<< cerita sebelumnyaSuatu pagi Heru mendapati dirinya jatuh cinta pada seorang wanita dan pada pagi lain tiba-tiba dia menjadi pria paling getir di dunia, karena wanita yang sama. Sekarang, sambil mengendarai motor di jalan kecil yang membawanya ke suatu tempat baru, tugas baru, dan orang-orang baru, Heru masih pria yang sama seperti enam tahun lalu, ketika dia meninggalkan rumah sakit dengan predikat baru di pundaknya. Duda.
Dia mulai memasuki rimbunan pohon-pohon pertama perkampungan itu. Jalan yang dilaluinya menikung ke kanan, menyusuri pinggir lapangan bola, yang pada saat-saat tertentu kelihatannya dimanfaatkan sebagai tempat penggembalaan kambing. Menurut cerita yang didengarnya sepintas, pada mulanya daerah itu merupakan kompleks pabrik gula dari masa sebelum perang kemerdekaan. Setelah dibumihanguskan, saat ini nyaris tak bersisa apa pun, kecuali reruntuhan pagar yang pernah mengelilingi suatu kawasan. Sebagai gantinya, di bekas lokasi pabrik kini berdiri bangunan dua lantai berbentuk huruf U yang cukup megah. Gedung tempatnya mengajar nanti.
Dilewatinya pohon beringin raksasa, yang menunggui sebuah simpang empat, berbelok ke kanan, melintasi jembatan yang melintang di atas sungai berarus deras, lalu tiba di sebuah pertigaan.
Los-los pasar di seberang tampak sunyi pada pukul lima sore ini. Sebagian toko di sebelah kirinya telah menutup pintu. Jalan lurus di hadapannya akan sampai ke daerah perbukitan, menyusuri tepi-tepi ladang sunyi, dan setelah beberapa kilometer yang berliku-liku, akhirnya muncul kembali di jalan lingkar Yogya selatan. Dia memilih jalan yang mengarah ke kiri, meski sebenarnya bisa berjalan lurus. Pada gang pertama nanti, dia harus berbelok ke kanan, meneruskan perjalanan kira-kira 200 meter, sebelum akhirnya sampai di rumah pondokannya.
Sekonyong-konyong dia menginjak rem, menoleh ke belakang, melihat jalan lengang di belakangnya, lalu dengan gesit memutar motor kembali menyusuri jalan yang tadi dilewati. Tidak sampai 50 meter kemudian, dia berhenti. Sebuah papan putih panjang tergantung pada tiang besi di pinggir jalan, dengan huruf-huruf yang dicat warna biru mencolok: WARTEL.
Dia muncul dari tahun-tahun terlupakan
Ana mengangkat muka, ketika pintu wartelnya didorong dari luar. Udara dingin berhembus masuk dan dia melihat seorang pria berjaket biru, lebih biru dari kusen pintu dan jendela di sekitarnya, melangkah masuk. Pria itu tidak memandangnya. Matanya bergantian menjenguk pintu kaca, yang menyekat dua bilik kecil di ujung ruangan. Dengan cepat dia tahu kedua bilik itu kosong, memilih yang terdekat, lalu hilang di dalamnya. Pintu menutup tanpa suara.
Kembali mata Ana menyusuri baris demi baris artikel yang tengah dibacanya. Dia menyesali sore yang membosankan, ketika seharusnya dia sudah mandi dan berdandan rapi, duduk menemani anak-anak menonton televisi. Tapi, karena Eni minta izin pulang cepat, dia harus menggantikannya menjaga wartel. Cuaca sangat tak bersahabat. Pukul sekian biasanya ada beberapa remaja yang menghabiskan uang saku untuk ngobrol dengan teman atau pacar. Namun, sore ini agaknya mereka memilih tinggal di rumah, menonton televisi, ditemani teh dan pisang goreng buatan ibu.
