Tanta merasa beruntung mencapai apa yang ia raih sekarang. Setidaknya kini ia bisa mempertanggungjawabkan keputusannya untuk menjadi seniman kepada kedua orang tuanya. “Kebetulan film 3 dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang saya mainkan akan diputar di Los Angeles Indonesia Film Festival. Kalau saya jadi ikut berangkat, saya ingin banget mengajak kedua orang tua nonton film saya,” ujarnya.
Saat memutuskan untuk kembali ke Indonesia demi menjadi seniman, tahun 2008 lalu, bungsu dari tiga bersaudara ini memang berselisih hebat dengan ayahnya, Simson Ginting. ”Saya mengerti, ayah saya kecewa dan khawatir dengan keputusan saya. Bagaimana tidak, waktu itu hidup saya sudah mapan di Los Angeles, Amerika. Kerja sebagai engineer dengan gaji besar, sudah punya apartemen dan dua mobil. Tapi, semua itu tidak membuat saya bahagia, dari dulu saya memang ingin jadi musikus,” ujarnya.
Jiwa seni begitu kuat memanggil Tanta. Sebenarnya, ini sudah disadari Tanta dan orang tuanya sejak lama. Bakat seni ini terlihat pada diri Tanta yang bisa memainkan beberapa alat musik, gitar, piano, drum, dan keyboard. Pria bersuara bass ini juga sempat menang dalam kontes adu vokal. Tapi, semua bakat itu ia redam dan hanya dianggap sebagai hobi semata.
Walau ia membentuk band Fourwall bersama teman-temannya, sesama anak Indonesia yang tinggal di Amerika, ia hanya bisa menjalani hal yang ia sukai itu setengah-setengah. Band-nya pun susah berkembang di Amerika. Inilah yang membuatnya ingin kembali ke Jakarta. Sayangnya, saat itu masyarakat Indonesia sedang menyukai musik pop Melayu. Band Tanta yang beraliran pop rock alternatif tak diminati produser. Apalagi lagu-lagu mereka berbahasa Inggris. Tapi, penolakan itu tak melunturkan tekadnya untuk menjadi seniman. Apalagi saat itu ia masih memiliki banyak tabungan.
”Jeleknya, waktu itu saya kurang ngotot cari kerja. Makanya, saya sengaja habiskan dulu tabungan, kebanyakan untuk memperbaiki rumah keluarga dan jalan-jalan. Ketika tabungan sudah habis, sampai saya mesti sering numpang makan di rumah saudara, saat itulah saya jadi lebih giat,” kisah pria yang tidak minum kopi ini.
Ia pun tak melewatkan kesempatan pertamanya di dunia hiburan tanah air, ketika ikut dalam teater musikal, Gita Cinta The Musical. Walau peran yang ia dapat hanya peran kecil, pengalaman yang ia dapat begitu berarti. Gemblengan Ari Tulang yang terkenal keras dan disiplin sebagai koreografer dalam teater musikal itu, membentuk Tanta.
Setelah itu, ia kembali terlibat dalam pertunjukan Musikal Laskar Pelangi serta Ali Topan The Musical. Hebatnya, dalam pertunjukan yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata itu Tanta langsung mendapat salah satu peran utama. Kesempatan ini tak ia sia-siakan. Demi tampil all out, Tanta belajar mendalami sebuah peran. Hasilnya cukup memuaskan, penampilannya banyak mendapat pujian. ”Saat itu ayah saya mulai ’luluh’ karena gema Laskar Pelangi lumayan besar, bahkan sempat tampil di Singapura,” ujar pria berdarah Karo ini.
Terlibat dalam teater musikal di awal karier menjadi ’sekolah’ bagi Tanta memasuki dunia akting. ”Selama enam bulan persiapannya, kami belajar banyak hal. Kami digodok gila-gilaan oleh profesional,” ungkapnya. Tak sia-sia, lewat akting yang terasah pulalah akhirnya Tanta berhasil membangun kepercayaan diri dan mengalahkan ’kekurangan’ pada dirinya.
”Soal tinggi badan sempat menjadi masalah buat saya saat casting. Banyak yang mengatakan, ’Coba kamu lebih tinggi...’ Ini memacu saya untuk membuktikan akting saya bisa mengelabui, menutupi kekurangan saya. Dan ini bisa saya buktikan di film Soekarno. Lewat peran Sutan Sjahrir, saya berhasil membuktikan bahwa akting saya bisa membuat orang memperhatikan saya. Terbukti, sejak itu berbagai tawaran datang,” ujar pria bertinggi 165 cm ini.
Walau belum bisa mewujudkan impian menjadi musikus, sekarang ia merasa beruntung. Setelah aktingnya diakui, kini ia bisa lebih bebas melakoni peran apa saja. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa jadi apa saja, termasuk peran mellow yang mengharuskannya menangis. (f)


