Beberapa tahun lalu, namanya tak pernah terdengar di blantika perfilman tanah air. Namun, kemenangannya sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di film Soekarno pada ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2014 langsung melambungkan namanya. Cantik, berprestasi, namun tetap rendah hati. Itulah kesan yang muncul setelah femina mengobrol panjang lebar dengan wanita kelahiran Denpasar, 17 Februari 1990, ini.‘Tercebur’ di Film
Sebenarnya, bagi Ratu Tika Bravani (25) akting bukanlah hal yang baru. Sejak duduk di bangku SMP dan SMA, wanita berkulit sawo matang ini telah mengasah bakatnya di ranah seni peran lewat kegiatan ekstrakurikuler teater di sekolah. “Senang saja bisa berganti karakter, merasakan jadi orang lain, juga melepaskan emosi secara bebas. Bisa menangis, marah, atau tertawa sesuai peran tanpa beban,” jelas Tika, mengenai kecintaannya pada dunia akting.
Meski begitu, impian untuk menceburkan diri di dunia akting dan modeling secara profesional tak pernah terlintas di benaknya. Sampai pada saat ia mengikuti pemilihan Abang None di tahun 2009, takdir mempertemukannya dengan Senandung Nacita Mizwar, putri tokoh perfilman Indonesia Deddy Mizwar (kini Wakil Gubernur Jawa Barat), yang kebetulan sama-sama menjadi finalis di kompetisi tersebut.
Keikutsertaannya di ajang tersebut juga hanya karena menjawab tantangan teman-teman kuliahnya yang memasang taruhan akan mentraktirnya jika ia berhasil masuk final. Padahal, bisa dibilang wanita tomboi ini tak suka dunia modeling sama sekali dan selalu gugup jika diminta berpose di depan kamera.
“Saya enggak ada tujuan apa pun saat ikut Abang None ini. Bukan karena saya ingin jadi model apalagi aktris, tapi hanya iseng ingin mengisi waktu liburan. Eh, malah saya diminta tolong Nacita untuk ikut audisi sebagai Pipit di film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) yang diproduseri ayahnya. Alasannya, Om Deddy kesulitan mencari pemeran utama yang pas, sementara jadwal syutingnya sudah tinggal seminggu lagi,” kisah Tika yang akhirnya terpilih sebagai pemenang pemilihan Abang None untuk wilayah Jakarta Barat.
Merasa tak punya pengalaman berakting di film layar lebar, Tika gamang dan bahkan sempat menolak ajakan audisi tersebut. Tapi, penampilan monolog Tika yang memukau saat sesi ajang unjuk bakat di pemilihan itu, ditambah sikap cuek dan tomboinya yang mirip karakter Pipit, membuat Nacita bersikeras mendorongnya untuk berani mencoba.
“Bagaimana tidak takut setelah tahu yang akan bersanding dengan saya di film itu adalah nama-nama besar, seperti Om Deddy sendiri, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Reza Rahadian, dan Rina Hasyim. Pada akhirnya, saya terima juga tawaran audisi itu semata-mata karena ingin membantu. Dan siapa sangka, ternyata saya mendapatkan peran itu,” kata Tika.
Pendalaman peran sarjana pengangguran yang kerjanya hanya mengandalkan ikut kuis-kuis di televisi untuk menyambung hidup di film komedi satir yang menyindir persoalan sosial ini ternyata tak semudah yang dibayangkan wanita berdarah campuran Padang-Banten ini. Ia sempat kesulitan beradaptasi dari akting teater ke film yang manajemen emosinya berbeda. Menurutnya, kalau di teater, semua mengalir pelan-pelan.
Perlahan-lahan naik, klimaks, lalu turun lagi emosinya. “Nah, kalau di film tidak begitu. Saya harus bisa mengubah emosi dari emosi rendah ke tinggi secara drastis. Apalagi, terkadang juga harus diulang-ulang dan pengambilan adegan dengan emosi yang berbeda-beda pun dilakukan tidak berurutan. Ini yang susah!” kisahnya, tertawa.
Namun, bukan Tika namanya jika tantangan membuatnya mundur. Bermain di film yang ditaburi sembilan bintang peraih piala Citra menjadi kesempatan emas baginya untuk mempelajari cara mempertajam karakter dari mereka.
Setelah film layar lebar perdananya, ia kebanjiran tawaran bermain di banyak film televisi (FTV). Sampai akhirnya, ia ditawari sebuah peran dalam film layar lebar yang sangat menantang, yakni menjadi Ibu Fatmawati di film Soekarno (2013).
Ia mengaku, ini adalah tantangan besar yang dapat mempertaruhkan reputasinya. Sebab, cerita film ini bukan fiktif, dan putra-putri dari tokoh yang ia perankan masih hidup. “Saya bisa dikritik habis-habisan jika tak bisa menyamai sosok Ibu Fat (nama panggilan Fatmawati, red.) yang sebenarnya. Jadi, saya betul-betul harus dapat mempertemukan antara fakta sejarah dengan subjektivitas sutradara akan karakter Ibu Fat,” tutur aktris yang selalu terpesona oleh akting Adinia Wirasti dan Cate Blanchett yang natural ini.
Demi bisa berakting sesempurna mungkin, Tika pun melahap aneka buku biografi istri presiden pertama RI yang menjahit sendiri bendera nasional merah putih itu. Ia juga sowan menemui anak pertama Ibu Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, dan cucunya, Puti, untuk berkonsultasi. “Mereka menyemangati saya dan mengatakan bahwa postur saya memang mirip almarhumah Ibu Fat,” katanya.
Kebetulan, Tika masih memiliki nenek dan sanak-saudara yang tinggal di Bengkulu. Karena Ibu Fatmawati berasal dari Bengkulu, Tika pun menyambangi kerabatnya di Bengkulu untuk memperdalam aksen dan bahasa Bengkulu. Tak sia-sia, jerih payahnya kembali membuahkan hasil manis. Tika berhasil meraih piala Citra di FFI 2014 untuk aktingnya yang luar biasa di film arahan sutradara Hanung Bramantyo itu.(Reynette Fausto)