Lima menit kemudian printer di mejanya berbunyi. Pintu kaca itu kembali membuka tanpa suara dan pria berjaket biru melangkah ke mejanya, juga tanpa suara. Ana menyobek bon (walau menurut suaminya itu merupakan pemborosan kertas), menyebut jumlah uang yang harus dibayar, lalu sambil tersenyum dia mendongak untuk memberikan kertas itu pada pengunjung wartel. Untuk pertama kalinya dia bisa mengamati pria itu dengan jelas.
Wajahnya yang tirus tengah menunduk ke arah dompet di tangannya. Rambut tidak rapinya melekat acak-acakan di kepalanya yang basah. Jaket yang membungkus tubuhnya terkancing hingga leher. Dia memakai jeans yang telah pudar warnanya dan menempel ketat pada pinggulnya. Sebuah ransel memberati punggungnya.
Pria itu menyodorkan selembar sepuluh ribuan. Tetap bisu. Ana menerimanya dengan segan, mencari-cari kembalian di laci, lalu dengan pelan mengulurkannya. Tangannya bersentuhan dengan ujung-ujung jari kurus panjang yang terasa keras dan dingin di ujung jarinya sendiri. Dia menghela napas panjang. “Heru?” tanyanya, sangsi.
Mata mereka bertemu. Ana tersenyum, hampir tersipu-sipu.
Pria itu jelas terkejut. Namun, Ana menemukan kembali keberanian dan kepastiannya. “Lupa padaku? Ana Murti. Kita ketemu di kegiatan pramuka.”
“Ana Murti...,” Heru memacu ingatannya. Pramuka. Sesuatu yang masih berbau kampus, sesuatu yang terletak lebih jauh dari sepuluh tahun. Sesuatu... dia menemukannya. “Ah, ya. Bahasa Indonesia, angkatan ’84, ’kan?”
Dia memerhatikan wanita di depannya. Dia dan Ana Murti tak pernah terlalu akrab. Beda jurusan, beda gaya dan lingkar pergaulan, jarang bersama di luar kegiatan yang merupakan satu-satunya titik temu mereka: pramuka. Seingatnya, Ana termasuk satu di antara mahasiswi populer di kampus. Sekarang pun masih tetap kelihatan cantik. Hanya sedikit lebih berisi.
Ketakpedulian perlahan meninggalkan dirinya. Hampir tanpa sadar tangannya terulur. Ana berdiri. Mereka berjabatan. Saling tersenyum.
“Hampir saja aku tak mengenalimu,” kata Ana.
“Apalagi aku,” balas Heru. “Sudah lama sekali kau menghilang.”
“Semester enam,” gumam Ana. Sejenak dia ingat undangan yang dialamatkan ke sanggar. Beberapa teman datang ke pesta perkawinannya, tak termasuk Heru. Ah, tapi itu sudah lama sekali.
Pada saat itu Heru teringat hal yang sama. Seketika itu pula dia berkata, “Maaf, aku tak dapat datang ke pernikahanmu.” Nadanya sungguh-sungguh, penuh permintaan maaf.
“Ah, tak apa. Sudah lama, ya? Sejak itu kita tak pernah ketemu lagi.”
“Ya,” sahut Heru, “Sudah lama.”
Dengan kata-kata itu mereka memasuki pembicaraan bertema nostalgia. Ada banyak kata ’ingatkah’ terlontar dan pertanyaan ‘bagaimana kabar’ terdengar. A dan B bekerja di sana. X tak ada beritanya. Ya betul, ujian Pancasila selalu sama tiap tiga tahun. Dosennya betul-betul pemalas. Kenangan-kenangan kecil diingat lagi dengan rasa geli. Beberapa rahasia konyol terbongkar. Mereka tertawa bersama.
Untuk pertama kali dalam lima tahun ini Heru melewatkan lima belas menit yang menyenangkan, bicara dengan orang yang mengenalnya sebagai Heru dan bukan Pak Heru, melupakan umurnya yang 35 lebih dan bahwa beberapa menit yang lalu dia masih merasa terdampar sendirian di dunia yang menjemukan.
“Kau tak meneruskan?” tanyanya kemudian, kembali ke masa kini.
