai persoalan yang menumpuk.

“Siap, laksanakan tugas!” ujarnya, berusaha mengusir kantuk yang masih melekat di pelupuk matanya. Ingin sekali ia bisa sehari saja tidur nyenyak, tanpa terganggu oleh suara apa pun.

“Nicholas, kamu sudah tahu? Semalam ada pencurian di Museum Kota. Pergilah ke sana sekarang, selagi nyamuk-nyamuk pers belum mengendus peristiwa ini!” kata sang komandan lagi.

Museum Kota hanyalah salah satu dari tiga museum yang ada di kota ini. Ketiganya berada di bawah pengelolaan yayasan. Seingat Nicholas, Museum Kota bukanlah museum besar dengan sistem pengamanan canggih seperti Museum Louvre di Prancis. Sebaliknya, Museum Kota hanyalah sebuah museum kecil, penuh sesak oleh buku-buku dan artefak kuno serta berdebu.

Letaknya di pinggir jalan raya utama yang membelah kota. Lokasinya sangat strategis sebenarnya. Namun, entah kenapa, dari tahun ke tahun pengunjungnya tak pernah bertambah. Selalu sepi di hari biasa dan ramai di musim liburan. Banyak yang berpendapat, museum bukan tempat menarik untuk dikunjungi dan dilihat. Apalagi, isinya hanya peninggalan-peninggalan yang sudah berumur ratusan tahun hingga berabad-abad.

Penulis: Astrid Prihatini WD


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?