<< cerita sebelumnyaKejadian itu sudah sebelas tahun lewat, satu tahun setelah kelahiran Asa, ketika dia mengambil cuti satu semester, namun kemudian berlanjut hingga seterusnya. Saat itu dia merasa tak bisa lagi menyisihkan waktu untuk buku-buku teks dan persiapan ujian. Padahal, Soni tak pernah memintanya berhenti. Dia sendiri yang mau. Meski begitu, ada kalanya dia menuduh Soni mementingkan diri sendiri dan tak mau melihatnya jadi pintar, yaitu ketika mereka bertengkar karena satu atau lain sebab. Biasanya, setelah keributan itu, yang ditandai dengan air mata Ana dan membisunya Soni selama beberapa hari, dia akan kembali mengkaji semuanya.
Tidak adil menyalahkan Soni atas keputusan yang diambilnya sendiri. Soni tak memercayai pembantu, yang tak cukup berpendidikan maupun memiliki standar tertentu dalam mengasuh anak. Jika Ana memang mau kembali kuliah, dia menghendaki Asa diasuh ibunya. Itu berarti mereka harus kembali ke rumah orang tua Soni. Jadi, Ana memutuskan memperpanjang cutinya sampai Asa cukup besar untuk diajak bepergian dan dititipkan di rumah neneknya, tanpa terlalu merepotkan.
Saat itu tak pernah datang. Karena, dua tahun kemudian Johan lahir. Ruang kuliah sudah teramat jauh, namun dia tak lagi menyesal. Dengan dua anak seperti mereka, tak ada penyesalan apa pun yang patut dirasakan. Dan lagi, jauh di sudut hatinya, dia harus mengakui, minatnya untuk meneruskan belajar sudah telanjur melembek. Sekali lagi, dia tidak menyesal gagal menjadi doktoranda dan sebagai gantinya memperoleh seorang suami dan dua anak yang manis-manis dan predikat ibu rumah tangga.
Ana menghela napas, lalu berpaling. Pria itu sedang melangkah di atas pematang, beberapa belas meter dari tempatnya berdiri. Dia tidak mendengar suara langkahnya, hanya begitu saja menoleh, seolah bisikan gaib yang tak diketahui dari mana bermula, telah memanggilnya. Sekali lagi dia menghela napas, lalu berpaling ke arah lain, agar tak dikira sengaja menunggunya. Dia tak mau Heru berpikir begitu.
“Hai.” Heru berhenti beberapa langkah darinya.
“Hai,” balas Ana. Mereka bertukar pandang, tersenyum.
“Kau mencari sesuatu?”
Ana terperanjat. “Mencari sesuatu? Ah, tidak..., tidak.”
“Aku melihatmu lama berdiri di sini. Kupikir, mungkin ada yang kau cari, kalau-kalau ada yang bisa kubantu,” Heru menjelaskan.
“Aku mencari pelangi,” katanya, sekonyong-konyong, gugup.
Sesaat dia mengira Heru akan tertawa dan dia menyesal mengatakannya. Tapi, Heru tidak tertawa. Wajahnya biasa-biasa saja, seolah dia baru mendengar seseorang hendak mencari belut di sawah, atau ingin menemukan satu judul buku di perpustakaan, atau hal-hal lain semacam itu, dan bukannya sesuatu yang bagi kebanyakan orang lain bisa menimbulkan keheranan, bahkan juga Soni. Stop! Ana menghentikan pikirannya sampai di sini.
Heru mendongakkan kepalanya ke arah barat. “Cuacanya kurang cocok. Kurasa, agak terlalu mendung untuk bisa melihat pelangi.”
“Ya, mungkin. Aku hanya… hanya untung-untungan saja.”
“Aku mengerti. Dari tempat ini, pelangi memang terlihat indah sekali, benar-benar menakjubkan. Aku jadi paham, kenapa orang-orang zaman dulu beranggapan, pelangi adalah jembatan yang menghubungkan dunia ini dengan negeri tempat tinggal para dewa. Para bidadari turun untuk mandi di sebuah telaga, yang tak diketahui manusia. Walaupun waktu berlalu dan ilmu pengetahuan memetik banyak keajaiban, menelanjangi semua misteri, mengupas begitu banyak rahasia, dia tak berkuasa memenjarakan imajinasi kita. Syukurlah.”
“Iya, tampaknya begitu.” Ana tersenyum lega. Sesaat dia memikirkan kata-kata Heru. Pria yang bisa menikmati pelangi dengan perasaan demikian, pasti tak memandang seorang wanita yang ingin melihat pelangi sebagai fenomena ajaib. Kenyataan itu menenteramkan. Perasaan canggung memudar digantikan sedikit kehangatan. Dengan sudut matanya dia memerhatikan pria di sampingnya. Celananya basah, digulung sampai sebatas lutut. Mungkin dia turun ke sungai. “Kau sendiri, apa yang kau lakukan?”
