Celebrity
Tantangan Dari Komunitas

11 Dec 2014

Terlahir dari imigran asal Pakistan, dari pasangan Safdar Hussain dan Hafeeza, Sayeeda Hussain Warsi lahir dan besar di Dewsbury, West Yorkshire, 28 Maret 1971. Jika bukan karena ayahnya yang berjiwa feminis, Warsi mungkin tak akan menjadi seperti sekarang. Safdar yang pada awal datang ke Inggris bekerja sebagai buruh pabrik kain, bersikeras kelima putrinya harus bersekolah tinggi dan masuk ke dunia profesional.
    Fasih berbahasa Urdu dan Punjabi (selain bahasa Inggris beraksen Yorkshire kental), Warsi tak bisa lepas dari tradisi Pakistan. Di usia 19 tahun, ia menerima perjodohan keluarga dengan salah satu kerabat jauhnya. Pernikahan itu bertahan hingga 17 tahun.  Pada  tahun 2009, ia menikah lagi dengan Iftikhar Azam.
Sarjana hukum dari University of Leeds, London, ini mengawali kariernya sebagai pengacara. Ia bekerja di firma hukum milik seorang anggota parlemen asal Dewsbury, sebelum akhirnya membuka praktik hukum sendiri di Dewsbury.
Tahun 2005, ia melepas kariernya sebagai pengacara demi karier baru di dunia politik. Ia maju sebagai calon legislatif dari partai Konservatif, mewakili Dewsbury. Ia pun tercatat sebagai wanita muslim pertama yang tergabung dalam partai Konservatif, meski saat itu ia harus menerima kekalahan.
“Mungkin pada saat itu saya kalah karena kulit saya terlalu cokelat bagi sebagian orang (yang tidak mungkin akan memilih orang Asia) dan terlalu wanita (bagi mereka yang berpikir parlemen bukan tempat bagi wanita). Menjadi wanita, keturunan Asia, dan muslim pula, adalah tiga tantangan besar untuk masuk ke politik di Eropa,” katanya.
Meski kalah dalam pemilu --Warsi yang kemudian bekerja sebagai special adviser di partai Konservatif-- karier politiknya terus menanjak hingga sempat menduduki posisi sebagai ketua partai. Tahun 2007, Warsi pun ditunjuk sebagai Shadow Minister for Community Cohesion. Ia menjadi anggota termuda yang bergabung dengan House of Lord. (ini lembaga semacam apa ya FIC? Terangin dikit ya.  
    Keberaniannya untuk menjadi vokal dalam berpolitik juga banyak dipengaruhi oleh sang ayah. Ketika di Inggris merebak kasus Rochdale --gadis-gadis kulit putih yang menjadi target pemerkosaan oleh sekelompok gank yang berasal dari keturunan Pakistan-- ayahnya bertanya, apa tindakan Warsi? Ia menjawab, “Oh, tidak. Itu tanggung jawab Home Office, bukan saya.” Mendengar itu, ayahnya pun menceramahinya.
“Ayah berpesan, ‘Sayeeda, lalu apa gunanya kamu punya posisi sebagai pemimpin, jika kamu tidak bisa memimpin opini untuk isu-isu yang fundamental seperti ini?’ Saya pun berpikir,  pendapat ini benar,” kata Warsi, yang terus mengingat pesan ini hingga sekarang.
Kendati demikian, Warsi juga pernah menghadapi tantangan dari sebagian komunitas muslim. Ketika merebak kasus perang terhadap teroris di Afganistan, tahun 2009, yang mengakibatkan banyak warga setempat meninggal, Lady Warsi mendapat protes keras dari sekelompok muslim, yang mempertanyakan keislamannya.
Di sisi lain, ia juga pernah membela pemakaian jilbab. Ketika itu, tahun 2010, di Inggris merebak perdebatan tentang pro-kontra pemakaian jilbab, setelah sebelumnya seorang politikus Inggris melarang penggunaan jilbab di tempat publik. Warsi mengatakan, jilbab sama sekali tak membatasi wanita untuk beraktivitas. Pilihan tentang boleh tidaknya menggunakan jilbab sebaiknya menjadi keputusan individu masing-masing.
"Saya pasti akan tertekan kalau dipaksa mengenakan rok mini ke tempat kerja dengan alasan baju itu yang paling pas bagi wanita. Sama halnya  jika ada orang yang memaksa saya untuk memakai baju yang menutup dari kepala sampai kaki,”  ujar Warsi, tegas.  (Ficky Yusrini)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?