Ana menggeleng. “Sibuk,” jawabnya. Klise dan tak meyakinkan. Lalu, dia tersenyum. “Aku punya dua anak yang menyibukkanku setiap saat, di samping seorang suami. Sekarang mereka sudah agak besar. Jadi, aku punya lebih banyak waktu untuk melakukan berbagai hal, misalnya menunggui wartel ini. Tapi, sewaktu anak-anak masih kecil, rasanya, untuk bernapas pun kekurangan waktu.”
Heru membalas senyumnya. “Aku mengerti.”
“Lalu, bagaimana denganmu? Kudengar kau dikirim ke luar Jawa. Kenapa tiba-tiba muncul di sini dalam cuaca seperti ini?”
“Aku akan mengajar di sini.” Dengan kepalanya Heru membuat suatu gerak isyarat.
“Oh, di SMP itu? Kebetulan sekali. Anak sulungku bersekolah di sana. Ngomong-ngomong, berapa anakmu sekarang? Kau sudah punya anak, ’kan? Jangan mengaku masih bujangan, sebab tak kan ada yang percaya,” Ana mengatakannya dengan nada bercanda.
Heru menanggapi dengan serius, “Anakku satu, perempuan.”
“Berapa umurnya sekarang?”
“Hampir enam tahun.”
“Sudah besar. Pasti cantik sekali.”
Heru tersenyum sekilas. “Aku ayahnya. Bagiku memang begitu.”
Ana tertawa kecil. “Lalu, bagaimana dengan ibunya?”
Heru punya tiga pilihan. Berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu, atau menjawab dengan nada santai bahwa ia sekarang menduda, atau... dia memilih jalan ketiga.
“Dia sudah meninggal.” Heru mengatakannya dengan tenang.
Sesaat Ana tertegun. “Maaf,” akhirnya dia bergumam, menyesal.
“Tidak apa-apa.”
Mereka terdiam dengan canggung.
Pria ini belum sembuh, pikir Ana, sambil menembuskan pandangannya melewati kaca jendela. Dia masih berkabung. Sudah berapa lamakah dia ditinggalkan? Ana jadi ingin tahu, seperti apa wanita yang pernah jadi istrinya. Di luar keinginannya, dia bertanya-tanya dalam hati, seandainya dia yang mati mendahului Soni, apakah suaminya itu juga akan patah hati?
Heru memperbaiki berpaling. “Sebaiknya aku pergi.”
Dari balik kaca, titik-titik air yang halus tampak berjatuhan dari langit di luar sana. Entah sejak kapan hari telah makin gelap. Daun-daun talok bergoyang lembut dipermainkan angin.
“Tunggu saja sampai hujan reda, Her.”
Heru menggeleng. “Aku bawa mantel. Lagi pula...,” dia menambahkan, sambil tersenyum menenangkan, “sudah dekat. Yuk....”
Diberinya Ana sebuah anggukan ringan, lalu berbalik.
Ana mengawasinya melintasi ruangan, membuka pintu, menutupnya tanpa suara, lalu menghampiri motornya yang diparkir di bawah naungan pohon talok. Masih melalui pintu dan jendela-jendela kaca, Ana melihatnya membenamkan helm ke kepala, menyalakan mesin motor dalam sekali tarikan. Lalu, dengan suara lembut, motor itu membawa pengendaranya menembus gerimis dalam kesuraman ujung senja. Dia tidak memakai jas hujan.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi sangat sunyi. Perlahan Ana keluar dari balik meja. Baru disadarinya kakinya sangat pegal. Dia dan Heru bicara sekian lama, sambil berdiri. Dia menyesal. Seharusnya, dia mengajak Heru duduk. Seharusnya, dia menyuguhkan secangkir teh. Seharusnya, dia menahannya sampai hujan reda. Seharusnya.... Ada banyak ‘seharusnya’, sedangkan kenyataannya dia hanya mengajaknya ngobrol dengan kondisi seadanya, lalu membiarkannya pergi di tengah gerimis.
Penulis: Wahyuni Sayekti Kinasih
Pemenang Pertama Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