Heru ikut menunduk, memandangi kakinya sendiri, mengangkat bahu.
“Aku sedang mencoba, mungkin bisa menemukan katak hijau.”
Ana diam, tak mengerti.
Heru menjelaskan, “Untuk bahan praktikum. Sebenarnya, lebih gampang mencarinya pada malam hari. Tapi, akhir-akhir ini hujan deras selalu turun. Aku belum dapat seekor pun, padahal besok kami memerlukannya.”
Ana tersenyum. “Aku pernah berpikir, bagaimana rasanya siuman dari kloroform di dalam tempat sampah dengan perut robek dan isi badan keluar. Lalu, aku ingat, tak ada makhluk yang bisa bertahan hidup dengan usus putus, ginjal pecah, jantung sobek, atau bahkan salah satunya saja. Jadi, binatang-bianatang itu tak usah merasa kesakitan sesudahnya, bukan?”
“Kau memelihara binatang?”
“Hanya seekor kucing. Kenapa?”
“Kau punya perasaan halus. Hanya karena rasa sayang, orang bisa memikirkan perasaan pihak lain dan memprihatinkannya, walau hanya terhadap binatang. Kadang-kadang, kita menyebut hal itu sebagai rasa kemanusiaan, tapi menurutku, itu adalah kasih sayang.”
Ana memikirkan hal itu beberapa saat, kemudian tersenyum lemah. “Aku tak pernah merasa diriku ini penyayang binatang. Bahkan, belum pernah memikirkannya. Dalam daftar menuku selalu tersedia daging dan ikan. Saat memasaknya, aku tak sempat memprihatinkan bagaimana perasaan mereka. Ketika memakannya, aku pun tidak merasa berdosa telah mengambil kehidupan mereka demi kelangsungan hidupku sendiri.”
“Begitu juga ketika aku membedahnya di laboratorium. Berdalih demi ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya demi kesejahteraan umat manusia juga. Demi itu, apa pun tampak jadi benar dan layak dilakukan. Tidakkah menurutmu manusia itu makhluk yang mahasombong?”
Ana agak terkejut mendengar nada sarkastis dalam suaranya.
Heru berpaling padanya, menyadari keheningan yang sesaat dihadirkan Ana. Dia tersenyum sekilas. “Mungkin, itu hanya pemikiranku saja.”
Ana membalas senyumnya, juga hanya sekilas. Kakinya bergerak, memindah tumpuan berat badan, menimbulkan suara berkeresek lembut yang hanya tertangkap telinganya sendiri. “Aku tidak tahu, entahlah. Memang, aku pernah mendengar sesuatu. Tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah, yang harus menyejahterakan bumi. Jauh sebelumnya, Tuhan menawarkan amanah itu pada makhluk lain. Namun, hanya manusialah yang bersedia menerima, lengkap dengan segala konsekuensinya. Sesungguhnya, aku tak tahu banyak tentang hal seperti itu. Jadi, mungkin kata-kataku kurang tepat.”
Sedikit mengernyit, Ana melanjutkan, “Pada kenyataannya, memang hanya manusia yang mampu dan harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan planet kecil kita ini. Jika kemudian hal itu dilakukan dengan cara manusia, ukuran manusia, dan pada ujungnya adalah mengutamakan kepentingan manusia, bukankah itu sangat masuk akal? Atau, apakah itu disebut kesombongan juga?”
“Jika itu dipakai sebagai dalih, menurutku, ya.”
“Tapi, kau tadi bilang, pembedahan itu demi ilmu pengetahuan.”
“Aku juga termasuk di dalamnya.”
Ana terdiam, memikirkan fakta kecil itu. Sulit baginya membayangkan kegiatan yang biasa-biasa saja di dapurnya sebagai wujud dari kesombongan manusia. Di lain pihak, jika memikirkan bahwa semua itu dilakukan dengan begitu santai, tanpa merisaukan berapa banyak yang telah diambil dari alam, dirusak, dimusnahkan, dan kemudian dibuang tanpa penyesalan, dia mengerti betapa remehnya manusia memandang sesuatu di luar dirinya sendiri.
Bahkan, sebutir nasi dalam rice cooker-nya telah melewati serangkaian proses itu, mulai dari pupuk kimia, pestisida, hutan-hutan yang makin berkurang, sampai pada menghilangnya entah berapa spesies tetumbuhan dan hewan lokal. Kenyataannya hal itu terasa layak dan wajar saja.
Heru menghela napas. “Sebetulnya, aku sering lupa bahwa katak atau kadal adalah makhluk hidup juga, bukan sekadar preparat. Makin lama di laboratorium, makin sering pula aku lupa. Mungkin, perasaanku jadi kebal. Bahkan, sesuatu yang paling sensasional sekalipun, akan menjadi biasa-biasa saja, bila terlalu sering ditemui, dan kita tak lagi tersentuh karenanya. Manusia mempunyai kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Menakjubkan memang. Tapi, terkadang juga menakutkan. Jadi, sesekali aku pergi ke luar, melihat bagaimana mereka hidup di rumahnya sendiri. Mungkin, dengan begitu aku bisa lebih menghargai mereka, sambil tetap memburunya untuk kepentinganku sendiri. Sombong sekali, ’kan?”
Ana membayangkan Heru di laboratorium sekolahnya dengan lab jas putih, berdiri di depan murid-muridnya, yang siap dengan pisau bedah dan seekor katak telentang di atas meja porselen. Dia pasti memulai acaranya dengan berdoa lebih dulu, dia yakin akan hal itu, lalu berkata dengan serius bahwa pembedahan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab, yang mereka bedah bukan sekadar preparat tak berharga, namun makhluk hidup yang telah memberi andil bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan karena itu tidak pantas disia-siakan.
Tanpa terasa bibirnya mengulas senyum, “Kau tidak terdengar sombong.”
“Lalu, terdengar bagaimana? Sok?”
Terdengar menakjubkan, pikir Ana. Sedetik kemudian dia terkejut sendiri dengan pikirannya. Dia terperanjat mendapati dirinya dengan mudah menggunakan kata takjub untuk merefleksikan pendapatnya tentang Heru. Dengan spontan pula. Sesaat dia panik. Saat berikutnya barulah dia ingat bahwa pengakuan itu belum lagi keluar lewat mulutnya. Tapi, apalah bedanya? Dia telah mengakui bahwa seorang pria, yang bukan suaminya, ternyata bisa menakjubkan. Dipandanginya ujung jari kakinya yang terbenam di antara rumput pematang, ramping dan jernih. Namun, saat ini dia tak hendak mengagumi diri sendiri.
Sesaat kemudian barulah dia sanggup bicara. “Aku jadi mengerti, kenapa kau aktif di pramuka dan juga bersedia mengajar di Timor Timur.”
“Waktu itu aku masih muda.”
“Oh, jadi sekarang kau sudah tua?” Ana tertawa.
Heru membalas tawanya dengan ringan. “Setidaknya lebih tua daripada sepuluh tahun lalu.”
“Jadi, andai waktu itu kau lebih tua, atau lebih realistis mungkin, kau takkan menerima penugasan ke sana?”
“Belum tentu juga. Pada kenyataannya, menjadi pengangguran adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Hal yang tak begitu kurasakan waktu itu, tapi kusadari benar sekarang. Jadi, meski dengan alasan dan pertimbangan yang lebih praktis, kurasa aku tetap akan pergi. Sepertinya, itu sudah jadi takdirku.”
Suara Heru sedikit menurun di akhir kalimat.
Ana memandangnya, “Beratkah keadaan di sana?”
Heru tersenyum, “Tidak juga. Setidaknya, hanya tahun-tahun awal yang agak sulit. Selanjutnya berjalan lebih menyenangkan, sampai….” Sampai Hesti pergi. Dia mengangkat bahu, “Sampai aku pindah kemari.”
“Begitu? Kedengarannya tak seburuk yang pernah kudengar.”
“Apa yang pernah kau dengar?”
“Oh, tak sebagus ceritamu. Tapi, itu barangkali karena aku mendengarnya dari keluarga tentara yang pernah bertugas di sana. Dia gugur dalam sebuah patroli di pedalaman. Jadi, ceritanya mungkin lain dengan cerita pendatang dari kalangan sipil.”
“Aku pernah mengalami hal yang tak terlalu menyenangkan. Tentang perasaan tidak diterima dan tak disukai. Aku barangkali lebih beruntung, karena kemudian menikah dengan gadis setempat, dan tinggal di lingkungan yang kita menyebutnya pro integrasi. Namun, belakangan hal itu pun tidak menolong, kalau tak bisa disebut lebih buruk lagi. Baik bagi mereka, apalagi pendatang-pendatang sepertiku. Jadi, kami harus menyingkir bila masih ingin selamat. Aku dan putriku….”
Penulis: Wahyuni Sayekti Kinasih
Pemenang Pertama Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


